Gen-ACI Parenting Center
626 subscribers
3 photos
2 links
Channel inspirasi & Ilmu Parenting
Download Telegram
🍃 BERKATALAH YANG BAIK ATAU HENDAKLAH DIAM 🍃


📮 Kelemahan banyak orang tua dalam mendidik anak adalah dalam bahasa, apalagi memilih kata-kata yang bisa menyentuh anak sehingga anak termotivasi dari lisan ayah dan bunda bukanlah perkara yang mudah. Seringkali yang terjadi adalah kata-kata instan dan doktrin tanpa anak mendapatkan informasi kejelasan dari sebuah perintah dan larangan. “Makan yang banyak nanti kamu kurus terus“ (Belajar yang tekun umi abi sangat sibuk, kalau tidak bisa belajar mandiri mau jadi apa kamu nanti, apa kamu mau jadi tukang ojek). “Cepetan sholat, kamu mau masuk neraka, kamu mau disiksa Allah.” Entah apalagi yang terkadang kita malas menjalani proses untuk mencelupkan setetes demi setetes embun keimanan pada fithroh anak.

Bahasa itu dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan, bila pikiran tidak lagi ON untuk mengendalikan maka bahasa yang keluar adalah bahasa emosional. Dan bahasa logika saja juga tidak cukup untuk membangun konsep diri positif pada anak harus disertai dengan bahasa aqidah berikut disertai bahasa rasa agar mampu menyentuh pikiran dan perasaan sekaligus.

Mengemas bahasa termasuk kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam mendidik anak, karena bahasa adalah wasilah untuk memahami dan menyampaikan pemahaman, dalam hal ini tentunya membentuk pemahaman anak untuk memunculkan kesadaran.

📝 Sebuah kesadaran adalah penting maka membutuhkan bahasa untuk mendorong anak agar berubah ke arah tercapainya tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya kepribadian Islam anak. Maka dari itu belajar harus dilakukan dengan jalan talqiyyan fikriyyan (proses belajar dengan pemikiran). Talqiyyan fikriyyan metodenya adalah bahasa.

📝 Bahasa ibu sejatinya adalah bahasa yang sangat disukai anak, walau dengan bahasa marah sekalipun. Namun ibu yang sholehah harus mampu menyesuaikan dengan syariah, disesuaikan juga dengan level berpikir anak.

📝 Bahasa yang digunakan untuk anak usia dini tentu tidaklah sama dengan bahasa untuk anak usia tamyiz dan usia baligh karena kemampuan berpikir mereka tidaklah sama. Maka ibu harus bijak menggunakan bahasa, pada saat kapan bahasa yang dikeluarkan dengan stimulasi, saat kapan bahasa disiplin dan saat kapan bahasa serius menjalani kehidupan. Jangan sampai terbalik-balik, seperti ketika anak usia 10 tahun harus diperlakukan serius malah bahasa pemakluman yang banyak digunakan. Anak usia dini yang seharusnya dengan bahasa stimulasi untuk mencelupkan aqidah namun digunakan bahasa pemaksaan menjalankan ketaatan.

🔐 Dalam hal ini tidaklah salah kita mengharapkan bahwa ibu butuh kecerdasan dalam berbahasa. Kecerdasan bahasa ini adalah cerminan kecerdasan berpikir dan kecerdasan emosional, maka ibu membutuhkan ilmu yang lebih banyak untuk dikuasai mencakup seluruh cabang ilmu, semisal Bahasa Arab, Al-Quran, Tsaqofah islam, sains, dan beberapa kemahiran dan kreatifitas untuk menyetel kepribadian Islam anak.

🍃 Namun seringkali ibu dihadapkan pada suatu kondisi tidak bisa mengendalikan tingkah polah anak, seakan ibu kehilangan bahasa untuk menyampaikan banyak hal apa yang ada dalam benaknya. Apalagi bila ibu berhadapan dengan kerewelan anak, perlawanan dan pemaksaan bahkan tindakan fisik anak ketika meminta sesuatu. Emosional ibu pastilah memuncak, semua perasaan serasa diaduk-aduk sehingga terlintas dalam benaknya, kok anak ini nakal amat, gak bisa diatur, pelawan dsb.

🍃 Bila ibu dihadapkan kondisi seperti ini hendaklah diam dan biarkan anak menangis dan meronta hingga ada seuntai doa ibu mampu menenangkannya. Jangan pernah mengeluarkan godaan bahasa yang tidak ahsan sebab itu ciri orang bukan beriman.

🍃 Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata kebaikan atau hendaklah dia diam”

Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
STRATEGI MENGUATKAN PENGARUH IBU TERHADAP ANAK

"Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya"
.........
Demikian Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam membuat stetmen bahwa fitrah anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fitrah anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fitrah anak tetap dalam keislamannya.

Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.

Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.

Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.

Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.

Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.

Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.

Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.

Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.

Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.

Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.

Wallaahu a’lam bishshowab

Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
POTENSI PENDENGARAN BAGI KECERDASAN ANAK


Pernah mendengar tentang Fajar yang cacat lumpuh otak (cerebral palsy), sejak usia 4,5 th sudah hafal al-Quran? Ternyata indera pendengarannya masih berfungsi dan orang tuanya mengoptimalkan fungsi dengarnya tersebut. Dengan melantunkan al-Quran, sehingga dia hafal.

Perkembangan kecerdasan anak pada dasarnya harus menstimulus semua indera sehingga anak bisa menangkap relitas dan informasi agar sel-sel otaknya dapat terhubung dengan optimal.
👑
Namun indera pendengaran adalah indera yang paling dulu diciptakan Allah dan paling dulu yang bisa distimulus bahkan sejak anak dalam kandungan.

Pada Anak Usia Dini potensi mendengar sungguh mengagumkan. Hanya mendengar sekali dia bisa menangkap informasi dengan cepat dan lebih bisa menyerap hafalan quran, nyanyian dsb. dibanding orang dewasa

Pakar pskolog mengatakan bahwa kepekaan pendengaran biasanya dikaitkan dengan perkembangan kognitif dan akan mempunyai kecerdasan yang cukup baik.

Dari sini kita bisa membuat suatu pembelajaran bagi anak usia dini dengan mengoptimalkan fungsi dengar dengan memperdengarkan al-Quran, menyampaikan materi pelajaran dengan lebih banyak mendengar, mrngajarkan banyak perbedaan bunyi dan sebagainya.

💡 Indera pendengaran merupakan potensi yang paling awal diciptakan dibanding indera lainnya, sehingga sangat memungkinkan indera ini lebih awal distimulus. Stimulusnya bisa dilakukan sejak janin dalam kandungan hingga lewat usia dini.

💡 Memperdengarkan Al-Qur'an lebih bisa menentramkan anak dan membuat sel-sel otak lebih banyak terhubung. Mengoptimalkan indera pendengaran akan menjadikan anak peka terhadap suara dan berlatih fokus, ini berguna untuk hafalan Qur'an dan dalam pembelajaran lainnya.

💡 Mendengarkan itu pintu masuk berbagai ilmu dan informasi, khususnya seruan untuk taat, mendengar nasehat, dsb. Karena itu stimuluslah indera ini hanya yang baik-baik saja, beri lingkungan yang kondusif. Bila indra ini terjaga akan mengantarkan kecerdasan anak, lebih dari itu sangat membantu untuk membentuk kepribadian islam anak.

Wallaahu A'lam bishshowab

source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
PENTINGNYA INFORMASI DALAM STIMULASI BERPIKIR ANAK USIA DINI

Masih ingatkah dengan kisah Nabi Musa yang diberi bara api oleh Firaun ketika dia menemukan Musa bayi di Sungai?

_Firaun melakukan hal tersebut karena dia percaya pada mimpinya bahwa akan ada seorang laki-laki yang akan meruntuhkan kekuasaannya. Oleh sebab itu, Firaun ingin membunuhnya. Namun, Aisiyah membujuk suaminya agar Musa bayi dipelihara oleh mereka karena mereka tidak memiliki anak._

_Untuk membuktikan bahwa Musa bayi adalah anak yang lemah, yang tidak mungkin meruntuhkan kekuasaan Firaun, Aisiyah menyarankan kepada suaminya untuk memberikan bara api dan melihat apa yang akan terjadi. Ya...Musa bayi memakan bara api tersebut._

Begitulah anak yang usianya dibawah sepuluh bulan, diberikan kotoran pun akan dia makan.

Pastinya saat ananda mulai mengenal benda-benda di sekelilingnya, Bunda akan memberikan informasi yang benar agar ananda bisa membedakan, mana yang makanan mana yang tidak.

Bila di bawah usia satu tahun ini ananda bisa membedakan, sebenarnya belumlah terjadi proses berpikir karena otak anak belum bisa mengaitkan fakta dengan informasi yang diberikan. Hal itu lebih kepada kemampuan mengingat kembali penginderaan yang diulang-ulang.

Dalam melakukan stimulasi berpikir pada anak usia dini *tidak wajib* dimulai dari anak menemukan fakta atau realitas. Namun, bisa diawali dari informasi. Setelah itu, ketika anak menemukan sebuah fakta yang sama dengan yang diinformasikan, maka barulah ia bisa memahami. Ia paham karena hasil dari pengaitan informasi dengan fakta yang ditemuinya.

Misalkan: hukum memakai jilbab adalah *wajib* bagi seorang muslimah saat keluar rumah. Ini berasal dari informasi Al Quran *bukan* dari penginderaan.

Penting sekali bagi para orangtua, khususnya
urgensi pengaitan antara informasi yang diberikan terlebih dahulu dengan fakta. Hal ini bertujuan agar ada suatu proses ketrampilan berpikir mengaitkan, yang disebut dengan _quwwatirrobthi_ (kekuatan mengikat).

Bila fase ini diabaikan, maka kita bisa lihat betapa banyak anak-anak yang lamban berpikirnya, dangkal, kurang informasi bahkan salah informasi. Perilaku yang muncul sulit dimotivasi, harus diulang-ulang terus dan disuruh-suruh terus untuk taat pada Allah ketika usianya sudah baligh.

Jumat berkah semoga semakin taqwa bersama ananda

Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
IKAT ANAK-ANAK PEREMPUANMU


Ketika membaca postingan kawan FB yang lewat di beranda, hati saya langsung tersentak. Ya Allah, telah datang masa ini? Inilah yang dimaksud dengan “ikat para perempuan di rumahmu (diantaranya termasuk anak-anak perempuanmu)”, sebuah nasehat Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk laki-laki pemimpin keluarga di akhir zaman, ketika masa Dajjal Sang Pembohong datang.

Bagaimana tidak, banyak remaja perempuan, putri-putri kaum muslimin, yang identitasnya dicirikan dengan kerudung yang dikenakannya, namun berani melakukan hal-hal yang tercela. Tak sekedar itu, melalui kalimat-kalimat postingan mereka yang telah menafikan Rabbnya. Dajjal datang diawali dengan sihirnya. Dunia maya menjadi ajang pertempuran pertama dan utama.

Lihatlah fenomena Tik Tok, ini senjata yang menyeret banyak perempuan untuk menanggalkan rasa malu dan bahkan menggadaikan aqidah.

Lihatlah fenomena media yang menempatkan sosok-sosok selebriti yang mengumbar aurat, mengagungkan materi, gaya hidup boros berlebihan, memamerkan kekayaan dan kecantikan.

Mereka diletakkan di singgasana publik agar menjadi figur bagi manusia. Dijadikan indah kehidupan mereka yang penuh limpahan kekayaan dan kesenangan. Dijadikan mata manusia khususnya perempuan menginginkan hidup seperti mereka, dijadikan mempesona kecantikan-kecantikan mereka. Seolah mereka adalah dewi-dewi dengan hati bagai malaikat. Sebuah kebohongan yang dipoles secara memikat oleh media.

Dijadikan kehidupan penuh ghibah sebagai aktivitas sehari-hari bagaikan sarapan pagi. Seolah-olah fitnah dan ghibah adalah hal biasa. Padahal dua aktivitas ini adalah kejahatan dan kehancuran bagi pelakunya. Semakin populer dan menjadi rujukan berita, akun-akun gosip yang menjual berita remeh temeh dari sang idola orbitan mereka.

Muncul sosok-sosok manusia yang diberhalakan oleh manusia lainnya. Dipilih ikon seperti Dilan dan Bowo. Sederhananya, mereka hanya umpan untuk mengeluarkan para perempuan muda dari keislamannya. Tanpa sadar, tanpa sadar dan tanpa sadar.

Wahai para ayah, ikatlah anak-anak perempuan kalian, sebelum mereka berlari tanpa akal lagi, keluar rumah-rumah kalian untuk memeluk berhala-berhala mereka.

Wahai para ibu, peluklah anak-anak perempuan kalian, sebelum mereka hilang iman dan kehormatannya. Jangan lepaskan, bila kalian tak ingin anak-anak perempuan yang kalian sayangi menjadi bahan bakar neraka.

Wahai para manusia berhala. Bertaubatlah dengan taubatan nasuha. Jangan jadikan diri kalian menjadi orang-orang pertama yang memasuki neraka sebelum para pemuja kalian.

NERAKA ITU BENCANA

Neraka itu bencana. Tak ada mau secara tertib antri memasuki neraka. Tak ada yang mau memasukinya sambil berjalan. Bahkan tak ada yang mau menghadapinya dengan wajahnya. Bahkan Firaun, bahkan Abu jahal, bahkan Namruj, bahkan syaithan-syaithan dan iblis sekalipun, mereka tak mau sukarela memasuki neraka. Bahkan orang-orang kafir yang kejam dan bengis, bahkan orang-orang munafik yang di dunia begitu sombongnya menantang Allah untuk menghadapi neraka.

Tak ada yang mau menghadapi gerbang api yang berkobar menjilat-jilat. Itulah sebabnya Allah Ta’ala menjadikan para penjaga neraka dari malaikat-malaikat yang besar, kasar dan menakutkan penghuni neraka.

Allah SWT berfirman:

إِذَآ أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِىَ تَفُورُ
izaaa ulquu fiihaa sami'uu lahaa syahiiqow wa hiya tafuur

"Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu membara,"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 7)

Allah SWT berfirman:

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
takaadu tamayyazu minal-ghoiizh, kullamaaa ulqiya fiihaa faujun saalahum khozanatuhaaa a lam yatikum naziir

"hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan kedalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 8 )

Allah SWT

berfirman:
قَالُوا بَلٰى قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَىْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِى ضَلٰلٍ كَبِيرٍ
qooluu balaa qod jaaaanaa naziirun fa kazzabnaa wa qulnaa maa nazzalallohu min syaiin in antum illaa fii dholaaling kabiir

"Mereka menjawab, Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar."
(QS. Al-Mulk 67: ayat 9)

Berbeda dengan Surga, yang para calon penghuninya menanti untuk memasukinya dengan tertib dan bahagia, para penghuni neraka justru ingin berlari menjauhi gerbang neraka yang menakutkan.

Untuk itulah ada malaikat-malaikat yang akan menangkapnya, menjeratnya dan melemparkannya ke neraka. Karena tak ada yang mau memasukinya dengan sukarela, syaithan-syaithan sekalipun.

Allah SWT berfirman:

لَا تُبْقِى وَلَا تَذَرُ
laa tubqii wa laa tazar

"Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,"
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 28)

Allah SWT berfirman:

لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ
lawwaahatul lil-basyar

"yang menghanguskan kulit manusia."
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 29)

Allah SWT berfirman:

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
'alaihaa tis'ata 'asyar

"Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)."
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 30)

Allah SWT berfirman:

وَمَا جَعَلْنَآ أَصْحٰبَ النَّارِ إِلَّا مَلٰٓئِكَةً ۙ وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِيمٰنًا ۙ وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ وَالْمُؤْمِنُونَ ۙ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ مَّرَضٌ وَالْكٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ اللَّهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۚ كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِى مَنْ يَشَآءُ ۚ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ وَمَا هِىَ إِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ
wa maa ja'alnaaa ash-haaban-naari illaa malaaaikataw wa maa ja'alnaa 'iddatahum illaa fitnatal lillaziina kafaruu liyastaiqinallaziina uutul-kitaaba wa yazdaadallaziina aamanuuu iimaanaw wa laa yartaaballaziina uutul-kitaaba wal-muminuuna wa liyaquulallaziina fii quluubihim marodhuw wal-kaafiruuna maazaaa aroodallohu bihaazaa masalaa, kazaalika yudhillullohu may yasyaaau wa yahdii may yasyaaa, wa maa ya'lamu junuuda robbika illaa huw, wa maa hiya illaa zikroo lil-basyar

"Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan? Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia."
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 31)

Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu anfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu 'alaihaa malaaaikatun ghilaazhun syidaadul laa ya'shuunalloha maaa amarohum wa yaf'aluuna maa yumaruun

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Akhirul Kalam, kembali lagi, wahai ibu dan ayah, selamatkan lah buah hati kita dari dahsyatnya api neraka.

Source : channel telegram parenting
BUKAN SEKEDAR BERMAIN

Bunda tentu pernah mengeluhkan anak laki-lakinya yang beranjak usia belasan tahun senang sekali keluar rumah bermain dengan temannya dibandingkan diam di rumah? Segala bentuk kekhawatiran sang Bunda sering dirasakan, mulai dari kejahatan yang saat ini targetnya adalah anak-anak, pergaulan bebas , target komunitas LGBT pada anak-anak, ancaman pornografi dan pelecehan seksual, sodomi hingga kekhawatiran kelalaian ananda dalam menjalankan kewajibannya pada Allah semisal shalat.

Anak laki-laki pasca 10 tahun, tentunya memiliki gejolak untuk mendapatkan eksplorasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan rumah dan tetangga, interaksi pertemanannyapun semakin banyak sebab dia ingin eksis dan diakui sebagai teman dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya di lingkungan teman. Saat ini juga anak sedang menguji nalarnya menuju kematangan pola berpikir dan kematangan pola prilaku yang pernah dia dapatkan selama ini dari orang tua dan sekolah.

Jika pendampingan ayah bunda terhadap anak usia ini berhasil dalam pematangan kepribadian Islamnya, maka anak akan tumbuh sebagai sosok remaja yang memesona, pemikiran yang kritis dan ketaatan yang kuat pada Allah swt. Kelak ketika dia sudah dewasa di usia 15 tahun kepribadian Islam itu melekat erat pada dirinya yang menjelma menjadi pribadi tangguh yang berpengaruh.

Namun sebaliknya bila orang tua memandang fase ini adalah fase yang membuat rumit, galau dengan memberikan stereotip yang negati tentu akan membuat jurang komunikasi antara anak dan orang tua sekaligus memadamkan potensi yang sejatinya mulai menyala-nyala. Anak tidak akan mau berkata jujur kemana dia bermain dan siapa saja teman bermainnya. Karenanya ada anak mengungkapkan alasan untuk bermain ke bundanya adalah bermain sepakbola, namun kenyataannya anak menonton video porno bersama teman-teman bermainnya yang notabene lebih tinggi usianya, jadilah anak tersebut korban pelecehan seksual sementara ayah dan bunda tidak memberikan pendampingan yang penuh tanggung jawab.

Zaman ini memang zaman penuh kekhawatiran, maka benar adanya quote dari Ja’far Ashshodiq, “Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anakmu sesegera mungkin sebelum lawan-lawanmu menggantikanmu dan menanamkan ide-ide yang salah dan keliru pada pemikiran mereka”

Maka dalam konsep pendidikan anak berdasarkan tahapan usia, anak sudah harus memiliki kepribadian Islam di usia 10 tahun dan sangat memungkin untuk hafal Al-quran di usia ini 30 juz sebagai ma’lumah sabiqah (informasi sebelumnya) sebagai informasi yang benar dalam berpikir benarnya menilai pemikiran, perbuatan dan benda di sekitarnya. Usia ini juga berlatih jiwa kepemimpinannya saat ideologi islam yang ditanamkan padanya dapat berproses menjadi qiyadah fikriyyah (kepemimpinan Berpikir).

Jika pendampingan orang tua membersaamai ananda dalam mengantarkan kepribadian Islam ini dapat optimal maka ada kepercayan yang besar bagi orang tua untuk melepaskan ananda bermain tanpa kegalauan yang sangat ketika anak berada dalam lingkungan teman-temannya. Karena anak dalam pribadi yang berpengaruh bagi teman-temannya.

Katakanlah Musa, awalnya bunda sangat mengkhawatirkan berma

innya di luar rumah, mengingat angka LGBT di daerahnya meningkat tajam 4000 an dan target rekrutmennya adalah anak-anak. Melarang anak bermain tentu tidaklah adil, karena anak butuh penjelajahan dan medan yang lebih luas untuk pengalaman, mengasah mental, keberanian dan ke PD an. Disinilah sang bunda harus berpikir keras untuk menjalin keterbukaan antara anak dan bunda agar anak mau jujur menceritakan siapa saja temannya, dimana alamatnya, keluarganya seperti apa, ananda bermain sepeda ke wilayah mana saja yang ditaklukan, apa kepentingan ananda berada di wilayah itu dsb.

Pertama sekali bunda melarang ananda bermain ananda Musa tidak mau minta izin sebab Musa sudah tahu kalau bundanya pasti melarang, sementara dia sudah meyakinkan bundanya bahwa dia akan baik-baik saja sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk, tidak pernah meninggalkan shalat saat bermain bahkan mengajak teman-temannya shalat di mesjid
dan sebelum bermain setor muraja'ah dulu minimal 1/2 juz. Bahkan ada salah satu temannya pindah sekolah ke sekolahnya karena tertarik dengan sekolah tahfidznya.

Bunda...saat ananda bermain pada dasarnya anak sedang maping, memetakan wilayah eksplorasinya, memetakan teman-temannya dan memtakan posisinya di hadapan teman-temannya. Beberapa strategi ini mungkin bisa diterapkan ketika ananda ingin bermain keluar rumah tanpa pendampingaan di luar :

1. Mintalah ananda untuk izin terlebih dahulu ketika keluar rumah. Berikan dia kepercayaan daberdiskusilah seputar target ananda bermain, semisal olah raga dengan bersepeda, biar berkeringat dan jadi sehat.

2. Pastikan kejujuran ananda bermain dimana dan memilih teman yang menguatkan ketaatan pada Allah. bacakan hadist rasulullah tentang memilih teman dan betapa teman adalah orang penting dalam hidup ananda.

3. Beri jadwal bermain dan batasi waktu pulang, jika tidak pulang pada waktu yang sudah ditentukan ada sangsi menghafal satu hadist misalnya agar ananda memahami makna disiplin.

4. Beri tugas geografi atau sains atau matematika saat bermain, misal menghitung berapa mesjid yang dilewati di wilayah bermain ananda, berapa gang yang dilewati, Jumlah teman bermain, berapa yang shalat dan berapa yang tidak. Trus apa yang ananda lakukan ketika ada teman yang tidak shalat. Atau bisa juga beri tugas dakwah. Dengan demikian bermainnya tetap dalam proses pembelajaran, mengasah mafhum dan mengikatkannya dengan amal dan proses tanggung jawab.

Anak, tidak selalu dalam pendampingan kita ketika bermain, berilah kepercayaan namun tetap waspada, pada kondisi seperti ini anak rentan tidak jujur, maka selalu kokohkan aqidah islam dan menstelkan dalam imannya bahwa dimanapun dia berada walau ayah bunda tidak bersamanya Allah senantiasa mengawasinya dan setiap apa yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan.

Walau tidak menutupkan kemungkinan ananda melakukan kesalahan-kesalahan maka pada saat inilah mengikatkan mafhum dan amal itu lebih erat lagi, tarkiz aqidah islam lebih kokoh lagi, tsaqafah Islam lebih deras lagi. Dengan seperti ini kelak ananda dalam tempaan yang keras dan semakin menguatkan kepribadian Islamnya dan ketika dia dewasa kepribadian islam ini sudah matang.

Wallau a’lam bishshawab

Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
SAAT KITA DIUJI DENGAN ANAK

Setiap orangtua tidak selalu mulus membersamai anak, pasti ada ujian yang dilalui baik besar maupun kecil. Ada yang diuji anak terjebak dengan pergaulan bebas, terpapar pornografi, anak mengalami depresi, anak mogok sekolah, anak tidak mau menjalankan kewajiban shalat dan sejumlah ujian lainnya jika ditulis semua akan menjadi daftar panjang dalam lembaran-lembaran yang tak bisa diprediksi kapan berakhir. Na’udzubilahi mindzalik.

Jangankan kita manusia biasa dalam kisah para Nabi pun hal seperti itu terjadi. Sebutlah nabi Nuh, Allah beri ujian anak yang durhaka pada Allah tidak mau mengikuti ayahnya untuk bertauhid pada Allah. Begitupun nabi Ya’qub sebelas anaknya kecuali Benyamin bersekongkol untuk membunuh Nabi Yusuf di sebuah sumur tua, bertahun-tahun lamanya nabi Ya’qub menunggu pertemuan dengan puteranya tersebut.. Sejatinya perkara anak adalah fitnah / ujian diabadikan oleh Allah dalam wahyunya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15].

Tentunya kita tidak ingin sang buah hati kelak menjadi musuh ayah bunda, sang buah hati tak pernah menjadi penyejuk dalam rumah kita. Kita selalu berharap dan bekerja keras dan sesungguh-sungguhnya untuk memberikan pendidikan terbaik agar anak-anak kita menjadi anak-anak permata dunia dan anak-anak cahaya mata yang senantiasa menyejukkan jiwa.
Sungguh banyak para bunda diuji dengan anak, katakanlah tangis seorang ibu yang mengalami perih mendalam mengetahui kabar bahwa anak laki-lakinya yang baru kelas lima SD melakukan pelecehan seksual pada teman sekelasnya, ada pula pengaduan curhatan seorang ibu dimana anaknya kecanduan gadget tidak bisa dinasehati dan malas beribadah, bahkan ada seorang ibu yang galau setengah mati terhadap anaknya yang sudah terpapar pornografi dan entah apalagi jenis ujiannya. Padahal kata mereka kami sangat menjaga anak-anak, merasa sudah memberikan pendidikan terbaik yang mereka punya.

Zaman telah menghadapkan kita pada ujian demi ujian, rasa kekhawatiranpun berlipatganda saat anak-anak kita sudah mengenal lingkungannya dan dia menuntut eksplorasi lebih luas di luar rumah. Eksplorasinya itu yang membuat anak mengenal banyak teman yang beragam ada yang shaleh ada yang jahat. Inilah zaman Kapitalisme sekulerisme yang tidak ada jaminan perlindungan terhadap anak, yang membuat beban orang tua teramat berat dalam pendidikan.

Dalam kondisi seperti ini sebagai orang tua tentu tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah. Justru jika dihadapkan pada perkara ini segera bertaubat dan memohon ampunan pada Allah atas semua kekeliruan dan dosa-dosa kita dalam mendidik anak.

Walau kita dihadapkan ujian dengan anak, tidaklah mengurangi semangat orang tua dalam taat pada Allah. Nabi Nuh tak pernah mengurangi ketaatannya pada Allah dan tetap menyebarkan dakwah atas perintah Allah swt walau nabi Nuh dihadapkan pada kesedihan yang mendalam terhadap anaknya yang tidak mau mengikuti jejak ayahnya untuk beriman dan taat pada Allah swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Kitapun bisa berkaca pada Nabi ya’qub ketika saudara-saudara nabi Yusuf menjerumukannya di sumur tua dan mereka berdusta pada
ayahnya bahwa Yusuf diterkam binatang buas dan memperlihatkan bukti darah domba yang dibalurkan pada bajunya Nabi Yusuf. Betapa menderitanya perasaan sang ayah saat itu namun Nabi Ya’qub bersabar dengan cobaan itu, melapangkan hatinya memaafkan anak-anaknya dan memberikan pada mereka kesempatan untuk kembali pada keshalehannya hingga saat yang diharapkan itu benar-benar disaksikan oleh Nabi Ya’qub, semua anak-anaknya kembali dalam kebaikan dan ketaatan.

Beberapa hal ini bisa kita lakukan ketika kita diuji dengan anak :
1. Menerima itu sebagai qadha dari Allah swt bahwa baik buruknya datang dari Allah
2. Muhasabah diri, jika ada amal yang merupakan dosa-dosa kita segeralah bertaubat
3. Hadapi anak dengan sabar dan berupayalah berkomunikasi dengan baik sehingga anak mau terbuka dan berkata jujur
4. Maafkan kesalahnnya dan tawarkan diri untuk membantunya keluar dari persoalan hidupnya
5. Dampingi anak selama masa membenahi diri dan lukukan penguatan-penguatan kerpibadian Islamnya hingga kita yakin anak sudah benar-benar kembali pada Allah dan rasulnya.
6. Senantiasa mendoakannya untuk ketaatannya dan terhindarnya dia dari kejahatan baik dari jin dan manusia.

Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
KETIKA ANANDA MERENGEK INGIN SEKOLAH

Apa yang seharusnya bunda lakukan ketika ananda usia 2 tahun atau 3 tahun merengek minta sekolah ? Ananda melihat banyak teman-temannya berangkat sekolah lengkap dengan seragam dan tas barunya, jadinya ia ingin juga sekolah. Bisa jadi bunda memenuhi permintaan ananda dan memilihkan Play group atau sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang saat ini memang sangat digalakkan. Setiap anak dalam kebijakan pendidikan di Indonesia saat ini diharuskan mengikuti program PAUD.

Terkadang ketika kita memilihkan sekolah PAUD/Play Group atau TK seringkali kita dihadapkan pada konsep pendidikan yang tidak jelas dan tidak berbasis aqidah islamiyyah serta tidak bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam. Tidak jarang dengan beragamnya karakteristik siswa di sana bukannya menghasilkan buah yang seharusnya dipetik justru meruntuhkan benih-benih kepribadian yang sudah ditanamkan di rumah.

Sekolah dalam kebijakan Khilafah islamiyyah didasarkan kepada umur anak, apakah dia kategori anak-anak (Thiflan) ataukah sudah baligh (Baalighon). Bukan berdasarkan asas materi pelajaran yang disediakan sekolah. Untuk itu jenjang sekolah dalam islam dibagi tiga :

1. Jenjang Pendidikan pertama (SD) mulai dari usia sempurna 6 tahun hingga usia sempurna 10 tahun
2. Jenjang Pendidikan kedua (SMP) usia sempurna 10 tahun hingga sempurna 14 tahun
3. Jenjang Pendidikan ketiga (SMA) usia sempurna 14 tahun hingga berakhir jenjang sekolah

Lantas bagaimana dengan anak usia di bawah 6 tahun sebelum pendidikan dasar / maka hal itu tidak disebut sebagai sekolah, sebab fase ini adalah fase hadhonah (pengasuhan) dan fase Taman Kanak-Kanak (Riyaadhul Athfal). Fase ini tidak dikelola oleh negara, diserahkan kepada mayarakat, bila masyarakat hendak membuat program sendiri silahkan, negara hanya mengatur pendidikan dari sisi materi pelajaran dan keterikatannya dengan politik pendidikan yang ditabanni oleh Khalifah.

Jika demikian haruskah memasukkan ananda ke lembaga tertentu, semisal PAUD ataukah TK? Perlu dipahami ketika ananda usia hadhonah 0-2 tahun sejatinya berada dalam tanggung jawab ibu berikut stimulasi-stimulasi pembangun kepribadian islam ananda dilakukan oleh ibu langsung, begitupun di usia 3 tahun sejatinya lakukan dominasi ibu untuk lebih mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada ananda. Usia 4-6 tahun adalah usia prasekolah dimana ananda sudah bisa belajar disiplin dan berlatih fokus, maka bunda bisa membuatkan kurikulum untuk anak usia dini berikut kegiatan-kegitan belajar yang bisa lebih menstimulus kepribadian Islam ananda.

Pada fase usia prasekolah ini sangat dianjurkan ibu adalah guru langsung bagi anak, jadi memang di bawah pendidikan ibu jauh lebih baik dibandingkan dimasukkan dalam sebuah lembaga PAUD atau RA, namun dengan program yang terukur dan terarah. Alasannya karena ibulah bersama ayah yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak usia dini dalam tumbuh kembang, baik kebutuhan fisik, akal maupun naluriyah.

Kalau tohpun bunda mau memasukkan ananda di PAUD atau RA maka pastikan pendidikannya berbasis aqidah islamiyyah, programnya jelas sesuai tumbuh kemabng anak dan guru-gurunya berkepribadian islam. Dengan begitu ananda tetap terjaga bahkan bisa melejit karena ada sinergi guru dan bunda. Namun bila itu tidak ada silahkan bunda membuat sekolah rumahan sendiri dimana bunda dan anak akan lebih merasakan betapa bentukan dasar-dasar kepribadian Islam pada anak adalah tanggung jawab yang agung dimana tidak hanya ananda yang berproses, kitapun ikut larut dalam lejitan kepribadian islam.

Wallahu a'lam bishshawab


Source : channel parenting telegram


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
JADI GINI LOH URUTAN TANGGUNG JAWAB NAFKAH ITU,;

Anak lak-laki menjadi tanggung jawab ayahnya sampai dia baligh.(bisa mencari nafkah sendiri).

Anak perempuan menjadi tanggung jawab ayahnya sampai dia menikah dan ketika menikah nafkahnya beralih kesuaminya sepenuhnya.

Ketika suaminya meninggal atau bercerai, nafkahnya akan dikembalikan kepada ayahnya dan keluarga laki-laki.

Sementara nafkah anak"nya sepenuhnya tetap menjadi tanggung jawab mantan suaminya (ayah anak"nya), dan jika anak"nya ikut ibunya dan masih dalam pengurusannya (anak" atau bayi), ibunya masih tetap diberikan nafkah karena mengurusi anak"nya dan menyusui bayinya (bahkan penyusuannya ini harus dibayar), jika mantan suaminya ini tidak mampu atau karna meninggal, maka nafkah anak" mereka menjadi tanggung jawab keluarga suaminya yang laki-laki (bapaknya, kakanya/adek laki",paman), sepenuhnya.

Ketahuilah wahai para laki-laki, ketika isterimu menafkahi anak"mu dengan cara yang haram dan menididiknya dengan cara yang salah, diakherat kamu tetap bertanggung jawab atas nafkah dan pendidikan anak"mu itu, bahkan atas nafkah haram dan pendidikan yang salah tersebut.

Dijaman ini, khususnya dilingkungan kita, indonesia, agaknya hukum ini diabaikan. Bisa jadi karna belom tahu atau bahkan tidak mau tahu.

Tapi yang jelas, para wanita disini sangat kuat, jangankan setelah ditinggal mati atau bercerai, bahkan ketika suaminya disisinya pun, nafkah kerap ada dipundak sang isteri.

Naifnya lagi, ketika para lelaki itu menikahi janda yang beranak, bahkan dia sibuk mendidik dan menafkahi anak tirinya tapi mengabaikan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Menjalankan Sunnah dengan mengabaikan kewajibannya, tekor pahala, sungguh itu akan menjadi hutang yang bertumpuk.
Dan kalian wahai wanita, meskipun taknada dosa bagimi menelantarkan anak"mu, tapi merawat menafkahi dan mendidik mereka mencintai Rabbnya dan berbakti pada ayahnya.(seburuk apapun dia) adalah jihadmu.

Source: Ust Dedy dwianda

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
POSISI PANCA INDERA DALAM PROSES BERPIKIR ANAK

Bismillahirrahmanirrahim

Indera merupakan unsur-unsur penting dalam berpikir, dimana indera tersebut dapat memindahkan fakta ke otak. Maka wajib bagi ayah bunda memacu siswanya menggunakan sebagian besar inderanya untuk memungkinkannya menyerap fakta sebagai obyek berpikir atau obyek belajar, meski fakta itu dihadirkan ketika belajar.

Seringkali ketika kita mendidik anak tidak punya kemampuan menghadirkan fakta ini dalam proses belajar mengajar anak, sehingga anak tidak mempu menjangkau makna-makna yang kita sampaikan karena apa yang kita obrolkan tidak hadir dalam benak anak. Kalau sudah seperti ini anak tidak akan tertarik belajar.

Kadangkala fakta yang kita hadirkan tidak menarik minat anak atau karena penyajian dalam uslub dan sarananya pun tidak tersedia. Maka kegagalan dalam menghadirkan fakta ini membuat anak tidak fokus dan tidak meminati pelajaran.

Jika fakta itu tidak hadir, maka guru harus bisa mendekatkan fakta tersebut ke dalam benak anak dengan uslub dan sarana yang memungkinkan anak dapat menggambarkan fakta tersebut, seakan-akan mereka mengihsasnya.

Disinilah pentingnya ayah bunda menjadi sosok yang kreatif dalam mendidik sebab tanpa kreatifitas proses belajar dan mengajar terasa membosankan, tidak hidup akalnya untuk memahami ilmu. Karena itu ihsas fakta merupakan unsur penting dalam berpikir.

Setiap indera, jika lebih banyak bekerjasama dengan indera lainnya dalam mengihsas fakta yang sama dengan indera lainnya, maka setiap itu pula kedalaman ihsas pada diri anak dan ia akan mengambil keputusan di atas sifat-sifat yang lebih dalam dan mampu manarasikannya lebih lengkap.

Misalkan dalam kegiatan belajar mengajar anak usia dini tentang kurma, anak diminta mencium baunya, melihat bentuk dan warnanya, mencicipi rasa dan meraba permukaan buahnya hingga memaknnya apalagi diajak ke kebun kurmanya dan melihat bentuk pohon dan daunnya dll, maka kehadiran fakta tersebut dan indera anak saling bekerjasama dalam mengihsas, anak akan jauh lebih dalam pengihsasannya disbanding ketika kita hanya sodorkan gambar kurma dan pohon kurma.

Maka disinilah urgennya panca indera , disini pula rangsangan kepekaan indera bisa dilatih untuk memindahkan fakta ke otak dengan sifat2 fakta yang lebih dalam.

Wallahu a’lam bishshowab

Note: Hasil baca dari kitab Usust Ta’lim wal Manhaj fi Dawlatil khilafah.


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
JUJURLAH WAHAI ANAKKU


Seringkali kita melihat tingkah polah anak sangat menyenangkan dan membahagiakan, bahkan kelihatan kecerdikannya sejak kecil. Namun sering juga kita mendapatkan anak yang pandai dalam bersilat lidah untuk menutupi kesalahannya dan tidak mau mengakui kesalahan malah menimpakan kesalahnnya pada orang lain.

Pada kondisi seperti ini terkadang orang tua menanggapi sebagai suatu kelucuan karena anak pintar berkelit, kelihatan cerdas dan tidak mau kalah. Ini memang naluriyyah karena manusia itu sangat sulit mengakui kesalahan dan keberatan disalahkan walaupun dia salah.

Kondisi seperti ini memang tidak boleh berkembang karena merusak pola berpikir anak dan merusak jiwa kepemimpinan. Anak usia dini belum memahami mana yang benar mana yang salah kecuali dia diberikan informasi kebenaran dan kesalahan di atas aqidah islam yang kokoh. Sehingga anak terbiasa untuk menuntun berpikirnya secara benar dan landasan aqidah yang dia miliki mendorong dia untuk senantiasa berkata jujur kelak ketika dia sudah dewasa walau dia dalam posisi berbuat kesalahan.

Oleh karena itu perlu membangun berpikir benar ini dalam panggung pembelajaran bersama anak. Menghadirkan 4 unsur berpikir, yaitu melihat fakta secara menyeluruh dan benar, menghindari kesalahan indera dalam mengihsas fakta dan harus dipastikan akurasinya, lalu mengolahnya di dalam otak yang disertai informasi-informasi yang benar yang terkait dengan fakta tersebut. Sehingga mendapatkan kesimpulan yang benar.

Berikutnya meletakkan poin-poin penting landasan aqidah seperti Allah maha melihat, Allah Maha Tahu, Allah tidak pernah tidur dan sebagainya, agar tertanam dalam dirinya senantiasa ada pengawasan Allah dalam setiap amalnya.

Inilah yang mendorong ananda untuk senantiasa berkata jujur, walau dia melakukan kesalahan, anak akan mengakui dan segera meminta maaf atas kekeliruan yang dia buat.

Saat anak berkata jujur dan kita ketahui itu sebuah kesalahan, bijaklah menyikapi dan mintalah seluruh informasi kronologi kejadiannya, jangan segera memarahi. Memarahi akan membuat anak menutup diri untuk menceritakan.

Anak yang baik biasanya tidak dalam kesengajaan untuk berbuat salah, namun karena dirinya yang labil kesalahan-kesalahan itu sering terjadi maka disinilah pentingnya keterbukaan dan ibu selalu siap sedia membantu anak untuk lebih dewasa bersikap dan menuntunnya tidak lagi berbuat kesalahan yang sama.

Ada satu kisah seorang anak usia 14 tahun ketika dia berbuat suatu kesalahan, menurut dia kesalahan itulah yang terbesar yang pernah dia lakukan karena dia sudah merasa tidak sopan terhadap guru. Karena saking merasa bersalah diapun bercerita kepada bundanya.

"Bunda, aku sudah berbuat kesalahan, tidak berlaku sopan terhadap guru, pesan bunda sudah aku langgar, maafkan aku ya, kemungkinan aku akan dikeluarkan dari sekolah. Bunda jangan marah ya, aku sudah jujur pastinya aku tetap dapat pahala, sebab orang jujur walau dia salah tetap di surga"

Teringat sebuah hadist:

عَنْ اَبــِى بَكْرٍ الصِّدِّيـْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ، فَاِنــَّهُ مَعَ اْلبِرِّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنــَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النـَّارِ. ابن حبان فى صحيحه

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya]

Mendengar pengakuannya tersebut, bundanya hanya berlapang dada dan mendengarkan dengan sabar kronologinya. Setelah mendengarkan kejujuran ceritanya, lalu berdoa, “Ya Allah semoga guru tersebut meluaskan dan melapangkan hatinya untuk memaafkan ananda”.

Wallaahu a'lam bishsowab

Source : channel parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
MEMBANGKITKAN BADMOOD ANAK

Seorang umi mengkonsultasikan anaknya usia menjelang 10 tahun bahwa belakangan ini ananda sering keluar main bersama temannya tanpa izin dan kembali ke rumah hanya pas waktu-waktu shalat setelah itu balik lagi bersama teman-temannya. Belajarnya mulai menurun dan tahfidznya kadang semangat kadang malas, terkadang shalatnya juga sudah mepet-mepet waktu dan mulai tidak serius. Padahal sebelumnya dia anak yang manis, penurut dan fokus belajarnya bagus. Mulai rada gerah dinasehati, sudah ingin mengambil keputusan sendiri dalam pola hidupnya, merasa sudah dewasa dan bertanggung jawab atas dirinya, padahal seringkali dia melakukan kecerobohan, semisal PR kelupaan, megang ponsel seringkali jatuh, membawa gelas yang berisi air atau susu seringkali tumpah dan seringkali berbuat kesalahan.

Namanya juga anak-anak seringkali tidak bisa mengontrol emosi, kenapa? Sebab anak-anak belum memeiliki kematangan tsaqofah Islam yang akan dia jadikan sebagai pemahaman untuk mengontrol amalnya, apalagi kemampuan mengikat pemahaman dengan amal belumlah kuat. Jangankan anak-anak orang dewasa yang yang sudah memiliki tsaqofah yang baik juga seringkali BADMOOD, walau dalam hal ini orang dewasa lebih dipengaruhi godaan hawa nafsu dan bisikan syaitan.

Sebelum kearah membangkitkan badmood anak, terlebih dahulu cari dulu faktor pemicunya, baru dilakukan teratmen yang mengarah kepada faktor. Kondisi paling besar dalam mempengaruhi badmood anak biasanya anak mempunyai ketertarikan yang lain sehingga mengganggu fokus semisal memberikan fasilitas HP sepeda, atau yang lainnya. Bila tidak dengan komitmen hal seperti ini bisa merampas dan mengalihkan fokus anak dalam belajar dan beribadah. Sebab ini mempunyai keasikan tersendiri sementara ananda tidak ditumbuhkan rasa tanggung jawab yang memadai sehingga belum saatnya fasilitas itu diberikan.

Bagaimana bunda membangkitkan mood anak dalam kebaikan terlebih dalam ibadah dan keterikatan pada syariah. Ini bukanlah kerja sampingan atau kerja seadanya namun kerja serius dan fokus bagi kita untuk senantiasa mengamati ke arah mana kecendrungan-kecendrungan ananda berkembang. Bila pengaruh tsaqofah Islam lebih mendominasi pemikirannya sebenarnya akan lebih mudah mengarahkannya, membawanya berdiskusi dan mengingatkannya, namun bisa tsaqofah di luar islam lebih dominan cukup sulit bagi kita untuk membenahi apalagi bila yang mempengaruhi itu adalah lingkungan teman dan guru yang tidak memiliki kepribadian Islam, apalagi bila ayah bundanya juga tidak berkepribadian Islam.

Bisa saja orang tua dalam membangkitkan mood anak untuk shalat yang baik misalnya, sekolah dengan baik, bersikap yang baik, tidak konflik dengan adik, tidak mengelurkan kata-kata yang tidak ahsan dsb orang tua memilih bersikap marah-marah atau mengeluarkan kata-kata yang menyakiti anak, sehingga anakpun menurut, namun bila ananda berada dalam posisi tekanan ananda akan melakukannya pas di hadapan ayah bunda saja, namun bila ayah atau ibunya luput mengamati diapun tidak melakukannya dengan benar. Maka disinilah pentingnya fokus kepada tujuan pendidikan itu sendiri yaitu membentuk kepribadian Islam, pola berpikir dan pola prilaku anak dan kuncinya keterikatan ayah dan bunda dg syariah dalam mendidik.

Berpikirnya harus senantiasa diberi landasan aqidah islamiyyah dengan memberikan informasi-informasi yang wahyu yang memenuhi isi otaknya sekaligus menyentuh naluri beragamanya. Bahkan sentuhan naluri baqo dengan pujian, dihargai, dibangkitkan jiwa berani, kepemimpinanya dsb sangat dibutuhkan. Berikutnya sentuhan naluri nau’ dimana ayah dan bunda menunjukkan bahwa mereka sangat sayang sama ananda, tetap ingin bersama-sama di jalan Allah, kelak ananda yang akan meneruskan perjuangan ayah dan bunda dan harus melindungi adik-adik dsb. Terlepas apakah saat itu ananda akan melakukannya ataukah dia menundanya nanti.
Pada sisi lain ayah dan bunda tidak perlu terburu-buru menyaksikan hasil agar anak bangkit kembali, bersabarlah sejenak sebab anak juga butuh berproses untuk memahami. Sepanjang anak belum memasuki usia 10 tahun jangan terburu-buru untuk bertindak fisik, akan lebih arif bila kita segera mencari banyak strategi dalam mendidik agar ananda mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga dari badmood anak.

Demikian strategi yang ayah bunda lakukan untuk membangunkan anak OFF nya maka sekian pula ilmu yang ayah dan bunda berikan pada ananda yang kelak setelah bertambah usia anada akan memahami arti dari pendikan ayah bundanya pada dirinya.

Wallaahu a’lam bishshowab


Source : channel telegram parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BERKATALAH YANG BAIK ATAU HENDAKLAH DIAM


📮 Kelemahan banyak orang tua dalam mendidik anak adalah dalam bahasa, apalagi memilih kata-kata yang bisa menyentuh anak sehingga anak termotivasi dari lisan ayah dan bunda bukanlah perkara yang mudah. Seringkali yang terjadi adalah kata-kata instan dan doktrin tanpa anak mendapatkan informasi kejelasan dari sebuah perintah dan larangan. “Makan yang banyak nanti kamu kurus terus“ (Belajar yang tekun umi abi sangat sibuk, kalau tidak bisa belajar mandiri mau jadi apa kamu nanti, apa kamu mau jadi tukang ojek). “Cepetan sholat, kamu mau masuk neraka, kamu mau disiksa Allah.” Entah apalagi yang terkadang kita malas menjalani proses untuk mencelupkan setetes demi setetes embun keimanan  pada fithroh anak.

Bahasa itu dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan, bila pikiran tidak lagi ON untuk mengendalikan maka bahasa yang keluar adalah bahasa emosional. Dan bahasa logika saja juga tidak cukup untuk membangun konsep diri positif pada anak harus disertai dengan bahasa aqidah berikut disertai bahasa rasa agar mampu menyentuh pikiran dan perasaan sekaligus.

Mengemas bahasa termasuk kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam mendidik anak, karena bahasa adalah wasilah untuk memahami dan menyampaikan pemahaman, dalam hal ini tentunya membentuk pemahaman anak untuk memunculkan kesadaran.

📝 Sebuah kesadaran adalah penting maka membutuhkan bahasa  untuk mendorong anak agar berubah ke arah tercapainya tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya kepribadian Islam anak. Maka dari itu  belajar harus dilakukan dengan jalan talqiyyan fikriyyan (proses belajar dengan pemikiran). Talqiyyan fikriyyan metodenya adalah bahasa.

📝 Bahasa ibu sejatinya adalah bahasa yang sangat disukai anak, walau dengan bahasa marah sekalipun. Namun ibu yang sholehah  harus mampu menyesuaikan dengan syariah, disesuaikan juga dengan level berpikir anak.

📝 Bahasa yang digunakan untuk anak usia dini tentu tidaklah sama dengan bahasa untuk anak usia tamyiz dan usia baligh karena kemampuan berpikir mereka tidaklah sama. Maka ibu harus bijak menggunakan bahasa, pada saat kapan bahasa yang dikeluarkan dengan stimulasi, saat kapan bahasa disiplin dan saat kapan bahasa serius menjalani kehidupan. Jangan sampai terbalik-balik, seperti ketika anak usia 10 tahun harus diperlakukan serius malah bahasa pemakluman yang banyak digunakan. Anak usia dini yang seharusnya dengan bahasa stimulasi untuk mencelupkan aqidah namun digunakan bahasa pemaksaan menjalankan ketaatan.

🔐 Dalam hal ini tidaklah salah kita mengharapkan bahwa ibu butuh kecerdasan dalam berbahasa. Kecerdasan bahasa ini adalah cerminan kecerdasan berpikir dan kecerdasan emosional, maka ibu membutuhkan ilmu yang lebih banyak untuk dikuasai mencakup seluruh cabang ilmu, semisal Bahasa Arab, Al-Quran, Tsaqofah islam, sains, dan beberapa kemahiran dan kreatifitas untuk menyetel kepribadian Islam anak.

🍃 Namun seringkali ibu dihadapkan pada suatu kondisi tidak bisa mengendalikan tingkah polah anak, seakan ibu kehilangan bahasa untuk menyampaikan banyak hal apa yang ada dalam benaknya. Apalagi bila ibu berhadapan dengan kerewelan anak, perlawanan dan pemaksaan bahkan tindakan fisik anak ketika meminta sesuatu. Emosional ibu pastilah memuncak, semua perasaan serasa diaduk-aduk sehingga terlintas dalam benaknya, kok anak ini nakal amat, gak bisa diatur, pelawan dsb.

🍃 Bila ibu dihadapkan kondisi seperti ini hendaklah diam dan biarkan anak menangis dan meronta hingga ada seuntai doa ibu mampu menenangkannya. Jangan pernah mengeluarkan godaan bahasa yang tidak ahsan sebab itu ciri orang bukan beriman.

🍃 Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata kebaikan atau hendaklah dia diam”

Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel parenting telegram

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BE THE BEST UMMUN WA RABBATUL BAYT

🌺 Anak adalah amanah dari Allah SWT dan tanggung jawab yang agung, karenanya menjadi ibu adalah amal yang mulia tak tertandingi dan tak ada yang melampaui batas-batas pahala yang hendak diraihnya bersama ananda. Sungguh mengabaikan kebersamaan dalam mendidik anak akan menjadikan simpul-simpul kemuliaan itu terputus bersama waktu yang sia-sia.

🌺 Kemuliaan seorang ibu terletak pada sebesar apa dia memuliakan anak-anaknya dengan pendidikan dan sebesar apa pengorbanan yang hendak dia berikan untuk itu, sehingga kelak ibu tidak hanya mendapatkan kemuliaan dari anak-anaknya namun lebih tinggi dari itu mendapatkan kemuliaan di sisi Allah yang Maha Mulia.

🌺 Ummun dalam makna bahasa adalah sumber yang bersih, sumber kasih sayang, sumber ketulusan dan keikhlasan, sumber pengorbanan dan sumber cinta yang agung. Hanya wanita yang menyadari posisinya sebagai ibulah yang mampu mencurahkan segala kebaikan dan kemuliaan itu untuk anak-anaknya.

🏡 BE THE BEST UMMUN WA ROBBATUL BAYT, adalah ibu yang mampu mempertanggung jawabkan kepemimpinannya terhadap rumah tangga dan terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya tersebut di hadapan Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW.

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

"...dan wanita itu adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan atas anak-anaknya dan dia dimintai pertanggung jawaban atas mereka"

🔐 Be the best ummu wa rabbatul bayt, akan mampu melahirkan anak-anak cahaya mata dan generasi imam bagi orang-orang yang bertakwa.

🔐 Be the best ummun wa rabbatu bayt, mampu melahirkan generasi untuk peradaban Islam, generasi ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama, berkepribadian Islam yang tangguh dan berjiwa pemimpin yang berpengaruh.

🔐 Be the best ummun wa rabbatul bayt, juga mampu lahir di tengah-tengah umat sebagai sosok ibu pejuang bersama anak-anaknya mewujudkan kembali kemuliaan islam dan kaum muslimin (izzul islam wal muslimin).

Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
PENTINGNYA MEMAHAMI PROSES ANAK



🌾 Ibu yang berambisi untuk menjadikan anaknya menjadi pribadi yang saleh dan salehah, memiliki kepribadian Islam yang baik terkadang luput untuk melewati proses. Apalagi bila anak seringkali melakukan kesalahan, tak sedikit ibu melakukan pemaksaan dengan merusak jiwa anak. Yang didapat bukanlah perubahan-perubahan menuju kepribadian islam yang lebih tinggi, justru berjalan ditempat. Tidak jarang pula prestasi kepribadian ananda menurun hanya gara-gara sikap terburu-buru untuk mendapatkan nilai terbaik dalam hafalan misalnya.

🌾 Kita sudah memahami bahwa anak tumbuh dan berkembang, seiring dengan itu berpikirnya semakin kesini semakin berkembang sesuai pertambahan usia. Tentunya perlakuan terhadap anak dalam mendidik tidaklah sama setiap level usia, karena mereka butuh dididik sesuai level potensi yang mereka punya. Maka disinilah proses pendidikan anak itu harus dilewati dan dipahami agar step by step keberhasilan bisa diraih oleh anak. Proses itulah tanggung jawab kita dalam meri’ayah ananda yang perlu kita kondisikan agar ananda bisa mengikuti semua pembelajaran yang kita berikan.

🌾 Saat kita memahami bahwa di usia tamyiz ananda sudah bisa diperlakukan disiplin, maka kedisiplinan itu perlu dirancang dan dikondisikan, mengabaikannya akan sulit bagi kita untuk memberikan penguatan-penguatan kepribadian Islam. Misalkan untuk sopan santun dan adab belajar, ananda sudah harus dibiasakan di usia ini, lakukanlah prosesnya sejak awal di usia dini dan usia tamyiz (7 tahun) dibiasakan dan dilatih. Bila dibiarkan bisa dipastikan anada tidak akan mengenal adab dalam bergaul, menghormati yang besar, menyayangi yang kecil dan berlaku sopan terhadap teman dan sebagainya.

🌾 Namun dalam proses ini bisa jadi tidak didapatkan hasilnya segera, disinilah butuh kesabaran dalam mendidik dan berlaku sopan juga terhadap anak. Bila ibu tidak sabar dan tidak berlaku sopan maka anak akan lebih-lebih lagi melakukan ketidaksopanan dan sulit menahan diri. Proses itu juga membutuhkan waktu untuk menjalaninya selain kesabaran dan prilaku santun, terkadang waktu yang dibutuhkan cukup lama terkadang juga cepat dan ini tidak bisa kita prediksi kecuali bila kita memahami kebutuhan anak sesungguhnya.

🌾 Satu hal lagi adalah selalu mengevaluasi proses apakah sudah berjalan sesuai syariah ataukah belum, apakah metode yang dijalani sudah benar atau belum, apakah materi yang diberikan sudah sesuai level usia dan potensi anak, apakah strategi belajarnya sudah tepat atau belum dan apakah kompetensi yang diberikan sudah sesuai ataukah belum. Jadi proses itu berbasis ibu, artinya yang senantiasa dibenahi adalah ibu, proses yang dilakukan ibu. Mudah-mudahan diharapkan ketika ibu berhasil dalam menjalani proses maka anandapun mendapatkan kesuksesannya dalam memiliki kepribadian Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لأشج عبد القيس : [ إن فيك خصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة ] رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulallah SAW bersabda kepada ’Abdul Qais yang  terluka: “sesungguhnya didalam dirimu ada dua sifat yang disukai oleh Allah yaitu: santun dan sabar”. (HR Muslim).


Wallahu a'lam bishshowab


Source : channel telegram parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Kompetensi Utama Seorang Ayah


Para ayah, pernahkah terpikir menjadi ayah itu butuh keahlian? Bahwa seorang ayah juga harus punya kompetensi inti (core competency) yang layak?

Banyak lelaki di kolong langit ini berpikir bahwa menjadi ayah adalah alamiah tanpa perlu rekayasa. Tanpa perlu keilmuan dan ketrampilan khusus. Bukankah saya otomatis menjadi ayah saat istri saya melahirkan anak kami? Bukankah anak saya pasti akan memanggil saya ‘ayah’, ‘bapak’, ‘abi’, dan sebagainya.

Ah, andai menjadi ayah itu semata alamiah maka tak mungkin Allah SWT. menurunkan sejumlah ayat yang menyatakan bahwa anak adalah ujian bagi para ayah mereka.

“dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. al-Anfal: 28).

Menjadi ayah alamiah terlalu mudah. Tanpa effort apapun kita sudah bisa menjadi ayah saat anak-anak kita lahir. Namun sungguh rugi bila kemudian anak-anak kita tumbuh besar menjadi anak yang tak punya visi dan misi hidup. Apalagi menjadi anak yang tak mengenal jati dirinya sebagai muslim, dan tak bangga dengan agamanya, apalagi turut berjuang untuk agamanya.

Karenanya bila kita ingin menjadi ayah luar biasa, bukan ayah yang ‘biasa-biasa saja’,  wajib memiliki core competency berikut ini:

1⃣ Menjadikan keimanan bukan dunia sebagai dasar mendidik anak. Anak bukan untuk kesenangan dan ambisi orang tua di dunia, tapi investasi hingga di akhirat. Berapa banyak ayah yang begitu fokus membesarkan anaknya untuk obsesi duniawi, tapi begitu longgar untuk ketaatan pada Allah. Tidak heran bila banyak remaja muslim yang kemudian tumbuh dengan kepribadian terbelah; muslim tapi sekuler. Ia shalat tapi berpacaran, berbakti pada orang tua tapi makan riba, dan sebagainya.

2⃣ Saatnya para ayah menyadari memiliki anak dan mendidik anak adalah investasi dunia dan akhirat. Bila berhasil menjadikan mereka sebagai hamba Allah yang saleh, terikat dengan hukum syara, tahu apa tujuan hidup dan mati mereka, maka para ayah patut berbahagia. Memahami hukum Islam sebagai panduan mendidik anak. Dengan apalagi kita akan mengarahkan anak kita menuju kebaikan kalau bukan dengan ajaran Islam? Tak ada manual guide pendidikan anak sebaik ajaran Islam. Tuntunan Islam tak hanya membimbing anak kita sukses menaklukkan dunia, tapi juga berbahagia di akhirat.

3⃣ Penuh dengan simpanan kasih sayang. Kasih sayang itu adalah sifat Allah SWT. Bahkan Allah menetapkan kasih sayang atas diriNya sendiri. “Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang”(QS. al-An’am: 54). Sudah sepantasnya kasih sayang selalu berada di sifat terdepan para ayah dalam mengasuh dan mendidik anak, dan simpan kemarahan di bagian terbelakang. Sebagaimana Allah SWT. juga menjadikan hal itu atas diriNya sendiri,  “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”(HR. Bukhari, Muslim).

Tentu saja masih ada kompetisi inti lain yang harus dimiliki para ayah, tapi semoga tiga hal mendasar ini jadi pedoman penting yang harus dimiliki oleh mereka.


Source : Channel parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi