Gen-ACI Parenting Center
627 subscribers
3 photos
2 links
Channel inspirasi & Ilmu Parenting
Download Telegram
Pada sisi lain ayah dan bunda tidak perlu terburu-buru menyaksikan hasil agar anak bangkit kembali, bersabarlah sejenak sebab anak juga butuh berproses untuk memahami. Sepanjang anak belum memasuki usia 10 tahun jangan terburu-buru untuk bertindak fisik, akan lebih arif bila kita segera mencari banyak strategi dalam mendidik agar ananda mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga dari badmood anak.

Demikian strategi yang ayah bunda lakukan untuk membangunkan anak OFF nya maka sekian pula ilmu yang ayah dan bunda berikan pada ananda yang kelak setelah bertambah usia anada akan memahami arti dari pendikan ayah bundanya pada dirinya.

Wallaahu a’lam bishshowab


Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BERKATALAH YANG BAIK ATAU HENDAKLAH DIAM


📮 Kelemahan banyak orang tua dalam mendidik anak adalah dalam bahasa, apalagi memilih kata-kata yang bisa menyentuh anak sehingga anak termotivasi dari lisan ayah dan bunda bukanlah perkara yang mudah. Seringkali yang terjadi adalah kata-kata instan dan doktrin tanpa anak mendapatkan informasi kejelasan dari sebuah perintah dan larangan. “Makan yang banyak nanti kamu kurus terus“ (Belajar yang tekun umi abi sangat sibuk, kalau tidak bisa belajar mandiri mau jadi apa kamu nanti, apa kamu mau jadi tukang ojek). “Cepetan sholat, kamu mau masuk neraka, kamu mau disiksa Allah.” Entah apalagi yang terkadang kita malas menjalani proses untuk mencelupkan setetes demi setetes embun keimanan  pada fithroh anak.

Bahasa itu dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan, bila pikiran tidak lagi ON untuk mengendalikan maka bahasa yang keluar adalah bahasa emosional. Dan bahasa logika saja juga tidak cukup untuk membangun konsep diri positif pada anak harus disertai dengan bahasa aqidah berikut disertai bahasa rasa agar mampu menyentuh pikiran dan perasaan sekaligus.

Mengemas bahasa termasuk kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam mendidik anak, karena bahasa adalah wasilah untuk memahami dan menyampaikan pemahaman, dalam hal ini tentunya membentuk pemahaman anak untuk memunculkan kesadaran.

📝 Sebuah kesadaran adalah penting maka membutuhkan bahasa  untuk mendorong anak agar berubah ke arah tercapainya tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya kepribadian Islam anak. Maka dari itu  belajar harus dilakukan dengan jalan talqiyyan fikriyyan (proses belajar dengan pemikiran). Talqiyyan fikriyyan metodenya adalah bahasa.

📝 Bahasa ibu sejatinya adalah bahasa yang sangat disukai anak, walau dengan bahasa marah sekalipun. Namun ibu yang sholehah  harus mampu menyesuaikan dengan syariah, disesuaikan juga dengan level berpikir anak.

📝 Bahasa yang digunakan untuk anak usia dini tentu tidaklah sama dengan bahasa untuk anak usia tamyiz dan usia baligh karena kemampuan berpikir mereka tidaklah sama. Maka ibu harus bijak menggunakan bahasa, pada saat kapan bahasa yang dikeluarkan dengan stimulasi, saat kapan bahasa disiplin dan saat kapan bahasa serius menjalani kehidupan. Jangan sampai terbalik-balik, seperti ketika anak usia 10 tahun harus diperlakukan serius malah bahasa pemakluman yang banyak digunakan. Anak usia dini yang seharusnya dengan bahasa stimulasi untuk mencelupkan aqidah namun digunakan bahasa pemaksaan menjalankan ketaatan.

🔐 Dalam hal ini tidaklah salah kita mengharapkan bahwa ibu butuh kecerdasan dalam berbahasa. Kecerdasan bahasa ini adalah cerminan kecerdasan berpikir dan kecerdasan emosional, maka ibu membutuhkan ilmu yang lebih banyak untuk dikuasai mencakup seluruh cabang ilmu, semisal Bahasa Arab, Al-Quran, Tsaqofah islam, sains, dan beberapa kemahiran dan kreatifitas untuk menyetel kepribadian Islam anak.

🍃 Namun seringkali ibu dihadapkan pada suatu kondisi tidak bisa mengendalikan tingkah polah anak, seakan ibu kehilangan bahasa untuk menyampaikan banyak hal apa yang ada dalam benaknya. Apalagi bila ibu berhadapan dengan kerewelan anak, perlawanan dan pemaksaan bahkan tindakan fisik anak ketika meminta sesuatu. Emosional ibu pastilah memuncak, semua perasaan serasa diaduk-aduk sehingga terlintas dalam benaknya, kok anak ini nakal amat, gak bisa diatur, pelawan dsb.

🍃 Bila ibu dihadapkan kondisi seperti ini hendaklah diam dan biarkan anak menangis dan meronta hingga ada seuntai doa ibu mampu menenangkannya. Jangan pernah mengeluarkan godaan bahasa yang tidak ahsan sebab itu ciri orang bukan beriman.

🍃 Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata kebaikan atau hendaklah dia diam”

Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel parenting telegram

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BE THE BEST UMMUN WA RABBATUL BAYT

🌺 Anak adalah amanah dari Allah SWT dan tanggung jawab yang agung, karenanya menjadi ibu adalah amal yang mulia tak tertandingi dan tak ada yang melampaui batas-batas pahala yang hendak diraihnya bersama ananda. Sungguh mengabaikan kebersamaan dalam mendidik anak akan menjadikan simpul-simpul kemuliaan itu terputus bersama waktu yang sia-sia.

🌺 Kemuliaan seorang ibu terletak pada sebesar apa dia memuliakan anak-anaknya dengan pendidikan dan sebesar apa pengorbanan yang hendak dia berikan untuk itu, sehingga kelak ibu tidak hanya mendapatkan kemuliaan dari anak-anaknya namun lebih tinggi dari itu mendapatkan kemuliaan di sisi Allah yang Maha Mulia.

🌺 Ummun dalam makna bahasa adalah sumber yang bersih, sumber kasih sayang, sumber ketulusan dan keikhlasan, sumber pengorbanan dan sumber cinta yang agung. Hanya wanita yang menyadari posisinya sebagai ibulah yang mampu mencurahkan segala kebaikan dan kemuliaan itu untuk anak-anaknya.

🏡 BE THE BEST UMMUN WA ROBBATUL BAYT, adalah ibu yang mampu mempertanggung jawabkan kepemimpinannya terhadap rumah tangga dan terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya tersebut di hadapan Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW.

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

"...dan wanita itu adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan atas anak-anaknya dan dia dimintai pertanggung jawaban atas mereka"

🔐 Be the best ummu wa rabbatul bayt, akan mampu melahirkan anak-anak cahaya mata dan generasi imam bagi orang-orang yang bertakwa.

🔐 Be the best ummun wa rabbatu bayt, mampu melahirkan generasi untuk peradaban Islam, generasi ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama, berkepribadian Islam yang tangguh dan berjiwa pemimpin yang berpengaruh.

🔐 Be the best ummun wa rabbatul bayt, juga mampu lahir di tengah-tengah umat sebagai sosok ibu pejuang bersama anak-anaknya mewujudkan kembali kemuliaan islam dan kaum muslimin (izzul islam wal muslimin).

Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
PENTINGNYA MEMAHAMI PROSES ANAK



🌾 Ibu yang berambisi untuk menjadikan anaknya menjadi pribadi yang saleh dan salehah, memiliki kepribadian Islam yang baik terkadang luput untuk melewati proses. Apalagi bila anak seringkali melakukan kesalahan, tak sedikit ibu melakukan pemaksaan dengan merusak jiwa anak. Yang didapat bukanlah perubahan-perubahan menuju kepribadian islam yang lebih tinggi, justru berjalan ditempat. Tidak jarang pula prestasi kepribadian ananda menurun hanya gara-gara sikap terburu-buru untuk mendapatkan nilai terbaik dalam hafalan misalnya.

🌾 Kita sudah memahami bahwa anak tumbuh dan berkembang, seiring dengan itu berpikirnya semakin kesini semakin berkembang sesuai pertambahan usia. Tentunya perlakuan terhadap anak dalam mendidik tidaklah sama setiap level usia, karena mereka butuh dididik sesuai level potensi yang mereka punya. Maka disinilah proses pendidikan anak itu harus dilewati dan dipahami agar step by step keberhasilan bisa diraih oleh anak. Proses itulah tanggung jawab kita dalam meri’ayah ananda yang perlu kita kondisikan agar ananda bisa mengikuti semua pembelajaran yang kita berikan.

🌾 Saat kita memahami bahwa di usia tamyiz ananda sudah bisa diperlakukan disiplin, maka kedisiplinan itu perlu dirancang dan dikondisikan, mengabaikannya akan sulit bagi kita untuk memberikan penguatan-penguatan kepribadian Islam. Misalkan untuk sopan santun dan adab belajar, ananda sudah harus dibiasakan di usia ini, lakukanlah prosesnya sejak awal di usia dini dan usia tamyiz (7 tahun) dibiasakan dan dilatih. Bila dibiarkan bisa dipastikan anada tidak akan mengenal adab dalam bergaul, menghormati yang besar, menyayangi yang kecil dan berlaku sopan terhadap teman dan sebagainya.

🌾 Namun dalam proses ini bisa jadi tidak didapatkan hasilnya segera, disinilah butuh kesabaran dalam mendidik dan berlaku sopan juga terhadap anak. Bila ibu tidak sabar dan tidak berlaku sopan maka anak akan lebih-lebih lagi melakukan ketidaksopanan dan sulit menahan diri. Proses itu juga membutuhkan waktu untuk menjalaninya selain kesabaran dan prilaku santun, terkadang waktu yang dibutuhkan cukup lama terkadang juga cepat dan ini tidak bisa kita prediksi kecuali bila kita memahami kebutuhan anak sesungguhnya.

🌾 Satu hal lagi adalah selalu mengevaluasi proses apakah sudah berjalan sesuai syariah ataukah belum, apakah metode yang dijalani sudah benar atau belum, apakah materi yang diberikan sudah sesuai level usia dan potensi anak, apakah strategi belajarnya sudah tepat atau belum dan apakah kompetensi yang diberikan sudah sesuai ataukah belum. Jadi proses itu berbasis ibu, artinya yang senantiasa dibenahi adalah ibu, proses yang dilakukan ibu. Mudah-mudahan diharapkan ketika ibu berhasil dalam menjalani proses maka anandapun mendapatkan kesuksesannya dalam memiliki kepribadian Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لأشج عبد القيس : [ إن فيك خصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة ] رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulallah SAW bersabda kepada ’Abdul Qais yang  terluka: “sesungguhnya didalam dirimu ada dua sifat yang disukai oleh Allah yaitu: santun dan sabar”. (HR Muslim).


Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Kompetensi Utama Seorang Ayah


Para ayah, pernahkah terpikir menjadi ayah itu butuh keahlian? Bahwa seorang ayah juga harus punya kompetensi inti (core competency) yang layak?

Banyak lelaki di kolong langit ini berpikir bahwa menjadi ayah adalah alamiah tanpa perlu rekayasa. Tanpa perlu keilmuan dan ketrampilan khusus. Bukankah saya otomatis menjadi ayah saat istri saya melahirkan anak kami? Bukankah anak saya pasti akan memanggil saya ‘ayah’, ‘bapak’, ‘abi’, dan sebagainya.

Ah, andai menjadi ayah itu semata alamiah maka tak mungkin Allah SWT. menurunkan sejumlah ayat yang menyatakan bahwa anak adalah ujian bagi para ayah mereka.

“dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. al-Anfal: 28).

Menjadi ayah alamiah terlalu mudah. Tanpa effort apapun kita sudah bisa menjadi ayah saat anak-anak kita lahir. Namun sungguh rugi bila kemudian anak-anak kita tumbuh besar menjadi anak yang tak punya visi dan misi hidup. Apalagi menjadi anak yang tak mengenal jati dirinya sebagai muslim, dan tak bangga dengan agamanya, apalagi turut berjuang untuk agamanya.

Karenanya bila kita ingin menjadi ayah luar biasa, bukan ayah yang ‘biasa-biasa saja’,  wajib memiliki core competency berikut ini:

1⃣ Menjadikan keimanan bukan dunia sebagai dasar mendidik anak. Anak bukan untuk kesenangan dan ambisi orang tua di dunia, tapi investasi hingga di akhirat. Berapa banyak ayah yang begitu fokus membesarkan anaknya untuk obsesi duniawi, tapi begitu longgar untuk ketaatan pada Allah. Tidak heran bila banyak remaja muslim yang kemudian tumbuh dengan kepribadian terbelah; muslim tapi sekuler. Ia shalat tapi berpacaran, berbakti pada orang tua tapi makan riba, dan sebagainya.

2⃣ Saatnya para ayah menyadari memiliki anak dan mendidik anak adalah investasi dunia dan akhirat. Bila berhasil menjadikan mereka sebagai hamba Allah yang saleh, terikat dengan hukum syara, tahu apa tujuan hidup dan mati mereka, maka para ayah patut berbahagia. Memahami hukum Islam sebagai panduan mendidik anak. Dengan apalagi kita akan mengarahkan anak kita menuju kebaikan kalau bukan dengan ajaran Islam? Tak ada manual guide pendidikan anak sebaik ajaran Islam. Tuntunan Islam tak hanya membimbing anak kita sukses menaklukkan dunia, tapi juga berbahagia di akhirat.

3⃣ Penuh dengan simpanan kasih sayang. Kasih sayang itu adalah sifat Allah SWT. Bahkan Allah menetapkan kasih sayang atas diriNya sendiri. “Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang”(QS. al-An’am: 54). Sudah sepantasnya kasih sayang selalu berada di sifat terdepan para ayah dalam mengasuh dan mendidik anak, dan simpan kemarahan di bagian terbelakang. Sebagaimana Allah SWT. juga menjadikan hal itu atas diriNya sendiri,  “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”(HR. Bukhari, Muslim).

Tentu saja masih ada kompetisi inti lain yang harus dimiliki para ayah, tapi semoga tiga hal mendasar ini jadi pedoman penting yang harus dimiliki oleh mereka.


Source : Channel parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
MEMBANGUN KESADARAN ANAK SEJAK DINI
========================


Pada dasarnya tingkat kesadaran (idrok) anak ada tiga:

🔑 Pertama, kesadaran sensasional (idrok syu’uriy) yang muncul dari tuntutan kebutuhan jasmani dan naluri. Misal, anak usia 0-2 tahun merasa lapar atau haus baru menyadari bila dia butuh ASI atau menunjuk-nunjuk gelas yang ada airnya agar dia diberi minum. Pada dataran inilah kepekaan ibu terhadap seluruh kebutuhan ananda dituntut agar tidak salah solusi. Jangan sampai ananda butuh makan malah dipaksa tidur atau butuh tidur dipaksa makan, butuh bermain dipaksa belajar atau butuh belajar disuruh bermain. Butuh kasih sayang diberikan jajanan dan mainan, butuh sholat berjamaah disuruh nonton TV atau diberi HP. Nah bila anak usia baligh masih level ini kesadarannya maka prilakunya didominasi dorongan perasaan dibanding berpikirnya.

🔑 Kedua, kesadaran rasional (idrok aqliy) hasil dari sebuah pemikiran. Dimana anak mulai memiliki pendapat dalam memenuhi kebutuhannya baik jasmani maupun naluri, mulai bersitegang dengan ibunda, berdiskusi banyak hal, seringkali bertentangan pendapat dan keinginan. Disinilah dibutuhkan proses berpikir benar saat anak usia dini, menuntunnya dengan sabar bahwa yang benar-benar dia penuhi adalah kebutuhan bukan keinginan-keinginan hawa nafsu.

Membangun metode berpikir saat ini adalah awal membiasakan ananda melihat akurasi fakta, menjauhkan diri dari kekeliruan dalam mengindera, selalu teliti siapa yang menyampaikan informasi dan hanya percaya kepada orang-orang yang terjaga ketsiqohannya yaitu orang tua dan gurunya. Berikutnya berupaya mengikatkan informasi yang benar dengan kebenaran realitas oleh otaknya. Inilah yang akan menuntun ananda untuk berpikir mendalam, tidak dangkal dan ananda terbiasa berpikir tentang kebenaran.

🔑 Ketiga adalah kesadaran ruhiyyah (idrok shillah billah), dimana ini muncul dari akal. Hanya saja akal anak dituntun oleh ibu dan ayah bahwa dibalik realitas yang ada, ada Allah yang Maha Pencipta, merasakan pengaruh Allah dalam alam, manusia dan kehidupan. Memahami bahwa Allah adalah Mudabbir (Pengatur), Penyayang, Pemberi, Berkuasa, Berkehendak dsb. Pada titik ini bunda harus mampu memunculkan rasa pengagungan ananda terhadap Allah, perasaan untuk mensucikannya, dan memunculkan rasa syukur yang mendalam pada Allah sehingga prilaku ananda tergiring untuk taat pada Allah, menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

💡 Hadirnya Allah dalam sebuah kesadaran yang dijadikan landasan berpikir bagi ananda, inilah yang kita sebut basis AQIDAH dalam PENDIDIKAN. Saat kita menuntun pemikiran ananda menuju mustanir, melihat realitas, melihat setiap persoalan hidup selalu ananda kaitkan dengan solusi aqidah islamiyyah.

💡 Perlu juga dipahami bagi pendidik wa bil khusus ibu dan ayah, tidak cukup mengantarkan ananda ke tingkat berpikir yang mendalam saja, tapi harus sampai kepada berpikir mustanir (cemerlang). Sebab manusia itu bisa bangkit dengan shohih (benar), bisa berubah dengan benar hanya bila sampai ke tingkat berpikir mustanir, dan upaya ini sudah harus dikondisikan sejak anak usia dini, stimulasi berpikirnya juga harus stimulasi berpikir mustanir. Wallaahu ‘alam bishshowab


Source: channel parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
PENTINGNYA MEMAHAMI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI


🌟 Anak usia dini memiliki potensi yang luar biasa. Saat itu otak tumbuh pesat dan siap diisi dengan berbagai informasi dan pengalaman.

🌟 Penelitian menunjukkan anak usia dini adalah masa windows of opportunity. Pada masa ini, otak anak bagaikan spons yang dapat menyerap cairan. Agar dapat menyerap, spons tersebut tentunya harus ditempatkan dalam air. Air inilah yang diumpamakan sebagai pengalaman. Di sinilah letak peranan orang tua yang bertugas memberikan pengalaman kepada anak-anak dan mengenalkan mereka pada aktivitas yang diminatinya.

🌟 Jika sejak bayi, anak sudah distimulasi dengan berbagai rangsangan, otak kecilnya pun akan menyerap. Sebagai contoh, kemampuan bicara anak, jika tidak sering dirangsang, maka anak akan mengalami keterlambatan berbicara. Namun, jika anak intens diajak berbicara, maka, kemampuan verbalnya pun akan terstimulasi dengan baik.

🌟 Hasil penelitian tentang perkembangan intelektual anak menunjukkan bahwa pada usia 4 tahun anak sudah mencapai separuh dari kemampuan intelektualnya, dan pada umur 8 tahun akan mencapai 80 %. Setelah umur 8 tahun, kemampuan intelektualnya hanya dapat diubah sebanyak 20%.

🌟 Selama 4 tahun pertama dari kehidupannya, perkembangan intelektual anak sama banyaknya dengan perkembangan selama 13 tahun berikut. Karena itu,  menggali dan mengembangkan potensi mereka sejak dini menjadi sangat penting.

🌟 Banyak ahli yang mengatakan bahwa kapasitas belajar anak yang terbentuk dalam masa ini akan menjadi landasan bagi semua proses belajar di masa depan. Orang dewasa yang tetap bisa belajar dengan mudah umumnya adalah mereka yang dari sejak kecil terbiasa menggunakan otaknya untuk belajar. Mereka yang cabang-cabang otaknya lebih banyak karena sering dipakai belajar sewaktu kecil, ternyata punya respon yang lebih bagus, inisiatif yang lebih cepat, daya tangkap dan ketelitian yang lebih bagus. Selain itu, motivasinya untuk maju juga berbeda.

🌟 Keberhasilan suatu pendidikan sering dikaitkan dengan sejauh mana orang tua memahami anak sebagai individu yang unik, dimana setiap anak memiliki potensi (keahlian) yang berbeda  namun saling melengkapi dan berharga.

🌟 Potensi yang dimaksud disini adalah hal-hal spesifik yang apa pada diri anak, yang nampak lebih jika dibandingkan dengan anak seusianya. Selain anak adalah individu yang unik, mereka adalah tetap anak-anak, yang masih terus tumbuh dan berkembang.

🌟 Anak-anak pada dasarnya kreatif, mereka mempunyai ciri-ciri individu yang misalnya rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Pengalaman konkret adalah yang dibutuhkan anak dalam usia ini. Untuk itu, sejak dalam kandungan, ibu dapat melakukan berbagai hal yang dapat menstimulasi perkembangan otak bayi.

🌟 Di antaranya dengan membacakan cerita, ayat-ayat Al-Qur’an atau sekadar mengajak bayi mengobrol. Penelitian menunjukkan otak bayi dalam kandungan dapat merespons kondisi di luar, telinga bayi tersebut dapat mendengar apa yang ibu katakan. Munculnya potensi (kemampuan) anak memang tergantung pada rangsangan yang diberikan orang tua, maka  merupakan kewajiban orang tua untuk menggali sekaligus mengembangkan potensi anak sejak dini.

📝 Makin dini anak menerima stimulasi, akan semakin baik. Bersiaplah menjadi orang tua terbaik buat anak.

Wallahu a'lam bishshowab

Source : channel parenting telegram

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Memahami Anak Usia Dini



📝 Akibat orang tua tidak memahami karakteristik anak usia dini (0-6) seringkali merasa kesal dan tidak tepat dalam menangani perilaku anak. Disinilah betapa pentingnya memahami anak.

📝 Salah memperlakukan anak juga bisa berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan fisik, psikis, sosial dan kepribadian islam anak

📝 Beberapa alasan penting memahami karakteristik anak usia dini:

1⃣ Usia dini adalah era peletakan dasar-dasar kepribadian Islam yang dibangun utk sepanjang kehidupan.                              

2⃣ Pengalaman awal anak usia dini cendrung bertahan dan mempengaruhi perilaku di tahapan usia berikutnya dan akan berkembang menjadi kebiasaan. Maka perlu dirancang pengalaman-pengalaman belajar yang menguatkan pondasi bangunan aqidah dan syariah.                                    

3⃣ Pertumbuhan dan perkembangan Fisik, motori, naluri dan berpikir anak mengalami kecepatan yang luar biasa, 0-4 th, 50% kecerdasan intelektual sudah diserap anak. Usia 8 tahun sudah diserap 80%

📝 Karenanya ada beberapa karakteristik umum yang harus kita pahami :                                                     

💓 Unik, bahwa setiap anak tidaklah sama, memiliki ciri khas masing-masing karena perbedaan bawaan, suasana lingkungan, pola asuh dan proses pembelajaran.                                             

💓 Egosentris, baqo yang tinggi, sedang mengalami keakuan yang hanya memahami satu sudut panjang yaitu kepentingan diri sendiri.                            
 
💓 Aktif dan energik,tidak pernah kehabisan energi  kecuali saat tidur.

💓 Rasa ingin tahu yang tinggi, terutama pada hal-hal yang baru.

💓 Eksploratif dan berjiwa Petualang, yang harus senantiasa difasilitasi dan diarahkan dan dikendalikan

💓 Spontanitas, ceplas ceplos dalam mengekspresikan kebutuhan naluri dan pemikirannya. 

💓 Selalu senang dan kaya ide dan imajinatif.

💓 Mudah frustasi bila keinginannya tidak dipenuhi dan merasa kecewa meluapkan dengan menangis atau marah-marah

💓 Kurang pertimbangan, apakah bahaya atau tidak.

💓 Daya perhatian yang pendek, tidak akan mampu duduk lama-lama  

💓 Semangat belajar yang tinggi yang membuat bunda kewalahan.

💓 Semakin menunjukkan minat terhadap teman sebaya untuk sosialisasi.

📝 Dengan memahami anak seperti ink semoga bunda mendapatkan pola dalam mengasuh dan mendidik ananda.

Wallaahu a'lam bishshowab


Source: Channel parenting telegram

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Potensi Pendengaran Bagi Kecerdasan Anak


1⃣ Apakah tayangan TV dapat merusak kemampuan pendengaran anak usia 4 tahun? Walau acara islami dan bermanfaat?

📝 TV termasuk sarana visual yang lebih menstimulus saraf mata. Untuk anak usia dini bila ini yang lebih dominan, anak kurang peka terhadap pendengaran dan suara, akan bermasalah dalam fokus belajar dan menghafalkan Al-Qur'an atau kurang respon terhadap panggilan orang tua. Apalagi bila tayangan TV yang ditonton tidak memberikan realitas dan informasi yang benar, semisal kartun akan berdampak pada kesalahan berpikir anak, padahal anak membutuhkan proses berpikir benar dalam menstimulus berpikirnya dan landasan aqidah yang harus dia dengar dari ortunya. Kalau tidak dikatakan merusak pendengaran, kita bisa mengatakan kepekaan mendengarnya berkurang, otomatis kecerdasannya pun tidak sebagaimana seharusnya potensi yang dimiliki anak.
Untuk tayangan pada dasarnya boleh-boleh saja ditonton, asal terukur target pembelajarannya. Misalkan bunda mau menargetkan keberanian al-Fatih maka mengajak anak menonton, ini bisa memfungsikan semua komponen berpikir, indera, otak, fakta dan informasi sebelumnya. Yang kurang efektif itu membiarkan anak dalam rentang waktu berjam-jam menonton sebuah tayangan, yang ini akan mengganggu target pendidikan kompetensi dasar yaitu menghafalkan Al-Qur'an. Menurut saya bisa mengganggu fungsi dengar untuk tayangan apapun bila visual lebih dominan karena saraf matanya lebih peka dan akan lebih tertarik pada tayangan dibandingkan mendengarkan Al-Qur'an dari ayah bundanya.

2⃣ Apakah sama dampaknya ketika anak menonton TV hanya seminggu 1x?

📝 Menyikapi TV harus bijak, tidak harus ektrim, asal terjadwal, bukan tayangan yang merusak dan pendampingan ortu, sepanjang ortu bisa mengatur itu semua, kapan saatnya belajar, kapan saatnya melaksanakan pembiasaan menjalankan sholat, makan dengan adab-adab mandi dengan Adab-adab, insya Allah TV dijadikan hanya sekedar hiburan, rehat sejenak bagi anak-anak.

3⃣ Apakah punya dampak ketika mendengar kalimat yang tidak thayyib dari lingkungan? Terkadang tidak sejalan dengan pendidikan yang akan diterapkan.

📝 Tentunya berdampak pada anak, mereka orang-orang dapat mempengaruhi stimulus, namun bila kondisi seperti ini tidak bisa dihindari, kuatkan pengaruh ibu pada anak, memberitahu kepada anak dengan intens bahwa kalimat yang ini tidak ahsan dan tidak boleh ditiru, karena Allah dan Rasul hanya suka dengan kata-kata yang baik dan seterusnya. Insya Allah ada dampak positif yang bisa diambil dari kondisi tersebut. Bila bunda bisa menjadikan kondisi itu untuk menguatkan anak bukan melemahkan.

4⃣ Seperti kisah Fajar di atas, dalam kondisi yang berbeda. Bila seorang anak sejak kecil mengalami gangguan pendengaran (sejak lahir), bagaimana mengoptimalkan stimulasi, adakah teknik stimulasi yang bisa diikhtiarkan.

📝 Pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan medis dulu, Fajar kalau tidak salah walau dia lumpuh otak sarang dengarnya berfungsi baik, kalau pendengarannya sudah tidak berfungsi, tentunya kita tidak bisa stimulus pendengarannya, bisa stimulus indera yang lain, misalkan mata atau perabaan. Tentunya para ahli sudah menyiapkan media tersebut.

5⃣ Apakah ada perbedaan metode stimulasi pendengaran pada masing-masing tahapan usia anak 4 th dan 2 th?

📝 Tentunya ada, namun kompetensi dasarnya sama yaitu tahfidz Qur'an dan hafalan kalimah thoyyibah. Untuk bayi hingga 1 tahun, ibu bisa mendengarkan 1 juz perhari atau 2 juz seperti ayahnya Fajar. Bisa didengarkan melalui audio. 1 tahun hingga 2 tahun anak sudah bisa menirukan bacaan al-Qur'an dan kalimah thoyyibah, usia 3-4 tahun, bisa ditambah dengan tahsin, 4-6 tahun belajar mendengarkan bahasan al-Qur'an. Fungsi dengar itu ada di tahapan usia dini.
========================


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Potensi Pendengaran Bagi Kecerdasan Anak part 2

Pernah mendengar tentang Fajar yang cacat lumpuh otak (cerebral palsy), sejak usia 4,5 th sudah hafal al-Quran? Ternyata indera pendengarannya masih berfungsi dan orang tuanya mengoptimalkan fungsi dengarnya tersebut. Dengan melantunkan al-Quran, sehingga dia hafal.


Perkembangan kecerdasan anak pada dasarnya harus menstimulus semua indera sehingga anak bisa menangkap realitas dan informasi agar sel-sel otaknya dapat terhubung dengan optimal.


Namun indera pendengaran  adalah indera yang paling dulu diciptakan Allah dan paling dulu yang bisa distimulus bahkan sejak anak dalam kandungan.


Pada Anak Usia Dini potensi mendengar sungguh mengagumkan. Hanya mendengar sekali dia bisa menangkap informasi dengan cepat dan lebih bisa menyerap hafalan quran, nyanyian dsb. dibanding orang dewasa

      
Pakar psikolog mengatakan bahwa kepekaan pendengaran biasanya dikaitkan dengan perkembangan kognitif dan akan mempunyai kecerdasan yang cukup baik.


Dari sini kita bisa membuat suatu pembelajaran bagi anak usia dini dengan mengoptimalkan fungsi dengar dengan memperdengarkan al-Quran, menyampaikan materi pelajaran dengan lebih banyak mendengar, mengajarkan banyak perbedaan bunyi dan sebagainya.

💡 Indera pendengaran merupakan potensi yang paling awal diciptakan dibanding indera lainnya, sehingga sangat memungkinkan indera ini lebih awal distimulus. Stimulusnya bisa dilakukan sejak janin dalam kandungan hingga lewat usia dini.

💡 Memperdengarkan Al-Qur'an lebih bisa menentramkan anak dan membuat sel-sel otak lebih banyak terhubung. Mengoptimalkan indera pendengaran akan menjadikan anak peka terhadap suara dan berlatih fokus, ini berguna untuk hafalan Qur'an dan dalam pembelajaran lainnya.

💡 Mendengarkan itu pintu masuk berbagai ilmu dan informasi, khususnya seruan untuk taat, mendengar nasehat, dsb. Karena itu stimuluslah indera ini hanya yang baik-baik saja, beri lingkungan yang kondusif. Bila indra ini terjaga akan mengantarkan kecerdasan anak, lebih dari itu sangat membantu untuk membentuk kepribadian islam anak.

Wallaahu A'lam bishshowab
========================

Source: channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
KESADARAN RASIONAL ANAK


Usianya baru 6,5 tahun, namun begitu dia masuk program pendidikan usia tamyiz semangat beribadahnya sangat luar biasa. Tidak mau satu waktu pun sholat wajibnya ketinggalan bahkan tidak lagi diingatkan seakan tidak ingin ketinggalan masuk surga. Bila suatu waktu bundanya tida membawanya sholat berjamaah di waktu maghrib, Isya dan subuh dia akan menangis tersedu-sedu karena ditinggalkan dan tidak akan mau sholat sendiri.

Suatu waktu pernah dia ingin mengikuti bunda di acara kajian yang harus berangkat tegah malam karena mengejar agenda pagi harus sampai ke lokasi. Menjelang tidur dia minta dibangunkan jam 12 malam pas keberangkatan karena khawatir tertidur. Setengah jam sebelum jam 12.00 bunda membangunkan, diapun terbangun tapi tidak langsung ke mobil, dia ke kamar mandi. Bunda bertanya mau apa ke kamar mandi? Mau wudhu katanya. Bunda bilang bahwa saat ini kita siap-siap berangkat ayo naik ke mobil belum saatnya sholat subuh. Ananda menuju mobil, beberapa saat ananda turun lagi menuju rumah. Kenapa ke rumah lagi kita segera mau berangkat? Umi mengingatkan rada berteriak. Tidak lama kemudian ananda membawa seperangkat mukena sambil ucap buat sholat pas di jalan.

Ini adalah sekelumit kisah dimana seorang anak usia tamyiz bisa memiliki kesadaran yang muncul dari proses berpikir, bila basis aqidah usia dini sukses, anak di usia ini dapat melakukan syariah islam yang muncul dari kesadaran ruhiyyah, melaksanakan syariah karena ingin mendekatkan diri pada Allah.

Usia tamyiz sudah memiliki thoriqoh aqliyyah (berpikir rasional), cara yang menjadi dasar bagi berlangsungnya aktivitas berpikir dengan melihatkan empat komponen berpikir, fakta, indera, otak dan informasi sebelumnya yang terkait dengan fakta tersebut. Metode berpikir ini tidak akan mengalami perubahan dan konstan, harus dijadikan baku bagi berpikir ananda.

🔑 Definisi metode rasional adalah metode tertentu dalam pengkajian yang ditempuh untuk mengetahui realitas sesuatu yang dikaji dengan jalan memindahkan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak, disertai sejumlah informasi terdahulu yang akan digunakan menafsirkan fakta tersebut.

Selanjutnya otak akan memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Penilaian ini adalah pemikiran atau kesadaran rasional. Disinilah perlunya melatih dan membiasakan anak usia tamyiz memiliki metode aqliyyah, memandang alam, manusia dan kehidupan adalah obyek berpikir yang harus diproses secara rasional.

Misal, ananda diberi pelajaran tentang kebersihan. Maka ananda harus hadir dalam realitas kebersihan, rumah yang bersih, kamar mandi yang bersih, badan yang bersih, sehingga dia mengindera secara langsung, berikutnya berilah informasi yang lengkap tentang kebersihan, manfaatnya dan bagaimana manusia sangat suka dengan kebersihan, juga berikan informasi dari al-Quran dan hadist bahwa Allah menyukai orang-orang yang bersih dan menyukai keindahan dan sebagainya. Dari sini akan digiring ananda ke arah berpikir rasional.

Satu hal yang harus dihindari dalam proses ini adalah memberikan opini terdahulu tentang fakta. Misalnya memberikan opini bahwa hujan-hujanan adalah penyebab sakit. Opini akan mangantarkan ananda berpikir salah yang di dalamnya ada dusta, mengakibat anandapun terbiasa berbohong dalam beragumen.

Jika metode rasional digunakan dengan benar, maka pada saat itu otak akan memberikan penilaiannya atas fakta tersebut. Jika metode ini digunakan dengan benar, ia akan memberikan kesimpulan yang benar. Disinilah pentingnya berpikir rasional untuk mendapatkan proses berpikir benar. Jadilah ananda akan mendapatkan kesimpulan bahwa orang yang senantiasa hidup bersih akan selalu sehat berguna menjalankan kegiatan sehari-hari dengan semangat. Lebih dari itu Allah mencintai anak yang bersih dan akan memberikan balasan kebaikan bagi anak yang suka kebersihan. Ini akan mendorongnya untuk mengamalkannya. Bila bunda senantiasa mendampingi dan membiasakan maka kebersihan akan menjadi habit.


Source : channel parenting telegram

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
SAAT KITA DIUJI DENGAN ANAK
--------------------------------------------------------------------------
Setiap orang tua tidak selalu mulus membersamai anak, pasti ada ujian yang dilalui baik besar maupun kecil. Ada yang diuji anak terjebak dengan pergaulan bebas, terpapar pornografi, anak mengalami depresi, anak mogok sekolah, anak tidak mau menjalankan kewajiban shalat dan sejumlah ujian lainnya jika ditulis semua akan menjadi daftar panjang dalam lembaran-lembaran yang tak bisa diprediksi kapan berakhir. Na’udzubilahi mindzalik.

Jangankan kita manusia biasa dalam kisah para Nabi pun hal seperti itu terjadi. Sebutlah nabi Nuh, Allah beri ujian anak yang durhaka pada Allah tidak mau mengikuti ayahnya untuk bertauhid pada Allah. Begitupun nabi Ya’qub sebelas anaknya kecuali Benyamin bersekongkol untuk membunuh Nabi Yusuf di sebuah sumur tua, bertahun-tahun lamanya nabi Ya’qub menunggu pertemuan dengan puteranya tersebut.. Sejatinya perkara anak adalah fitnah / ujian diabadikan oleh Allah dalam wahyunya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15].

Tentunya kita tidak ingin sang buah hati kelak menjadi musuh ayah bunda, sang buah hati tak pernah menjadi penyejuk dalam rumah kita. Kita selalu berharap dan bekerja keras dan sesungguh-sungguhnya untuk memberikan pendidikan terbaik agar anak-anak kita menjadi anak-anak permata dunia dan anak-anak cahaya mata yang senantiasa menyejukkan jiwa.
Sungguh banyak para bunda diuji dengan anak, katakanlah tangis seorang ibu yang mengalami perih mendalam mengetahui kabar bahwa anak laki-lakinya yang baru kelas lima SD melakukan pelecehan seksual pada teman sekelasnya, ada pula pengaduan curhatan seorang ibu dimana anaknya kecanduan gadget tidak bisa dinasehati dan malas beribadah, bahkan ada seorang ibu yang galau setengah mati terhadap anaknya yang sudah terpapar pornografi dan entah apalagi jenis ujiannya. Padahal kata mereka kami sangat menjaga anak-anak, merasa sudah memberikan pendidikan terbaik yang mereka punya.

Zaman telah menghadapkan kita pada ujian demi ujian, rasa kekhawatiranpun berlipat ganda saat anak-anak kita sudah mengenal lingkungannya dan dia menuntut eksplorasi lebih luas di luar rumah. Eksplorasinya itu yang membuat anak mengenal banyak teman yang beragam ada yang shaleh ada yang jahat. Inilah zaman Kapitalisme sekulerisme yang tidak ada jaminan perlindungan terhadap anak, yang membuat beban orang tua teramat berat dalam pendidikan.

Dalam kondisi seperti ini sebagai orang tua tentu tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah. Justru jika dihadapkan pada perkara ini segera bertaubat dan memohon ampunan pada Allah atas semua kekeliruan dan dosa-dosa kita dalam mendidik anak.

Walau kita dihadapkan ujian dengan anak, tidaklah mengurangi semangat orang tua dalam taat pada Allah. Nabi Nuh tak pernah mengurangi ketaatannya pada Allah dan tetap menyebarkan dakwah atas perintah Allah swt walau nabi Nuh dihadapkan pada kesedihan yang mendalam terhadap anaknya yang tidak mau mengikuti jejak ayahnya untuk beriman dan taat pada Allah swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Source : channel telegram parenting
MENDIDIK ANAK USIA PRABALIGH


Usia prabaligh dalam bahasan fiqh adalah usia sebelum mimpi (Ihtilam) bagi anak laki-laki, dan haidh bagi anak perempuan atau dalam pandangan lain sampai batas usia 15 tahun bila anak belum mengalami mimpi dan haidh.

Sesungguhnya anak usia dini (0-6) terkategori sebagai anak usia prabaligh, namun mengingat proses pertumbuhan dan perkembangannya tidaklah sama setelah usia itu maka pola pendidikan yang diberlakukan di usia dini memiliki ciri khas dan target yang hendak dicapai dalam tahapan proses pembentukan pola baik berpikir maupun naluri. Maka usia dini bisa disebut usia prabaligh tahap pertama.

Adapun usia prabaligh tahap 2 kisaran usia 7-10 tahun, ini batas anak-anak rata-rata belum baligh, usIa ini juga disebut usia tamyiz. Sedangkan usia 11-15 tahun bisa dikatakan usia baligh tahap pertama walau masih ada anak-anak rentang usia ini sudah baligh namun rata-rata sudah mengalami baligh khususnya anak perempuan.

Maka berdasarkan inilah nanti konsep pendidikan usia prabaligh dibuat dengan target yang hendak dicapai sesuai dengan apa yang sudah dicanangkan syariah islam.

Maka Fokus kita saat ini untuk mendidik usia prabaligh tahap dua (usia tamyiz) karena fase ini adalah fase batas akhir bagi kita untuk mempersiapkan ananda menuju taklif (beban) hukum syara. Sisi lain pada fase ini juga ada hukum syara’ yang wajib diberlakukan bagi anak diusia dan wajib dijalani, misalkan hukum syara’ yang terkait dengan ijtima’iyyah (aturan pergaulan), semisal pemisahan tempat tidur dan larangan memasuki kamar orang tua ditiga waktu khusus.

📝 Usia 6-10 tahun usia yang sudah lepas dari masa hadhonah (pengasuhan) dan secara emosional ananda mengalami perubahan yang signifikan dan sudah bisa membedakan mana perkara yang baik dan mana perkara yang buruk. Mengingat ananda sudah lepas dari masa hadhonah maka memungkinkan dia untuk mandiri, memenuhi keperluannya sendiri dan mengurusi dirinya secara mandiri meski perwalian ananda masih dibebankan kepada ayah hingga ananda baligh bagi laki-laki dan hingga menikah bagi perempuan. Saat inilah ananda diperkenankan Sekolah Dasar dengan rutinitas kurikulum yang diprogram sesuai level usianya. Bila diprogram dengan baik dan serius maka anak akan mengalami perkembangan-perkembangan yang menakjubkan dalam perkara kepribadian islamnya.

Rasulullah Saw. juga memerintahkan kepada anak usia 7 tahun ini untuk melaksanakan sholat, meski tidak dengan perintah yang tegas. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah atas hal tersebut jika telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya.”

Laki-laki tamyiz juga memiliki kedudukan tersendiri dalam hukum menutup aurat bagi wanita. Sebab, wanita hanya boleh memperlihatkan aurat kepada anak-anak yang belum mengerti aurat wanita, yaitu mereka yang belum tamyiz (QS A- Nuur: 31). Ini artinya, laki-laki tamyiz dianggap sudah mengerti aurat wanita.
Secara sosial, pada umumnya usia 7 tahun merupakan masa usia sekolah dasar (dengan kurikulum yang lebih padat dibandingkan masa sebelumnya dan waktu belajar di sekolah yang lebih lama).

Secara pemikiran dan naluriah ananda sudah siap untuk dibiasakan dan dilatih untuk taat pada Allah SWT. Di samping itu ananda mengalami interaksi dengan teman lebih banyak dan berhubungan dengan lingkungan lebih luas maka memungkinkan kepribadian islamnya dipengaruhi oleh lingkungan lebih banyak.

Dari sini dapat kita pahami bahwa betapa pentingnya mempersiapkan pola pendidikan yang sesuai bagi perkembangan anak usia tamyiz dan bunda dapat mengambil bagian untuk memutuskan segala sesuatunya bagi pendidikan ananda agar target di usia ini dapat tercapai. Dan yang juga harus diperhatikan adalah bagaimana pendidikan yang ada mampu melejitkan potensi ananda.

Wallaahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BUKAN LAGI ANAK MANJA



Begitu masuk usia sebelas tahun Gadis “kedatangan bulan”, perasaannya diselimuti kegelisahan,pikirannya kacau, bingung harus bagaimana ketika melihat ada darah yang keluar dari farjinya. Apa yang harus dilakukan, kenapa bisa terjadi seperti ini, umur saya masih sangat muda baru kelas 5 SD dan orang pertama yang mengalami haidh.

Dan yang paling suprise disertai menegangkan saat haidh datang tanpa persiapan apa-apa, khususnya bagaimana mensucikan pakaian dalam yang kena darah, jijik rasanya.

Beda dengan anak di atas, yang ini begitu melihat darah yang keluar langsung peluk bundanya sambil menangis tersedu-sedu dan lama baru reda, galau rasanya menghadapi sisi kejiwaan seperti ini, khawatir tidak bisa menjadi hamba yang baik,karena seluruh amal harus dipertanggungjawabkan,lemes ini sekujur tubuh hilang gairah berhar-hari memikirkan pahala dan dosa. Apalagi bunda membisiskkan, “Mulai hari ini dirimu menanggung pahala dan dosa sendiri.” Duh, semakin resah jiwa. Bagaimana dengan shalatku yang masih asal, bagaimana dengan jilbabku, pergaulan, ibadah lainnya yang masih sedikit?
Juga ada anak yang pertama kali mengalami haidh setiap kali ganti pembalut, selalu minta dicucikan pembantu karena tidak mau mengurusi bekas darah,jika pembantu tidak ada itu pakaian dalam bisa berhari-hari di kamar mandi. Karena bundanya tak cukup  waktu karena kesibukan untuk mendampingi ananda selama proses haidh berlangsung.

Lain anak perempuan lain pula dengan anak laki-laki ketika mengalami ihtilam meski sudah mendapatkan gambaran ciri-cirinya juga masih ragu apakah ini yang dinamakan mimpi, apakah ini yang disebut air mani, atau ini hanya cairan biasa, duh apakah aku sudah dewasa ataukah masih disebut anak-anak ?

Yang di atas itu potret kegelisahan anak yang baru dewasa ketika mengalami menstruasi atau mimpi pertama kali,namun sang ibu jauuuh lebih gelisah jika mengalami anak perempuannya haidh tanpa terduga dan tidak sesuai perkiraan umur yang dibayangkan sementara orang tua tak cukup memberikan persiapan, baik itu perkara keimanan, pemahaman tsaqafah islam dan wawasan seputar haidh. Semakin terasa besarnya kesalahan saat di usia yang sudah dewasa itu berpikir dan berprilaku ananda masih kanak-kanak.

Apalagi menghadapi anak laki-laki tentu ibu seringkali sulit mendeteksi dan intervensi. Saat ihtilam jika anak tidak tebruka mungkin luput dari perhatian ? Shalat subuh saja masih dibangunkan, ke mesjid sekali-kali, belum bisa cuci baju sendiri, pulang sekolah sepatu masih dimana, tas dimana, seragampun masih dirapihkan mama.

Ihtilam bagi anak laki-laki disertai tumbuhnya rambut di seputar kemaluan dan haidh bagi anak perempuan atau ada tanda kehamilan adalah ciri anak sudah dewasa dan mukallaf menanggung beban hukum-hukum syara’. Dalam konsep pendidikan sekuler tidak mengenal standar dewasa seperti ini, maka tidak pernah menyiapkan kurikulum konsekuensi pertanggungjawaban terhadap Allah swt.

Karenanya tidak heran jika di Sekolah Dasar di Indonesia anak-anak yang mengalami menstruasi masih disebut anak-anak hingga mereke usia 18 tahun mengikuti konsep anak di dunia. Ini menyesatkan dunia pendidikan dalam Islam. Tidaklah salah jika kita mengatakan anak-anak kita masih berprilaku manja dalam kesehariannya, masih merepotkan keluarga dan banyak orang, tidak mandiri dan cendrung tidak bisa mengurusi diri sendiri,padahal semua itu tidak perlu terjadi.

Seharusnya jika proses pendidikan Islam sesuai target,maka usia 10 tahun anak sudah memiliki kepribadian Islam, memiliki kecerdasan berpikir islami dan kesalehan jiwa dan sejumlah keterampilan hidup untuk memimpin dan kemandirian. Sehingga saat anak mengalami baligh pertama tidak perlu ada episode kegalauan tapi yang ada adalah kepercayaan diri sebagai manusia dewasa yang sudah memahami segala konsekuensi dari keimanan. Kalau tohpun ada kegalauan itu bisa segera dikendalikan sebab sudah cukup tsqafah Islam dalam benak dan memiliki habit yang baik dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah swt sejak rentang usia 7-10 tahun.
Jadi kesiapan anak pasca baligh sangat ditentukan pendidikan anak di usia prabaligh, saat usia dini maupun usia mumayyiz. Kesuksesan pedidikan di usia prabalgh sangat menentukan kesiapan anak saat dia di usia baligh. Maka orang tua harus mengoptimalkan diri mendidik anak-anak prabaligh dan harus tuntas di setiap target yang diinginkan syariah Islam terhadap anak baik pola berpikir Islami maupun pola sikap islami.

Jika udah ditentukan maka anak yang tadinya manja, pas fase baligh tidak lagi, justru tidak hanya pandai mengurusi urusan dirinya tapi juga kreatif mengurusi urusan orang lain dengan Islam.

Adapun yang harus dimiliki anak pas baligh adalah :

1. Memiliki kepribadian Islan

2. Memiliki hafalan Alquran yang banyak sebagai ma’lumah sabiqah yang dipakai untuk menilai benda, perbuatan dan pemikiran.

3. Memiliki tsaqafah dasar berupa aqidah Islam, Fiqh, Tafsir, Ilmu Alquran,Ilmu Hadist, Siroh Rasulullah saw, Bahasa Arab, tarikh muslim, Ushul Fiqh

4. Memilik lifeskil yang  didapatkan dari ilmu math, Sains dan Geografi, Komputer,berenang, berkuda, memanah, dasar-dasar baris berbaris dll.

5. Memiliki jiwa kepemimpinan.

Semua dituangkan dalam kurikulum dan kurikulumm tersebut harus dikuasai oleh orang tua dan guru agar anak mendapatkan haknya untuk menjadi sosok pribadi islam yang tangguh, sosok imam dalam ketakwaan dan sosok umat terbaik di usianya.

Wallaahu a’lam bishowab


Source: channel telegram parenting



#trainer pendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
MENJAGA LISAN ANAK



Seringkali kita menyaksikan anak-anak  lisannya jorok dan kotor, jauh dari perkataan-perkataan yang terpuji. Bahasa-bahasa tiruan ataupun ciptaan anak terlontar begitu saja tanpa merasa ada yang salah. Mencaci sesama teman, mencela teman, menjuluki nama-nama yang buruk pada teman, maaf misalnya anjing, monyet, si kurus, si gendut dll menjadi perkara yang biasa. Tidak dipungkiri meski memang temannya gendut tidak rela disebut gendut atau meski temannya kurus tidak rela disebut kurus apalagi julukan-julukan lainnya yang menyakitkan hati jadilah bermusuhan.

Parahnya ada berkelompok kelompok anak seusia SD, SMP dan SMA memanggil nama-nama binatang sesama mereka tanpa ada yang sakit hati karena mereka adalah sesama. Namun kita sebagai orang tua gerah mendengarkannya, pastinya anak-anak tersebut tidak pernah dididik lisannya mengatakan hal-hal yang baik, terpuji dan ahsan.

Anak-anak yang seperti ini akan menciptakan lingkungan yang rusak di masyarakat. Setiap anak yang masuk lingkungan itu yang notabene juga ada di sekolah-sekolah formal akan terbawa dengan bahasa-bahasa celaan tersebut. ini pulalah yang membuat galau orang tua memasukkan anak di lingkungan yang tidak kondusif, khawatir anak yang sudah dijaga dengan baik jika berada di lingkungan anak-anak tercela tersebut pulang-pulang membawa bahasa-bahas yang tercela pula.

Ada beberapa hal benteng untuk menjaga anak-anak agar berkata dengan perkataan yang terpuji dan ahsan :

1. Anak harus dibekali tarkiz aqidah islam yang kokoh sehingga anak terbiasa lisannya dalam kesadaran berhubungan dengan Allah berikut beramal juga didorong karena idrak shillah billah.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam

2. Bekali anak dengan kekayaan tsaqafah islam, untuk menimbang segala sesuatunya termasuk lisannya dengan timbangan syariah islam dan memiliki akhlak terpuji dan memiliki adab sopan santun yang mulia.

3. Ketaatan penuh pada hukum-hukum Allah, memahami mana lisan yang harus diucapkan dan mana yang tidak untuk menyelamatkan orang lain.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya”

4. Muraqabatullah, anak yang senantiasa hidup akal dan hatinya pada pengawasan Allah tidak akan mau berkata sembarangan, karena dia yakin setiap kata akan dicatat. muliakan yang ada di kiri dan kanannya akan sibuk mencatat setiap apa yang dikeluarkan oleh lisannya.

Allah juga berfirman.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]

5. Memberikan tauladan yang baik dalam berkata oleh orang tua langsung. Ingatah lisan orang tua adalah pembentuk langsung aqliyyah anak, maka penuhilah lisan-lisan orang tua dengan muatan tsaqafah islam, motivasi-motivasi ruhiyyah dan bahasa-bahasa aqidah Islamiyyah.

Maka dengan demikian anak-anak penghafal Alquran akan memahami bahwa melantunkan ayat-ayat Alquran akan membuat lisannya terjaga. Mereka lebih baik membaca Alquran ketimbang harus berbicara yang tercela, menggibah, dan tidak ahsan.
Sejatinya para penghafal Alquran itu dapat mengungkapkan bahasa-bahasa Alquran dalam kehidupan mereka pun ketika mereka berada di tengah-tengah teman dan masyarakat.

Namun ini butuh kerja sungguh-sungguh bagi orang tua dan guru untuk membiasakan lisan-lisan Alquran ini hidup di tengah-tengah anak-anak kita dan perlu melatih diri sebaik mungkin agar anak merasakan betapa lisan tertinggi bagi mereka itu adalah lisan Alquran, lisan yang menyeru manusia di jalan Allah swt. Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
JUJURLAH NAK, WALAU KAU SALAH



Seringkali kita melihat tingkah polah anak sangat menyenangkan dan membahagiakan, bahkan kelihatan kecerdikannya sejak kecil. Namun sering juga kita mendapatkan anak yang pandai dalam bersilat lidah untuk menutupi kesalahannya dan tidak mau mengakui kesalahan malah menimpakan kesalahannya pada orang lain.

Pada kondisi seperti ini terkadang orang tua menanggapi sebagai suatu kelucuan karena anak pintar berkelit, kelihatan cerdas dan tidak mau kalah. Ini memang naluriyyah karena manusia itu sangat sulit mengakui kesalahan dan keberatan disalahkan walaupun dia salah.

Kondisi seperti ini memang tidak boleh berkembang karena merusak pola berpikir anak dan merusak jiwa kepemimpinan. Anak usia dini belum memahami mana yang benar mana yang salah kecuali dia diberikan informasi kebenaran dan kesalahan di atas aqidah islam yang kokoh. Sehingga anak terbiasa untuk menuntun berpikirnya secara benar dan landasan aqidah yang dia miliki mendorong dia untuk senantiasa berkata jujur kelak ketika dia sudah dewasa walau dia dalam posisi berbuat kesalahan.

Oleh karena itu perlu membangun berpikir benar ini dalam panggung pembelajaran bersama anak. Menghadirkan 4 unsur berpikir, yaitu melihat fakta secara menyeluruh dan benar, menghindari kesalahan indera dalam mengihsas fakta dan harus dipastikan akurasinya, lalu mengolahnya di dalam otak yang disertai informasi-informasi yang benar yang terkait dengan fakta tersebut. Sehingga mendapatkan kesimpulan yang benar. Berikutnya meletakkan poin-poin penting landasan aqidah  seperti Allah maha melihat, Allah Maha Tahu, Allah tidak pernah tidur dan sebagainya, agar tertanam dalam dirinya senantiasa ada pengawasan Allah dalam setiap amalnya.

Inilah yang mendorong ananda untuk senantiasa berkata jujur, walau dia melakukan kesalahan, anak akan mengakui dan segera meminta maaf atas kekeliruan yang dia buat.

Saat anak berkata jujur dan kita ketahui itu sebuah kesalahan, bijaklah menyikapi dan mintalah seluruh informasi kronologi kejadiannya, jangan segera memarahi. Memarahi akan membuat anak menutup diri untuk menceritakan. Anak yang baik biasanya tidak dalam kesengajaan untuk berbuat salah, namun karena dirinya yang labil kesalahan-kesalahan itu sering terjadi maka disinilah pentingnya keterbukaan dan ibu selalu siap sedia membantu anak untuk lebih dewasa bersikap dan menuntunnya tidak lagi berbuat kesalahan yang sama.

Ada satu kisah seorang anak usia 14 tahun ketika dia berbuat suatu kesalahan, menurut dia kesalahan itulah yang terbesar yang pernah dia lakukan karena dia sudah merasa tidak sopan terhadap guru. Karena saking merasa bersalah diapun bercerita kepada bundanya.

"Bunda, aku sudah berbuat kesalahan, tidak berlaku sopan terhadap guru, pesan bunda sudah aku langgar, maafkan aku ya, kemungkinan aku akan dikeluarkan dari sekolah. Bunda jangan marah ya, aku sudah jujur pastinya aku tetap dapat pahala, sebab orang jujur walau dia salah tetap di surga"

Teringat sebuah hadist:

عَنْ اَبــِى بَكْرٍ الصِّدِّيـْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ، فَاِنــَّهُ مَعَ اْلبِرِّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنــَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النـَّارِ. ابن حبان فى صحيحه

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya]

Mendengar pengakuannya tersebut, bundanya hanya berlapang dada dan mendengarkan dengan sabar kronologinya. Setelah mendengarkan kejujuran ceritanya,  lalu berdoa, “Ya Allah semoga guru tersebut meluaskan dan melapangkan hatinya untuk memaafkan ananda”.


Wallaahu a'lam bishawab

Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Gen-ACI Parenting Center:
📚MEMBANGKITKAN BADMOOD ANAK📚



🍃 Seorang umi mengkonsultasikan anaknya usia menjelang 10 tahun bahwa belakangan ini ananda sering keluar main bersama temannya tanpa izin dan kembali ke rumah hanya pas waktu-waktu shalat setelah itu balik lagi bersama teman-temannya. Belajarnya mulai menurun dan tahfidznya kadang semangat kadang malas, terkadang shalatnya juga sudah mepet-mepet waktu dan mulai tidak serius. Padahal sebelumnya dia anak yang manis, penurut dan fokus belajarnya bagus. Mulai rada gerah dinasehati, sudah ingin mengambil keputusan sendiri dalam pola hidupnya, merasa sudah dewasa dan bertanggung jawab atas dirinya, padahal seringkali dia melakukan kecerobohan, semisal PR kelupaan, pegang ponsel seringkali jatuh, membawa gelas yang berisi air atau susu seringkali tumpah dan seringkali berbuat kesalahan.

📎 Namanya juga anak-anak seringkali tidak bisa mengontrol emosi, kenapa? Sebab anak-anak belum memiliki kematangan tsaqofah Islam yang akan dia jadikan sebagai pemahaman untuk mengontrol amalnya, apalagi kemampuan mengikat pemahaman dengan amal belumlah kuat. Jangankan anak-anak orang dewasa yang yang sudah memiliki tsaqofah yang baik juga seringkali BADMOOD, walau dalam hal ini orang dewasa lebih dipengaruhi godaan hawa nafsu dan bisikan syaitan.

📎 Sebelum kearah membangkitkan badmood anak, terlebih dahulu cari dulu faktor pemicunya, baru dilakukan treatment yang mengarah kepada faktor. Kondisi paling besar dalam mempengaruhi badmood anak biasanya anak mempunyai ketertarikan yang lain sehingga mengganggu fokus semisal memberikan fasilitas HP sepeda, atau yang lainnya. Bila tidak dengan komitmen hal seperti ini bisa merampas dan mengalihkan fokus anak dalam belajar dan beribadah. Sebab ini mempunyai keasikan tersendiri sementara ananda tidak ditumbuhkan rasa tanggung jawab yang memadai sehingga belum saatnya fasilitas itu diberikan.

💡 Bagaimana bunda membangkitkan mood anak dalam kebaikan terlebih dalam ibadah dan keterikatan pada syariah. Ini bukanlah kerja sampingan atau kerja seadanya namun kerja serius dan fokus bagi kita untuk senantiasa mengamati ke arah mana kecendrungan-kecendrungan ananda berkembang. Bila pengaruh tsaqofah Islam lebih mendominasi pemikirannya sebenarnya akan lebih mudah mengarahkannya, membawanya berdiskusi dan mengingatkannya, namun bisa tsaqofah di luar islam lebih dominan cukup sulit bagi kita untuk membenahi apalagi bila yang mempengaruhi itu adalah lingkungan teman dan guru yang tidak memiliki kepribadian Islam, apalagi bila ayah bundanya juga tidak berkepribadian Islam.

📖 Bisa saja orang tua dalam membangkitkan mood anak untuk shalat yang baik misalnya, sekolah dengan baik, bersikap yang baik, tidak konflik dengan adik, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak ahsan dsb orang tua memilih bersikap marah-marah atau mengeluarkan kata-kata yang menyakiti anak, sehingga anakpun menurut, namun bila ananda berada dalam posisi tekanan ananda akan melakukannya pas di hadapan ayah bunda saja, namun bila ayah atau ibunya luput mengamati diapun tidak melakukannya dengan benar. Maka disinilah pentingnya fokus kepada tujuan pendidikan itu sendiri yaitu membentuk kepribadian Islam, pola berpikir dan pola prilaku anak dan kuncinya keterikatan ayah dan bunda dg syariah dalam mendidik.

📖 Berpikirnya harus senantiasa diberi landasan aqidah islamiyyah dengan memberikan informasi-informasi yang wahyu yang memenuhi isi otaknya sekaligus menyentuh naluri beragamanya. Bahkan sentuhan naluri baqo dengan pujian, dihargai, dibangkitkan jiwa berani, kepemimpinanya dsb sangat dibutuhkan. Berikutnya sentuhan naluri nau’ dimana ayah dan bunda menunjukkan bahwa mereka sangat sayang sama ananda, tetap ingin bersama-sama di jalan Allah, kelak ananda yang akan meneruskan perjuangan ayah dan bunda dan harus melindungi adik-adik dsb. Terlepas apakah saat itu ananda akan melakukannya ataukah dia menundanya nanti.

📖 Sisi lain ayah dan bunda tidak perlu terburu-buru menyaksikan hasil agar anak bangkit kembali, bersabarlah sejenak sebab anak juga butuh berproses untuk memahami.
Sepanjang anak belum memasuki usia 10 tahun jangan terburu-buru untuk bertindak fisik, akan lebih arif bila kita segera mencari banyak strategi dalam mendidik agar ananda mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga dari badmood anak. Sekian strategi yang ayah bunda lakukan untuk membangunkan anak OFF nya maka sekian pula ilmu yang ayah dan bunda berikan pada ananda yang kelak setelah bertambah usia anada akan memahami arti dari pendidikan ayah bundanya pada dirinya.


Wallaahu a’lam bisshowab

Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi