Gen-ACI Parenting Center
627 subscribers
3 photos
2 links
Channel inspirasi & Ilmu Parenting
Download Telegram
BUKAN LAGI ANAK MANJA



Begitu masuk usia sebelas tahun Gadis “kedatangan bulan”, perasaannya diselimuti kegelisahan,pikirannya kacau, bingung harus bagaimana ketika melihat ada darah yang keluar dari farjinya. Apa yang harus dilakukan, kenapa bisa terjadi seperti ini, umur saya masih sangat muda baru kelas 5 SD dan orang pertama yang mengalami haidh.

Dan yang paling suprise disertai menegangkan saat haidh datang tanpa persiapan apa-apa, khususnya bagaimana mensucikan pakaian dalam yang kena darah, jijik rasanya.

Beda dengan anak di atas, yang ini begitu melihat darah yang keluar langsung peluk bundanya sambil menangis tersedu-sedu dan lama baru reda, galau rasanya menghadapi sisi kejiwaan seperti ini, khawatir tidak bisa menjadi hamba yang baik,karena seluruh amal harus dipertanggungjawabkan,lemes ini sekujur tubuh hilang gairah berhar-hari memikirkan pahala dan dosa. Apalagi bunda membisiskkan, “Mulai hari ini dirimu menanggung pahala dan dosa sendiri.” Duh, semakin resah jiwa. Bagaimana dengan shalatku yang masih asal, bagaimana dengan jilbabku, pergaulan, ibadah lainnya yang masih sedikit?
Juga ada anak yang pertama kali mengalami haidh setiap kali ganti pembalut, selalu minta dicucikan pembantu karena tidak mau mengurusi bekas darah,jika pembantu tidak ada itu pakaian dalam bisa berhari-hari di kamar mandi. Karena bundanya tak cukup  waktu karena kesibukan untuk mendampingi ananda selama proses haidh berlangsung.

Lain anak perempuan lain pula dengan anak laki-laki ketika mengalami ihtilam meski sudah mendapatkan gambaran ciri-cirinya juga masih ragu apakah ini yang dinamakan mimpi, apakah ini yang disebut air mani, atau ini hanya cairan biasa, duh apakah aku sudah dewasa ataukah masih disebut anak-anak ?

Yang di atas itu potret kegelisahan anak yang baru dewasa ketika mengalami menstruasi atau mimpi pertama kali,namun sang ibu jauuuh lebih gelisah jika mengalami anak perempuannya haidh tanpa terduga dan tidak sesuai perkiraan umur yang dibayangkan sementara orang tua tak cukup memberikan persiapan, baik itu perkara keimanan, pemahaman tsaqafah islam dan wawasan seputar haidh. Semakin terasa besarnya kesalahan saat di usia yang sudah dewasa itu berpikir dan berprilaku ananda masih kanak-kanak.

Apalagi menghadapi anak laki-laki tentu ibu seringkali sulit mendeteksi dan intervensi. Saat ihtilam jika anak tidak tebruka mungkin luput dari perhatian ? Shalat subuh saja masih dibangunkan, ke mesjid sekali-kali, belum bisa cuci baju sendiri, pulang sekolah sepatu masih dimana, tas dimana, seragampun masih dirapihkan mama.

Ihtilam bagi anak laki-laki disertai tumbuhnya rambut di seputar kemaluan dan haidh bagi anak perempuan atau ada tanda kehamilan adalah ciri anak sudah dewasa dan mukallaf menanggung beban hukum-hukum syara’. Dalam konsep pendidikan sekuler tidak mengenal standar dewasa seperti ini, maka tidak pernah menyiapkan kurikulum konsekuensi pertanggungjawaban terhadap Allah swt.

Karenanya tidak heran jika di Sekolah Dasar di Indonesia anak-anak yang mengalami menstruasi masih disebut anak-anak hingga mereke usia 18 tahun mengikuti konsep anak di dunia. Ini menyesatkan dunia pendidikan dalam Islam. Tidaklah salah jika kita mengatakan anak-anak kita masih berprilaku manja dalam kesehariannya, masih merepotkan keluarga dan banyak orang, tidak mandiri dan cendrung tidak bisa mengurusi diri sendiri,padahal semua itu tidak perlu terjadi.

Seharusnya jika proses pendidikan Islam sesuai target,maka usia 10 tahun anak sudah memiliki kepribadian Islam, memiliki kecerdasan berpikir islami dan kesalehan jiwa dan sejumlah keterampilan hidup untuk memimpin dan kemandirian. Sehingga saat anak mengalami baligh pertama tidak perlu ada episode kegalauan tapi yang ada adalah kepercayaan diri sebagai manusia dewasa yang sudah memahami segala konsekuensi dari keimanan. Kalau tohpun ada kegalauan itu bisa segera dikendalikan sebab sudah cukup tsqafah Islam dalam benak dan memiliki habit yang baik dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah swt sejak rentang usia 7-10 tahun.
Jadi kesiapan anak pasca baligh sangat ditentukan pendidikan anak di usia prabaligh, saat usia dini maupun usia mumayyiz. Kesuksesan pedidikan di usia prabalgh sangat menentukan kesiapan anak saat dia di usia baligh. Maka orang tua harus mengoptimalkan diri mendidik anak-anak prabaligh dan harus tuntas di setiap target yang diinginkan syariah Islam terhadap anak baik pola berpikir Islami maupun pola sikap islami.

Jika udah ditentukan maka anak yang tadinya manja, pas fase baligh tidak lagi, justru tidak hanya pandai mengurusi urusan dirinya tapi juga kreatif mengurusi urusan orang lain dengan Islam.

Adapun yang harus dimiliki anak pas baligh adalah :

1. Memiliki kepribadian Islan

2. Memiliki hafalan Alquran yang banyak sebagai ma’lumah sabiqah yang dipakai untuk menilai benda, perbuatan dan pemikiran.

3. Memiliki tsaqafah dasar berupa aqidah Islam, Fiqh, Tafsir, Ilmu Alquran,Ilmu Hadist, Siroh Rasulullah saw, Bahasa Arab, tarikh muslim, Ushul Fiqh

4. Memilik lifeskil yang  didapatkan dari ilmu math, Sains dan Geografi, Komputer,berenang, berkuda, memanah, dasar-dasar baris berbaris dll.

5. Memiliki jiwa kepemimpinan.

Semua dituangkan dalam kurikulum dan kurikulumm tersebut harus dikuasai oleh orang tua dan guru agar anak mendapatkan haknya untuk menjadi sosok pribadi islam yang tangguh, sosok imam dalam ketakwaan dan sosok umat terbaik di usianya.

Wallaahu a’lam bishowab


Source: channel telegram parenting



#trainer pendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
MENJAGA LISAN ANAK



Seringkali kita menyaksikan anak-anak  lisannya jorok dan kotor, jauh dari perkataan-perkataan yang terpuji. Bahasa-bahasa tiruan ataupun ciptaan anak terlontar begitu saja tanpa merasa ada yang salah. Mencaci sesama teman, mencela teman, menjuluki nama-nama yang buruk pada teman, maaf misalnya anjing, monyet, si kurus, si gendut dll menjadi perkara yang biasa. Tidak dipungkiri meski memang temannya gendut tidak rela disebut gendut atau meski temannya kurus tidak rela disebut kurus apalagi julukan-julukan lainnya yang menyakitkan hati jadilah bermusuhan.

Parahnya ada berkelompok kelompok anak seusia SD, SMP dan SMA memanggil nama-nama binatang sesama mereka tanpa ada yang sakit hati karena mereka adalah sesama. Namun kita sebagai orang tua gerah mendengarkannya, pastinya anak-anak tersebut tidak pernah dididik lisannya mengatakan hal-hal yang baik, terpuji dan ahsan.

Anak-anak yang seperti ini akan menciptakan lingkungan yang rusak di masyarakat. Setiap anak yang masuk lingkungan itu yang notabene juga ada di sekolah-sekolah formal akan terbawa dengan bahasa-bahasa celaan tersebut. ini pulalah yang membuat galau orang tua memasukkan anak di lingkungan yang tidak kondusif, khawatir anak yang sudah dijaga dengan baik jika berada di lingkungan anak-anak tercela tersebut pulang-pulang membawa bahasa-bahas yang tercela pula.

Ada beberapa hal benteng untuk menjaga anak-anak agar berkata dengan perkataan yang terpuji dan ahsan :

1. Anak harus dibekali tarkiz aqidah islam yang kokoh sehingga anak terbiasa lisannya dalam kesadaran berhubungan dengan Allah berikut beramal juga didorong karena idrak shillah billah.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam

2. Bekali anak dengan kekayaan tsaqafah islam, untuk menimbang segala sesuatunya termasuk lisannya dengan timbangan syariah islam dan memiliki akhlak terpuji dan memiliki adab sopan santun yang mulia.

3. Ketaatan penuh pada hukum-hukum Allah, memahami mana lisan yang harus diucapkan dan mana yang tidak untuk menyelamatkan orang lain.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya”

4. Muraqabatullah, anak yang senantiasa hidup akal dan hatinya pada pengawasan Allah tidak akan mau berkata sembarangan, karena dia yakin setiap kata akan dicatat. muliakan yang ada di kiri dan kanannya akan sibuk mencatat setiap apa yang dikeluarkan oleh lisannya.

Allah juga berfirman.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]

5. Memberikan tauladan yang baik dalam berkata oleh orang tua langsung. Ingatah lisan orang tua adalah pembentuk langsung aqliyyah anak, maka penuhilah lisan-lisan orang tua dengan muatan tsaqafah islam, motivasi-motivasi ruhiyyah dan bahasa-bahasa aqidah Islamiyyah.

Maka dengan demikian anak-anak penghafal Alquran akan memahami bahwa melantunkan ayat-ayat Alquran akan membuat lisannya terjaga. Mereka lebih baik membaca Alquran ketimbang harus berbicara yang tercela, menggibah, dan tidak ahsan.
Sejatinya para penghafal Alquran itu dapat mengungkapkan bahasa-bahasa Alquran dalam kehidupan mereka pun ketika mereka berada di tengah-tengah teman dan masyarakat.

Namun ini butuh kerja sungguh-sungguh bagi orang tua dan guru untuk membiasakan lisan-lisan Alquran ini hidup di tengah-tengah anak-anak kita dan perlu melatih diri sebaik mungkin agar anak merasakan betapa lisan tertinggi bagi mereka itu adalah lisan Alquran, lisan yang menyeru manusia di jalan Allah swt. Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
JUJURLAH NAK, WALAU KAU SALAH



Seringkali kita melihat tingkah polah anak sangat menyenangkan dan membahagiakan, bahkan kelihatan kecerdikannya sejak kecil. Namun sering juga kita mendapatkan anak yang pandai dalam bersilat lidah untuk menutupi kesalahannya dan tidak mau mengakui kesalahan malah menimpakan kesalahannya pada orang lain.

Pada kondisi seperti ini terkadang orang tua menanggapi sebagai suatu kelucuan karena anak pintar berkelit, kelihatan cerdas dan tidak mau kalah. Ini memang naluriyyah karena manusia itu sangat sulit mengakui kesalahan dan keberatan disalahkan walaupun dia salah.

Kondisi seperti ini memang tidak boleh berkembang karena merusak pola berpikir anak dan merusak jiwa kepemimpinan. Anak usia dini belum memahami mana yang benar mana yang salah kecuali dia diberikan informasi kebenaran dan kesalahan di atas aqidah islam yang kokoh. Sehingga anak terbiasa untuk menuntun berpikirnya secara benar dan landasan aqidah yang dia miliki mendorong dia untuk senantiasa berkata jujur kelak ketika dia sudah dewasa walau dia dalam posisi berbuat kesalahan.

Oleh karena itu perlu membangun berpikir benar ini dalam panggung pembelajaran bersama anak. Menghadirkan 4 unsur berpikir, yaitu melihat fakta secara menyeluruh dan benar, menghindari kesalahan indera dalam mengihsas fakta dan harus dipastikan akurasinya, lalu mengolahnya di dalam otak yang disertai informasi-informasi yang benar yang terkait dengan fakta tersebut. Sehingga mendapatkan kesimpulan yang benar. Berikutnya meletakkan poin-poin penting landasan aqidah  seperti Allah maha melihat, Allah Maha Tahu, Allah tidak pernah tidur dan sebagainya, agar tertanam dalam dirinya senantiasa ada pengawasan Allah dalam setiap amalnya.

Inilah yang mendorong ananda untuk senantiasa berkata jujur, walau dia melakukan kesalahan, anak akan mengakui dan segera meminta maaf atas kekeliruan yang dia buat.

Saat anak berkata jujur dan kita ketahui itu sebuah kesalahan, bijaklah menyikapi dan mintalah seluruh informasi kronologi kejadiannya, jangan segera memarahi. Memarahi akan membuat anak menutup diri untuk menceritakan. Anak yang baik biasanya tidak dalam kesengajaan untuk berbuat salah, namun karena dirinya yang labil kesalahan-kesalahan itu sering terjadi maka disinilah pentingnya keterbukaan dan ibu selalu siap sedia membantu anak untuk lebih dewasa bersikap dan menuntunnya tidak lagi berbuat kesalahan yang sama.

Ada satu kisah seorang anak usia 14 tahun ketika dia berbuat suatu kesalahan, menurut dia kesalahan itulah yang terbesar yang pernah dia lakukan karena dia sudah merasa tidak sopan terhadap guru. Karena saking merasa bersalah diapun bercerita kepada bundanya.

"Bunda, aku sudah berbuat kesalahan, tidak berlaku sopan terhadap guru, pesan bunda sudah aku langgar, maafkan aku ya, kemungkinan aku akan dikeluarkan dari sekolah. Bunda jangan marah ya, aku sudah jujur pastinya aku tetap dapat pahala, sebab orang jujur walau dia salah tetap di surga"

Teringat sebuah hadist:

عَنْ اَبــِى بَكْرٍ الصِّدِّيـْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ، فَاِنــَّهُ مَعَ اْلبِرِّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنــَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النـَّارِ. ابن حبان فى صحيحه

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya]

Mendengar pengakuannya tersebut, bundanya hanya berlapang dada dan mendengarkan dengan sabar kronologinya. Setelah mendengarkan kejujuran ceritanya,  lalu berdoa, “Ya Allah semoga guru tersebut meluaskan dan melapangkan hatinya untuk memaafkan ananda”.


Wallaahu a'lam bishawab

Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Gen-ACI Parenting Center:
📚MEMBANGKITKAN BADMOOD ANAK📚



🍃 Seorang umi mengkonsultasikan anaknya usia menjelang 10 tahun bahwa belakangan ini ananda sering keluar main bersama temannya tanpa izin dan kembali ke rumah hanya pas waktu-waktu shalat setelah itu balik lagi bersama teman-temannya. Belajarnya mulai menurun dan tahfidznya kadang semangat kadang malas, terkadang shalatnya juga sudah mepet-mepet waktu dan mulai tidak serius. Padahal sebelumnya dia anak yang manis, penurut dan fokus belajarnya bagus. Mulai rada gerah dinasehati, sudah ingin mengambil keputusan sendiri dalam pola hidupnya, merasa sudah dewasa dan bertanggung jawab atas dirinya, padahal seringkali dia melakukan kecerobohan, semisal PR kelupaan, pegang ponsel seringkali jatuh, membawa gelas yang berisi air atau susu seringkali tumpah dan seringkali berbuat kesalahan.

📎 Namanya juga anak-anak seringkali tidak bisa mengontrol emosi, kenapa? Sebab anak-anak belum memiliki kematangan tsaqofah Islam yang akan dia jadikan sebagai pemahaman untuk mengontrol amalnya, apalagi kemampuan mengikat pemahaman dengan amal belumlah kuat. Jangankan anak-anak orang dewasa yang yang sudah memiliki tsaqofah yang baik juga seringkali BADMOOD, walau dalam hal ini orang dewasa lebih dipengaruhi godaan hawa nafsu dan bisikan syaitan.

📎 Sebelum kearah membangkitkan badmood anak, terlebih dahulu cari dulu faktor pemicunya, baru dilakukan treatment yang mengarah kepada faktor. Kondisi paling besar dalam mempengaruhi badmood anak biasanya anak mempunyai ketertarikan yang lain sehingga mengganggu fokus semisal memberikan fasilitas HP sepeda, atau yang lainnya. Bila tidak dengan komitmen hal seperti ini bisa merampas dan mengalihkan fokus anak dalam belajar dan beribadah. Sebab ini mempunyai keasikan tersendiri sementara ananda tidak ditumbuhkan rasa tanggung jawab yang memadai sehingga belum saatnya fasilitas itu diberikan.

💡 Bagaimana bunda membangkitkan mood anak dalam kebaikan terlebih dalam ibadah dan keterikatan pada syariah. Ini bukanlah kerja sampingan atau kerja seadanya namun kerja serius dan fokus bagi kita untuk senantiasa mengamati ke arah mana kecendrungan-kecendrungan ananda berkembang. Bila pengaruh tsaqofah Islam lebih mendominasi pemikirannya sebenarnya akan lebih mudah mengarahkannya, membawanya berdiskusi dan mengingatkannya, namun bisa tsaqofah di luar islam lebih dominan cukup sulit bagi kita untuk membenahi apalagi bila yang mempengaruhi itu adalah lingkungan teman dan guru yang tidak memiliki kepribadian Islam, apalagi bila ayah bundanya juga tidak berkepribadian Islam.

📖 Bisa saja orang tua dalam membangkitkan mood anak untuk shalat yang baik misalnya, sekolah dengan baik, bersikap yang baik, tidak konflik dengan adik, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak ahsan dsb orang tua memilih bersikap marah-marah atau mengeluarkan kata-kata yang menyakiti anak, sehingga anakpun menurut, namun bila ananda berada dalam posisi tekanan ananda akan melakukannya pas di hadapan ayah bunda saja, namun bila ayah atau ibunya luput mengamati diapun tidak melakukannya dengan benar. Maka disinilah pentingnya fokus kepada tujuan pendidikan itu sendiri yaitu membentuk kepribadian Islam, pola berpikir dan pola prilaku anak dan kuncinya keterikatan ayah dan bunda dg syariah dalam mendidik.

📖 Berpikirnya harus senantiasa diberi landasan aqidah islamiyyah dengan memberikan informasi-informasi yang wahyu yang memenuhi isi otaknya sekaligus menyentuh naluri beragamanya. Bahkan sentuhan naluri baqo dengan pujian, dihargai, dibangkitkan jiwa berani, kepemimpinanya dsb sangat dibutuhkan. Berikutnya sentuhan naluri nau’ dimana ayah dan bunda menunjukkan bahwa mereka sangat sayang sama ananda, tetap ingin bersama-sama di jalan Allah, kelak ananda yang akan meneruskan perjuangan ayah dan bunda dan harus melindungi adik-adik dsb. Terlepas apakah saat itu ananda akan melakukannya ataukah dia menundanya nanti.

📖 Sisi lain ayah dan bunda tidak perlu terburu-buru menyaksikan hasil agar anak bangkit kembali, bersabarlah sejenak sebab anak juga butuh berproses untuk memahami.
Sepanjang anak belum memasuki usia 10 tahun jangan terburu-buru untuk bertindak fisik, akan lebih arif bila kita segera mencari banyak strategi dalam mendidik agar ananda mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga dari badmood anak. Sekian strategi yang ayah bunda lakukan untuk membangunkan anak OFF nya maka sekian pula ilmu yang ayah dan bunda berikan pada ananda yang kelak setelah bertambah usia anada akan memahami arti dari pendidikan ayah bundanya pada dirinya.


Wallaahu a’lam bisshowab

Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
MENDIDIK ANAK DENGAN FITRAH


📝 Ketika anak belum mau bangun subuh dan sulit bangun, sang ibu dengan lembut membangunkan dan membisikkan di telinga anak, "Bangunlah nak, sudah azan subuh, alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba'damaa amaatana wa ilaihinnusyur."Sang ibu terus membngunkan dengan menyentuh fithrohnya sebagai hamba hingga terbangun dan menuntunnya ke kamar mandi untuk berwudhu. Kebiasaan tersebut terus berulang hingga ada masanya ananda bangun subuh sendiri tanpa dibangunkan.

📝 Ketika ananda tergoda menonton TV dengan tayangan yang tidak bermanfaat, bunda mencoba melarangnya, "Jangan notonton tayangan itu ya nak, karena bisa merusak jiwa dan otak, membuat adik lupa sama Allah, membuat adik malas beribadah dan malas membaca alquran, ganti channel ya yang lebih bermanfaat ya, bunda sayang adik, merasa rugi bila waktu adik terbuang percuma" Saat itu juga sang anak justru mematikan TV, karena tak ada tayangan yang bagus.

📝 Ketika anak menyaksikan ibunya shalat tahajjud lalu berdoa sambil menangis, anak bertanya kenapa bunda menangis? "Bunda takut sama api neraka nak karena banyaknya dosa, bunda bermohon pada Allah agar kelak di masukkan ke surga yang penuh kesenangan dan kebahagiaan. Bunda melakukan shalat wajib juga shalat tahajjud demi berharap dirindukan surga, kita harus taat pada Allah"

📈 Bunda mencoba menyentuh fithroh ananda sambil memeluknya erat. Tak lama kemudian esok harinya, anandapun meminta kepada bundanya, "Bunda besok bangunkan ananda shalat tahajjud, ananda mau masuk surga bersama bunda"

📈 Itu adalah sekelumit kisah menstimulasi berpikir dan naluriyyah anak usia dini. Anak terlahir di atas fitrah yang suci, bersih tak ternoda. Orang tualah yang membuat fitrahnya ternoda, sebagaimana hadist: "Tidaklah seorang anak lahir kecuali dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, atau nasrani atau majusi"

🍃 Fitrah anak itu adalah Islam, Allah berikan dalam kelurusannya dan dalam kemudahannya dapat menerima sentuhan aqidah islam dalam pendidikan. Maka tugas kita orang tua adalah menjaga fitrah anak kita tetap dalam kebersihan dan kesuciannya.

🍃 Maka disinilah kita bisa memahami konsep stimulasi dini pembentukan kepribadian islam anak. Artinya orang tua dalam mendidik harus bisa menstimulasi fitrah ini agar anak taat pada Allah dengan kesadaran dan tuntunan wahyu.

🍃 Konsep mendidik dengan fitrah membutuhkan pengungkapan bahasa aqidah untuk menyetel pemikiran ananda agar senantiasa di atas landasan aqidah. Membutuhkan kekayaan bahasa ibu dan kecerdasan ibu mencelupkan keimanan pada jiwanya.

🍃 Seringkali kesulitan dalam mendidik anak disebabkan kita kita mendidik keluar dari fitrah anak, sehingga anak keras dan bandel. Atau kita biarkan dia dirusak fitrahnya oleh yang lain. Bila ibu dalam berbicara dan berbahasa menodai fitrah anak, besar kemungkinan anak sulit dikendalikan dan menjadi anak pembantah dan pelawan, karena ibu kering dari sentuhan fitrah dalam mendidik.

🍃 Jagalah fitrah anak kita dengan baik, dengan demikian kita dapatkan ananda kelak sebagai sosok muslim sejati yang senantiasa menghadapkan wajahnya pada agama fitrah yang lurus (Islam). Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Arrum: 30)

🍃 Mengingat Allah menciptakan manusia di atas fitrah yang lurus, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk percaya diri bahwa Allah akan membimbing kita  dan anak-anak kita selalu bersama dalam fitrah yang sama dan tidak pernah terpisah pisah, selalu dalam pemikiran Islam yang sama dan dalam ketaatan yang sama hingga kelak di yaumul akhir.

"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah" TQS ar-Rum: 43. Wallahu a'lam bishawab



Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
LANDASAN BERPIKIR ANAK



Berpikir adalah proses memindahkan fakta ke otak melalui panca indera disertai ma’lumat sabiqoh (informasi sebelumnya) terhadap fakta tersebut. Dari definisi ini maka berpikir wajib memuat 4 unsur; fakta, indera, otak dan informasi sebelumnya.

Anak sejak dia dalam kandungan sudah mengalami proses pembentukan indera dan otak, dengan pembentukannya yang sempurna maka kedua unsur tersebut dapat bekerja. Dalam otak anak terdiri dari milyaran saraf yang belum terhubung, maka disinilah tugas kita untuk membuat saraf otak tersebut bisa saling terhubung dengan optimal.

Ketika anak lahir stimulasi berpikir sudah bisa dimulai dengan membuat indera bekerja. Indera pendengaran adalah yang paling dulu bisa menerima stimulasi karena pendengaran lebih dulu berfungsi bahkan sejak dalam kandungan dan stimulasi kecerdasan yang paling ringan dan mudah, cukup perdengarkan ayat-ayat al-Quran. Ketika anak sudah lahir maka informasi sudah mulai bisa diberikan untuk didengar, bila sudah bisa melihat maka indera penglihatanpun bisa distimulasi berikut semua indera anak.

Berpikir anak sejatinya sesuai dengan umur, kenapa berbeda masing-masing anak, karena berbeda stimulasi yang diberikan kerena berbeda situasi dan kondisi. Maka kita perlu memahami stimulasi apa saja yang pas dan tepat buat anak-anak kita, tentunya sesuai dengan apa dulu yang berguna buat pembentukan berpikir anak dan hendak diletakkan landasan apa.

Landasan berpikir itu perlu ditancapkan dan harus jelas garisnya, sebab setiap anak ketika memikirkan sesuatu pasti mempunyai landasan. Misal bila anak ditanamkan landasan sekulerisme dengan menstimulus tontonan yang tidak islami dan informasi-informasi yang netral tanpa aqidah maka solusi-solusi anak dalam menghadapi kehidupan akan mengarah pada sekulerisme.

Atau semisal dia diajarkan bermain piano dengan syair cinta lawan jenis, atau menari dengan pakaian adat yang terbuka aurat, maka itulah yang akan tertanam pada anak dan bisa jadi menjadi acuan baginya dalam menjalani kehidupan. Disinilah urgennya sebuah landasan berpikir, aqidah Islamkah, liberalkah, genderkan, Kapitalismekah, sosialismekah, materialimekah, tradisionalkah? Dan lain-lain.

Sejatinya landasan aqidah itulah yang harus diletakkan dalam proses berpikir anak sejak dini dalam setiap stimulasi yang kita berikan hingga mengantarkannya di usia baligh. Landasan ini bisa kita ukirkan di jiwa anak fi kulli makan wa fi kulli zaman, bisa dengan menghubungkan segala sesuatu dengan lafadz Allah, dengan sifat-sifat Allah, dengan kebenaran Rasulullah SAW sebagai utusan Allah, dengan perkara ghaib lainnya semisal malaikat, surga, neraka dan segala yang terkait dengan itu.

Dalam berkomunikasipun kita senantiasa berdalil naqli yang sesuai dengan realitas anak saat itu. Misal ketika dia minum sambil berdiri, kita bisa mengingatkan, dek kata Rasulullah SAW :

لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا
"Janganlah salah seorang kalian minum sambil berdiri"

Atau ketika anak bersuara keras, kita bisa menasehatinya seperti ini, dek, kata Allah

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Lukman: 19).

Berpikir itu harus berpola, maka landasan aqidah itu adalah polanya, agar setiap rancangan pemikiran anak lahir dari pancaran aqidah islam yang akan melahirkan pola berpikir islami. Pola berpikir islami inilah yang merupakan salah satu pembangun kepribadian islam anak, yang berfungsi sebagai pengendali bagi amalnya.

Walaahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
PENTINGNYA MEMAHAMI PROSES ANAK

==========================

🌾 Ibu yang berambisi untuk menjadikan anaknya menjadi pribadi yang saleh dan salehah, memiliki kepribadian Islam yang baik terkadang luput untuk melewati proses. Apalagi bila anak seringkali melakukan kesalahan, tak sedikit ibu melakukan pemaksaan dengan merusak jiwa anak. Yang didapat bukanlah perubahan-perubahan menuju kepribadian islam yang lebih tinggi, justru berjalan ditempat. Tidak jarang pula prestasi kepribadian ananda menurun hanya gara-gara sikap terburu-buru untuk mendapatkan nilai terbaik dalam hafalan misalnya.

🌾 Kita sudah memahami bahwa anak tumbuh dan berkembang, seiring dengan itu berpikirnya semakin kesini semakin berkembang sesuai pertambahan usia. Tentunya perlakuan terhadap anak dalam mendidik tidaklah sama setiap level usia, karena mereka butuh dididik sesuai level potensi yang mereka punya. Maka disinilah proses pendidikan anak itu harus dilewati dan dipahami agar step by step keberhasilan bisa diraih oleh anak. Proses itulah tanggung jawab kita dalam meri’ayah ananda yang perlu kita kondisikan agar ananda bisa mengikuti semua pembelajaran yang kita berikan.

🌾 Saat kita memahami bahwa di usia tamyiz ananda sudah bisa diperlakukan disiplin, maka kedisiplinan itu perlu dirancang dan dikondisikan, mengabaikannya akan sulit bagi kita untuk memberikan penguatan-penguatan kepribadian Islam. Misalkan untuk sopan santun dan adab belajar, ananda sudah harus dibiasakan di usia ini, lakukanlah prosesnya sejak awal di usia dini dan usia tamyiz (7 tahun) dibiasakan dan dilatih. Bila dibiarkan bisa dipastikan anada tidak akan mengenal adab dalam bergaul, menghormati yang besar, menyayangi yang kecil dan berlaku sopan terhadap teman dan sebagainya.

🌾 Namun dalam proses ini bisa jadi tidak didapatkan hasilnya segera, disinilah butuh kesabaran dalam mendidik dan berlaku sopan juga terhadap anak. Bila ibu tidak sabar dan tidak berlaku sopan maka anak akan lebih-lebih lagi melakukan ketidaksopanan dan sulit menahan diri. Proses itu juga membutuhkan waktu untuk menjalaninya selain kesabaran dan perilaku santun, terkadang waktu yang dibutuhkan cukup lama terkadang juga cepat dan ini tidak bisa kita prediksi kecuali bila kita memahami kebutuhan anak sesungguhnya.

🌾 Satu hal lagi adalah selalu mengevaluasi proses apakah sudah berjalan sesuai syariah ataukah belum, apakah metode yang dijalani sudah benar atau belum, apakah materi yang diberikan sudah sesuai level usia dan potensi anak, apakah strategi belajarnya sudah tepat atau belum dan apakah kompetensi yang diberikan sudah sesuai ataukah belum. Jadi proses itu berbasis ibu, artinya yang senantiasa dibenahi adalah ibu, proses yang dilakukan ibu. Mudah-mudahan diharapkan ketika ibu berhasil dalam menjalani proses maka anandapun mendapatkan kesuksesannya dalam memiliki kepribadian Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لأشج عبد القيس : [ إن فيك خصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة ] رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulallah SAW bersabda kepada ’Abdul Qais yang  terluka: “sesungguhnya didalam dirimu ada dua sifat yang disukai oleh Allah yaitu: santun dan sabar”. (HR Muslim).

Wallahua'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
ILMU DEMI KEMULIAAN ISLAM

===========================

Bunda tidak menuntutmu untuk juara satu di sekolah, tapi bunda yakin dengan kemampuanmu bisa menjadi yang terbaik, maka carilah ilmu untuk izzul islam wal muslimin (kemuliaan islam dan kaum muslimin), mudah-mudahan kamu mengerti ya nak...

Apa yang ada dalam benak anak ketika sang bunda memberikan motivasi belajar dengan kalimat-kalimat di atas. Tentunya sang anak tetap ingin menjadi juara, ingin menjadi pemenangnya, mampu berkompetisi merebut THE BEST, tapi dipersembahkan untuk kepentingan dakwah bahwa prestasi belajar itu menjadi uslub bagi kemudahan diterimanya dakwah, untuk masa depan islam, untuk kemuliaan islam, untuk sebuah peradaban.

Saat sang bunda menyampaikan motivasi tersebut secara berulang-ulang, sebenarnya tidak bisa membayangkan apa yang ada dalam benak anaknya itu apakah mereka mengerti ataukah tidak. Yang penting baginya berharap kelak anak-anaknya dalam kelurusan motivasi mencari ilmu, menguasai ilmu bukan untuk berbangga diri, menguasai ilmu untuk kepentingan sebuah amal terbaik yang dipersembahkan di hadapan Allah, memahami kelak merekalah sebagai pengganti ibnu Sina, Ibu Hayyan, Imam Syafi’i, Imam Bukhori dll untuk mengukir sejarah gemilang itu untuk kedua kalinya. Atau merekalah pengganti Salahuddin Al-ayyubi, Muhammad AlFatih, Khalid bin Walid, sebagai pengukir yang melukiskan secara indah peradaban tersebut di cadas perjuangan Khilafah.

Walau semasa kecil anak-anak waktu itu belum begitu memahami apa yang hendak diharapkan oleh bunda kelak di kemudian hari, seiiring dengan waktu berjalan, seiring dengan usia mereka bertambah, motivasi itu insya Allah sangat melekat yang dapat meluruskan arah pembelajarannya dalam meraih ilmu, jadi bukan generasi perusak peradaban tapi generasi yang selalu merindukan dapat mengisi peradaban demi agamanya.

Selalu diulang bunda saat ananda pergi menuntut ilmu dan selalu diingatkan setiap saat, karena bunda khawatir dalam perjalanan mencari ilmu ananda tersesat di jalan, salah niat salah motivasi.

Tak terasa di saat anak-anak sudah besar dan menjalani pendidikan yang lebih tinggi motivasi itu ternyata terpatri dalam hati, tertancap dalam benak bahwa mengarungi samudera ilmu demi izzuul islam wal muslimin. Setiap bunda pastinya sangat terharu dan merasakan kesan yang mendalam bahwa ananda mampu memposisikan ilmu untuk sebuah kegemilangan...

Wallaahua’la bishshowab


Source : channel parenting telegram


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
KOMPAK MENGASUH ANAK
(BAHAYA FATHERLESS)

========================



Apa enaknya yang dilakukan para ayah di setiap weekend? Cek email kantor? Cek milis? Twitter? Main futsal atau bersepeda? Lupakanlah sejenak urusan kantor dan hobi pribadi. Ada hal penting yang harus ditengok para ayah; anak-anak kita.

Jujur, masih banyak ayah yang masih hidup dengan pola klasik; anak adalah urusan ibunya. Ini serius. Banyak ayah yang berpikir dunia lelaki adalah pekerjaan dan hobi. Hari-hari kerja dihabiskan untuk bekerja, meningkatkan eksistensi diri di dunia karir, waktu senggang diisi untuk menuntaskan hobi.

Ada pria yang setiap kali pulang kantor tidak langsung pulang kandang, tapi mampir dulu ke tempat hobi. Hang out dengan kawan-kawan, atau menendang bola di lapangan futsal. Banyak orang yang hampir setiap malam menghabiskan waktu untuk itu.

Weekend? Kalau tidak tidur sepanjang hari, ada juga yang menjajal stamina dengan bersepeda. Naik gunung, turun gunung, atau berkeliling kota. Kring, kring.

Lupakah kita bahwa ada buah hati di sekeliling kita? Anak-anak kita bukan robot yang tak butuh perhatian. Juga bukan mahluk yang hanya kenal ibunya. Mereka juga tahu siapa ayahnya. Dan anak-anak juga membutuhkan perhatian dari ayah mereka.

Para ayah, mengasuh anak bukanlah pekerjaan banci. Juga bukan berarti pria jadi lemah. Mengasuh anak adalah kewajiban yang Allah amanahkan kepada kedua orangtua; ayah dan ibu. Yang membuat anak-anak menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau ahli surga, bukan saja ibunya, tapi keduanya. Bukankah kita sudah sering mendengar pesan Nabi saw. berikut ini:
“Tidaklah setiap anak dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” (HR. Imam Bukhari).

Coba siapa yang disebut oleh Nabi dalam hadits di atas? Kedua orang tuanya; ayah dan bundanya.

Di AS, sudah banyak penelitian yang menyebutkan dampak buruk kepada anak akibat kurangnya peran dan perhatian ayah kepada mereka (fatherless). Mengerikan. Di antaranya bisa disimak di bawah ini:

63% of youth suicides are from fatherless homes (US Dept. Of Health/Census) – 5 times the average.
90% of all homeless and runaway children are from fatherless homes – 32 times the average. 85% of all children who show behavior disorders come from fatherless homes – 20 times the average.  (Center for Disease Control)
80% of rapists with anger problems come from fatherless homes –14 times the average.  (Justice & Behavior, Vol 14, p. 403-26). 71% of all high school dropouts come from fatherless homes – 9 times the average. (National Principals Association Report).

🍃 Anda merasa ngeri? Harus. So, luangkanlah waktu untuk berkumpul dengan buah hati kita. singkirkan ego kita. Lihat dan bercandalah dengan mereka. Didik mereka agar menjadi insan bertakwa yang cinta kepada Allah dan kedua orang tuanya. Saya percaya bila setiap ayah mau terlibat dalam mengedukasi anak-anak mereka, kita bisa mengurangi resiko anak-anak bermasalah di negeri ini.


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Sudahkah Memiliki Desain Diri Anak?

===============

Panik. Belum tahu mau menyampaikan apa. Saya belum memiliki ide. Belum ada gambaran. Blank. Sementara kereta listrik terus melaju di jalur Den-en-toshi line. Kereta dari stasiun Miyamaedaira terus berpindah dari stasiun satu ke stasiun berikutnya. Seolah dia sedang berhitung saat melewati stasiun Saginuma, Tama-Plaza, Azamino, Eda, Ichigaoka, Fujigaoka, Aobadai, Tana, Nagatsuta dan Tsukushino. Tinggal satu stasiun lagi sebelum sampai tujuan. Pupus sudah harapan. Saya terus memandangi beberapa hadits di layar Ipad untuk mencari ide. Belum juga ketemu. Persis menjelang sampai stasiun Suzukakedai saya baru menemukan ide apa yang akan disampaikan di rumah Mbak Dona. Ide yang akan saya sampaikan di acara kajian keislaman keluarga muslim Indonesia yang sedang belajar di Tokyo Institute of Technology (Tokodai).

“Bukankah mengisi kajian tanpa desain materi akhirnya berbuah kesulitan? Bukankah tanpa ada rancangan materi bisa berdampak pada kegagalan? Bukankah persiapan itu penting sebelum realisasi? Ini poin bagus untuk materi parenting, bukan?”

Inilah yang akhirnya terlintas dalam benak saya waktu itu. Ternyata, kegelisahan akibat tidak menyiapkan materi justru menjadi ide yang menarik untuk bahan kajian di keluarga muslim Tokodai hari itu. Everything is created twice. First in the mind, and then in the reality. Segala sesuatu dikreasi dua kali. Pertama dalam pikiran dan yang kedua di dalam kenyataan. Demikian kutipan kata mutiara Stephen Covey dalam bukunya “7 Habits of Highly Effective People”  saya kutip untuk mengawali kajian.

Bangunan bertingkat, mobil, pesawat terbang, kereta api, pendidikan di perguruan tinggi, reaktor nuklir, robot Asimo, buku, cermah agama, kebijakan pemerintah dan segala yang manusia buat selalu melalui dua tahap kreasi. Tahap pertama adalah desain (perencanaan) dan tahap kedua adalah implementasi (realisasi). Ini adalah garis besar proses karya manusia. Izinkan saya melengkapi kutipan dari Covey ini dengan kalimat berikut, “Semakin penting sesuatu maka kita serius di kreasi pertama. Semakin berharga sesuatu maka kita pasti serius di kreasi pertama.”

Apakah Anda setuju dengan tambahan ini? Bila segala yang penting dan berharga kita akan serius di kreasi pertama, pertanyaannya seberapa penting dan berharga anak-anak kita? Sudahkah kita memiliki desain diri untuk mereka?

Banyak orang tua mengatakan anak-anak mereka sangat penting dan berharga. Kenyataannya, mereka tidak memiliki desain apa-apa untuk diri anak-anak mereka. Mereka tidak memiliki rencana tentang pribadi anak-anak mereka. Mereka tidak memiliki gambaran bagaimana anak-anak menjalani kehidupan ini.Bila tidak memiliki desain diri yang ingin diwujudkan, maka bukankah itu sama saja memperlakukan anak-anak sebagai hal yang tidak penting dan tidak berharga? Saya percaya secara naluriah orang tua mencintai buah hati dan menganggapnya sebagai hal penting dan berharga. Namun, kurangnya perhatian dan keseriusan membuat mereka memperlakukan pribadi anak-anak sebagai hal yang tidak penting dan tidak berharga. Jiwa anak-anak mereka tidak lebih penting dari rumah yang mereka bangun. Bukankah rumah mereka telah disiapkan desainnya terlebih dahulu sebelum dibangun?

Betapa banyak pribadi anak-anak tumbuh tanpa desain dari orang tua. Padahal desain diri anak pada hari ini begitu penting dan genting. Mendidik anak di zaman sekarang seperti mengendarai mobil di lokasi yang ekstrem. Bila tidak hati-hati dapat celaka, bila terlalu ketat tidak pernah sampai tujuan. Orang tua yang tidak memiliki desain diri untuk anak-anaknya menunjukkan ketidakhati-hatian. Begitu pun yang memperlakukan anak terlalu ketat, bisa juga karena tanpa desain

Untuk menguji apakah kita telah memiliki desain diri sebenarnya mudah. Tanya saja pada diri kita hal penting apa saja yang ingin diwujudkan pada pribadi anak-anak kita? Hal penting apa yang sudah dan belum ada pada jiwa anak-anak kita? Hal apa yang harus ada pada anak kita? Tahukah kita bagaimana caranya mewujudkan itu? Bagaimana kalau hal itu tidak ada pada diri mereka?
Hal buruk apakah yang akan terjadi pada mereka saat dewasa kelak? Coba tanya dalam hati kita, apakah kita telah memiliki desain diri untuk mereka? Sekedar tambahan, bagaimana merancang desain diri secara lengkap bisa merujuk buku “The MODEL” bagian III.

Era Kegagalan yang ditandai dengan kegagalan kehidupan pribadi dan kegagalan manusia menata peradaban membuat kita seharusnya lebih serius menyiapkan anak-anak kita. Kita harus memiliki desain diri yang jelas untuk mereka. Sebuah desain yang menjamin dapat menghantarkan mereka menjadi pribadi yang sukses-bahagia dan kontributif dalam membangun peradaban. Bila mereka dibesarkan tanpa desain diri, maka resikonya mereka tumbuh menjadi pribadi yang gagal dalam kehidupan serta tidak kontributif dalam membangun peradaban. Padahal, generasi mendatang seharusnya tidak hanya mampu meraih kesuksesan dan kebahagiaan, tapi juga mampu mewujudkan peradaban barokah untuk manusia.

Inilah akhirnya gambaran umum materi yang saya sampaikan di forum pengajian orang tua Indonesia saat itu, “Pentingnya Desain Diri untuk Anak”.

Bila orang tua tidak memiliki desain diri untuk anak-anak mereka, niscaya anak-anak akan mengalami kesulitan hidup di saat dewasa kelak. Seperti kesulitan saya memberikan kajian tanpa menyiapkan desain materi. Bila orang tua tidak memiliki perencanaan tentang pribadi dan masa depan anak-anak, maka anak-anak beresiko menjadi orang gagal. Seperti resiko kegagalan yang saya dapat ketika mengisi materi kajian tanpa rancangan.

Untunglah saya cepat menemukan ide di detik-detik kereta tiba di stasiun Suzukakedai, stasiun terakhir menuju lokasi pengajian. Segala sesuatu dikreasi dua kali, pertama dalam tahap desain dan kedua dalam tahap realisasi. Sudahkah Anda menyiapkan desain diri untuk buah hati tercinta yang ada di rumah?


Source : Channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
CORE COMPETENCIES AYAH

===================

Para ayah, pernahkah terpikir menjadi ayah itu butuh keahlian? Bahwa seorang ayah juga harus punya kompetensi inti (core comptencies) yang layak?

Banyak lelaki di kolong langit ini berpikir bahwa menjadi ayah adalah alamiah tanpa perlu rekayasa. Tanpa perlu keilmuan dan ketrampilan khusus. Bukankah saya otomatis menjadi ayah saat istri saya melahirkan anak kami? Bukankah anak saya pasti akan memanggil saya ‘ayah’, ‘bapak’, ‘abi’, dan sebagainya.

Ah, andai menjadi ayah itu semata alamiah maka tak mungkin Allah SWT. menurunkan sejumlah ayat yang menyatakan bahwa anak adalah ujian bagi para ayah mereka.

“dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. al-Anfal: 28).

Menjadi ayah alamiah terlalu mudah. Tanpa effort apapun kita sudah bisa menjadi ayah saat anak-anak kita lahir. Namun sungguh rugi bila kemudian anak-anak kita tumbuh besar menjadi anak yang tak punya visi dan misi hidup. Apalagi menjadi anak yang tak mengenal jati dirinya sebagai muslim, dan tak bangga dengan agamanya, apalagi turut berjuang untuk agamanya.

Karenanya bila kita ingin menjadi ayah luar biasa, bukan ayah yang ‘biasa-biasa saja’,  wajib memiliki core competency berikut ini:

Menjadikan keimanan bukan dunia sebagai dasar mendidik anak. Anak bukan untuk kesenangan dan ambisi orang tua di dunia, tapi investasi hingga di akhirat. Berapa banyak ayah yang begitu fokus membesarkan anaknya untuk obsesi duniawi, tapi begitu longgar untuk ketaatan pada Allah. Tidak heran bila banyak remaja muslim yang kemudian tumbuh dengan kepribadian terbelah; muslim tapi sekuler. Ia shalat tapi berpacaran, berbakti pada orang tua tapi makan riba, dan sebagainya.

Saatnya para ayah menyadari memiliki anak dan mendidik anak adalah investasi dunia dan akhirat. Bila berhasil menjadikan mereka sebagai hamba Allah yang saleh, terikat dengan hukum syara, tahu apa tujuan hidup dan mati mereka, maka para ayah patut berbahagia. Memahami hukum Islam sebagai panduan mendidik anak. Dengan apalagi kita akan mengarahkan anak kita menuju kebaikan kalau bukan dengan ajaran Islam? Tak ada manual guide pendidikan anak sebaik ajaran Islam. Tuntunan Islam tak hanya membimbing anak kita sukses menaklukkan dunia, tapi juga berbahagia di akhirat.

Penuh dengan simpanan kasih sayang. Kasih sayang itu adalah sifat Allah SWT. Bahkan Allah menetapkan kasih sayang atas diriNya sendiri. “Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang”(QS. al-An’am: 54). Sudah sepantasnya kasih sayang selalu berada di sifat terdepan para ayah dalam mengasuh dan mendidik anak, dan simpan kemarahan di bagian terbelakang. Sebagaimana Allah SWT. juga menjadikan hal itu atas diriNya sendiri,  “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”(HR. Bukhari, Muslim).

Tentu saja masih ada kompetisi inti lain yang harus dimiliki para ayah, tapi semoga tiga hal mendasar ini jadi pedoman penting yang harus dimiliki oleh mereka.

📈 Ayah

Untuk itu saya membantu para ayah dengan membuat buku Alhamdulillah Aku Menjadi Ayah. Semoga buku ini bisa membantu para ayah untuk menjadi ayah yang hebat, bukan ayah biasa. Aamiin.

Wallahu a'lam bisshowab

Source : Channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
MENGOPTIMALKAN MASA GOLDEN AGE

             

🏃Bayi baru lahir memiliki milyaran sel otak 2x lebih banyak dari sel otak orang dewasa. Agar sel-selnya terus berkembang harus terus menerus di stimulasi.

🏃Usia 4 tahun, anak sudah mencapai 50% kemampuan intelektual. Usia 8 th mencapai 80% dan setelah 8 th intelektualitas hanya dapat diubah 20%. 

🏃Perkembangan intelektual anak 0-4 th = perkembangan intelektual 13 th berikutnya. 

🏃Bagaimana mengoptimalkan potensi otak usia golden age? Dengan cara menstimulasi indera, kemampuan berbahasa dan motorik. Memberi nutrisi bergizi yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak sejak dalam kandungan.

🏃Usia 0-24 bulan memberikan ASI dan makanan 4 sehat 5 sempurna. Potensi lain yang harus dioptimalkan adalah naluri yang akan mengendalikan prilaku anak.

🏃Masa Golden Age adalah masa serius untuk menancapkan dasar-dasar pembentukan kepribadian Islam yang harus distimulasi sedini mungkin. Hanya saja seringkali orang tua mengabaikan usia emas ini karena menganggap anak masih kecil tiedk membutuhkan keseriuasan dalam mendidik.

🏃Begitu terlambat mengoptimalkan pendidikan anak di usia emas, kesempatan tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Marilah merancang-bangun saat ini juga sebelum kita mendapatkan kesulitan mendidik anak-anak.

🌺 Seraplah 50% potensi anak dalam membangun kepribadian Islam di usia emasnya. Sebab itu hanya sekali dialami. Tingkatkan kualitas kepribadian kita untuk ditransferkan kepada anak agar anak bisa mentauladani langsung dari ibunya dan akan lebih mudah bagi anak untuk menyerap.

Wallahu a'lam bishshowab

Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
PENDIDIKAN ANAK BERBASIS AQIDAH

========================

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi. (HR. Bukhari Muslim).

Awali untuk anak-anak kalian dengan kalimat Laa ilaaha illallah. Fitrah adalah naluri beragama anak yang merupakan potensi dasar untuk bisa mengenal penciptanya. Anak ditunjukkan bagaimana mengenal Robnya, sebagai Pencipta sehingga anak pandai bersyukur kepada Allah.

Saat anak sudah menanamkan rasa syukur kepada Allah, akan mudah bagi anak untuk beribadah dan taat kepada Allah SWT. Inilah dasar-dasar filosofi kurikulum dalam pendidikan Islam, berbasis aqidah sehingga anak sholeh sholehah dapat terwujud.

Pendidikan berbasis aqidah dalam rangka menjaga fitrah anak. Dari aqidah Islam inilah semua bidang studi/pelajaran terpancar dan terintegral, satu kesatuan yang tidak terpisah.

Berbasis aqidah itu tidak bisa diserahkan tanggungjawabnya kepada orang lain kecuali ayah bunda uzur. Karena anak adalah amanah, tidak meminta dilahirkan, justru itu wajib dijaga dan dipertanggungjawabkan.

Wallahu a'lam bishshowab


Source : Channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
KETELADANAN AYAH DAN BUNDA

=====================

Ayah bunda adalah pembentuk langsung kesalehan anak dan yang mendesign strategi terbentuknya kepribadian Islam anak. Maka ada satu uslub yang paling jitu untuk dilakukan dalam pendidikan anak yaitu keteladanan ayah bunda. Keteladanan ini paling penting, bernas, agung dan istimewa sebab ayah bunda sudah mempraktekkan apa yang diajarkan terlebih dahulu suatu perkara sebelum memerintah kepada anak. Kemudian anak-anak akan mempraktekkannya sebagaimana yang mereka indra dan saksikan dari orang tuanya.

Orang tua yang tidak mengamalkan apa yang dia katakan akan mendapatkan kemurkaan yang besar dari Allah swt, itu artinya gagal total.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(Ash-Shaf : 2-3)

Seorang yang memerintahkan anaknya agar rajin tilawah Alquran sementara dirinya minim tilawah tentu tidak akan berpengaruh pada motivasi anak untuk mengamalkan, karena melihat ayahnya hanya pintar ngomong tapi tidak pintar amal.

Jika ayah bunda memerintah walau lisannya seindah pujangga, kata-katanya berapi-api memotivasi dan ungkapan-ungkapannya dalam dan menyentuh, jika beda yang apa yang ada di lisan dengan apa yang ada di perbuatan tidak diiringi dengan teladan yang nyata, besar kemungkinan ananda tidak akan mudah menuruti perintah dan meninggalkan larangan jika tidak bisa disebut gagal.

Maka tidak bisa kita pungkiri bahwa uslub memberikan teladan dalam pendidikan jauh lebih berpengaruh, meninggalkan atsar (bekas) dalam qalbu, lebih cepat untuk diingat dan dipahami dan lebih menarik untuk ditiru dan diikuti dibandingkan kita menempuh uslub ceramah dan hanya mengungkapkan kata-kata. Lagi pula uslub memberikan teladan itu suatu yang alami, tidak dibuat-buat, natural. Rasulullah melakukan uslub ini sebagai uslub yang paling agung dan paling unggul.

Dari Ibnu Ishaq bahwasanya nabi saw mengutus Amru bin Al-Ash kepada Al Julanda untuk mengajaknya kepada Islam, maka dia menjawab :

“Orang ini telah menunjukkan kepadaku seorang Nabi yang ummi. Bahwa beliau tidak memerintahkan kepada suatu kebaikan pun melainkan dialah orang yang pertama memerintahkan kepada suatu kebaikan pun melainkan dialah orang yang pertama kali mengerjakannya. Tidaklah ia melarang dari suatu keburukan melainkan dialah orang yang pertama kali meninggalkannya. Ketika sedang berkuasa dia tidak sombong, ketika dikalahkan dia tidak berkata kejelekan. Dia selalu menepati perjanjian dan memenuhi janji. Maka dari situ saya bersaksi bahwa dia benar-benar seorang Nabi.”

Imam As-Syathibi Rahimahullahi Ta’ala berkata dalam kitabnya Al-I’sham :

“Akhlak beliau hanyalah Al-Quran, karena beliau menjadikan wahyu sebagai penguasa atas dirinya. Sehingga ilmu dan amal beliau sesuai dengan wahyu. Beliau senantiasa cocok, menyuarakan, tunduk dan mendukung keputusan wahyu.”

Keteladanan itulah kunci kesuksesan Rasulullah saw dalam mendidik umat, mendidik para sahabatnya yang mulia, ketepatan lisan dan amal sungguh sangat berpengaruh besar bagi siapapun yang mendengar perintah dan larangannya. Bagaimana tidak sukses ? Ketika Alquran memerintahkan shalat maka beliaulah yang terlebih dulu shalat, ketika Allah melarang minuman khamar dan riba maka beliaulah yang terlebih dahulu meninggalkannya.

Jika turun wahyu untuk memerintahkan dakwah maka beliau pasti berada di garda terdepan, jika Allah menurunkan wahyu tentang neraka dan seluruh kedahsyatannya di hari itu maka beliaulah yang paling dulu merasakan ngerinya dan takutnya azab neraka.

Karenanya kesesuain perkataan dan amal Rasululullah saw menjadi bukti bagi siapapun yang melihatnya bahwa lisannya benar tidak terbantahkan dan tidak akan ada celah bagi siapapun untuk membantahnya dan menafikannya, akan memaksa siapapun untuk mengikuti beliau, kalam dan perbuatan beliau saw.
BERPIKIR USLUB

======================

Berkesan apa yang dikatakan oleh Syeikh Taqiyyuddin An-Nabhani dalam kitab At-Tafkir bahwa berpikir uslub itu adalah berpikir tentang cara yang tidak permanen untuk melakukan suatu perbuatan. Untuk menghasilkannya membutuhkan akal kreatif meskipun dalam penggunaannya dilahirkan oleh akal yang biasa-biasa saja.

Akal kreatif bisa membuat yang sulit memahami menjadi mudah, membuat yang bertele-tele menjadi efektif dan membuat yang berlama-lama menjadi efektif. Akal kreatif juga bisa menentukan jenis kegiatan apa yang harus dilakukan hingga bisa mencapai target, mendapatkan hasil, bahkan tidak hanya satu target, satu hasil tapi bisa juga dalam satu jenis kegiatan beberapa target dan beberapa hasil bisa dicapai.

Berpikir kreatif tentu tidak berdiri sendiri namun harus disertai berpikir tentang jenis perbuatan apa yang harus dilakukan sehingga setiap jenis perbuatan akan berbeda caranya, jika disamakan memungkinkan cara itu menurunkan target  jika tidak bisa dikatakan gagal. Untuk satu jenis kegiatan bisa dilakukan beberapa uslub dan cendrung berubah-rubah karenanya membutuhkan akal kreatif. Dari sinilah berpikir uslub itu lebih tinggi karena menuntut keseriusan untuk direalisasikan dan hasilnya bisa dirasakan.

Banyak orang yang mencampuradukkan antara metode dan uslub bahkan juga terjadi yang seharusnya metode diposisikan uslub dan yang seharusnya uslub diposisikan metode. Dalam dunia pendidikan seringkali terjadi seperti ini. Misalkan mendidik dengan memberikan contoh secara praktis ketika mengajarkan tata cara berwudhu disebut metode belajar padahal itu hanya uslub, teknik atau cara. Seorang guru bisa juga menggunakan cara tayangan video tata cara berwudhu atau ilustrasi gambar atau sekedar ceramah di majelis.

Jika uslub cendrung berubah-ubah dan tidak permanen maka metode belajar tetap dan baku tidak berubah-ubah. Sebuah metode belajar sering dilakukan oleh Rasulullah saw dan berulang-ulang tidak keluar dari amal aktifitas tersebut dan hukumnya wajib.

Maka uslub tidak terus menerus dilakukan Rasulullah saw dan ada alternatif-alternatif jenis kegiatan yang lain untuk mencapai target yang sama. Cendrung situasional dan sangat personal, uslub untuk orang tertentu bisa berbeda untuk orang yang lain tergantung level akalnya. Murid yang mudah menangkap informasi tentu tidak sama uslubnya dengan murid yang lemah dalam menangkap informasi.

Dalam kitab Ar Rasul al-Mu’allim mengungkapkan dalam pengajarannya, Rasulullah saw memilih uslub yang paling baik dan istimewa, paling berpengaruh terhadap jiwa lawan bicaranya, paling dekat kepada pemahaman dan pikiran, paling menguatkan ilmu di dalam ingatannya dan paling banyak membantu menjelaskan pendengarannya.

Rasulullah saw dalam mengajar penuh variasi warna dan beragam gaya, terkadang beliau menggunakan ilustrasi gambar, membuat garis di tanah, terkadang mengajukan pertanyaan, terkadang beliau menggunakan tasybih (persamaan), penjelasan langsung. Terkadang dengan menyamarkan atau isyarat.

Dalam dunia pendidikan ketika ayah bunda dan para guru kurang memiliki kekayaan uslub mengajar dan mendidik, akan  mentok berhadapan dengan anak didik dan mati gaya. Semua itu berawal dari tidak mengerahkan pemikiran atau tidak beruaha untuk memikirkan beragam uslub, jadinya kurang literasi tentang uslub.

Memang benar bisa jadi uslub orang tua yang satu belum tentu bisa dipakai oleh orang tua yang lain karena berbeda kondisi dan berbeda persoalan, maka disinilah butuh senantiasa berpikir tentang cara ketika kita hendak merealisasikan konsep kita dalam mendidik, tujuan dan target-target kita untuk ananda dan menguatkan metode belajar talaqqiyan fikriyyan.

In sya Allah selama Ramadhan ini kami mencoba mempersembahkan uslub-uslub mengajar dalam mendidik untuk ayah dan bunda dan untuk para guru peradaban, yang akan kami sarikan dari kitab Ar Rasul Al-Mu'allim karya Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Semoga kami dimampukan, disehatkan dan ditangguhkan


Source : Channel telegram parenting

#unleashyourpotential
#trainerpendidikan
#hypnosis
#motivasi
BERHIAS KEJUJURAN DALAM MENDIDIK

===========================

Orang yang paling dipercaya oleh anak adalah ayah bundanya, apapun yang dikatakan oleh ayahnya ataupun ibunya lebih dia percaya dibandingkan siapapun, anak sangat bergantung pada lisan ayah bundanya. Apalah jadinya jika anak hadir di tengah orang tua yang suka berdusta, berkata tidak jujur, bisa dibayangkan ananda akan bertumbuh dan berkembang sejalan dengan lontaran-lontaran kata-kata yang  jauh dari kejujuran.

Padahal disisi lain orang tua itu tidak mau dan tidak suka jika ananda berbohong dan menyembunyikan sesuatu dari dirinya lain di kata lain di kenyataan. Orang tua akan memuncak emosinya ketika mereka mengetahui bahwa ananda telah berdusta dan sakit hatinya tak terperi karena anak yang diharapkan baik-baik saja ternyata pribadinya tidak terpuji.

Namun ada juga orang tua yang merasa aman-aman saja dengan kebohongan yang mereka lakukan dengan berbagai alasan, bahkan asal ananda bisa diam dan mau menuruti apa kata-kata ayah bundanya meski itu adalah kebohongan. Dan juga ada orang tua menanggapi datar kebohongan yang dilakukan oleh ananda tanpa menegurnya dan meluruskannya karena dianggap biasa masih anak-anak.

Fenomena ketidakjujuran itu bisa kita saksikan saat memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ananda, misal kenapa tidak boleh hujan-hujanan, jawabannya nanti sakit, kenapa tidak boleh bermain HP, dijawab nanti matanya buta. Kalau sudah tahfidz nanti dikasih hadiah, hadiapun tak kunjung datang, pulang dari kantor nantia ayah belikan es krim, ditunggu sampai sore ayah pulang tapi tidak bawa es krim dan santai saja ketika menghadapi ananda protes dan cemberut.

Tahukah kita bahwa dari sinilah ananda belajar tidak jujur. Sadarkah kita bahwa Pendidikan yang dijalani dengan ketidakjujuran besar dampaknya kepada kepribadian ananda, berdampak langsung kepada pola berpikir dan pola sikap anak-anak kita kelak ketika dia dewasa karena ananda mengambil pola kebohongan itu dari ayah bunda.

Dampak yang tidak kalah seriusnya adalah perasaan ananda terluka, bisa jadi sembuhnya teramat lama dan membutuhkan energi yang lebih besar untuk memulihkannya dan beragam cara untuk mengembalikan perasaannya seperti sediakala, “Kenapa ayahku tidak jujur, kenapa ibuku harus berbohong?” Batinnya.

Ketidakjujuran ayah bunda juga bisa mengikis kepercayaan ananda terhadap perkataan ataupun perbuatan yang ayah bunda lakukan. Karena realitas kebohongan itu sangat melekat dalam kehidupan ananda maka apapun yang dikatakan oleh ayah bunda dianggap angin lalu, bukan sesuatu yang penting dan berharga untuk dia pahami dan turuti, toh itu kebohongan.

Ketidakjujuran ayah bunda berdampak juga kepada sikap tidak terbuka ananda dalam mengkritisi sesuatu yang salah disebabkan sudah tertanam mindset apapun masalah yang harus dibereskan yang dibukakan kepada ayah bunda  seringkali tidak jujur pada apa yang terjadi, percuma jika dibahas juga.

Ketidakjujuran ayah bunda bagaikan ruang kelas yang langsung dipelajari dan diamalkan oleh ananda. Dari pembelajaran di kelas itulah ananda mendapatkan pelajaran kebohongan. Dari situ juga Ananda dapat belajar menghindari masalah dan menghindari resiko tanggung jawab.

Rasulullah saw. Bersabda :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka.