ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @latiinas
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @latiinas
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Angin malam berhembus lembut, membawa serta kelopak-kelopak bunga sakura yang berguguran di sepanjang jalan tepi sungai. Pantulan lampu jembatan dan kerlap-kerlip lampu kota memantul indah di atas permukaan air yang tenang. Di bawah naungan pohon sakura yang sedang bermekaran, Louis tersenyum manis ke arah kamera ponsel yang mendadak berdering—menandakan waktu BeReal telah tiba. Di sudut layar ponsel, Eisein tampak bersandar santai di pagar pembatas, melipat tangan di dada dengan ekspresi cool yang setengah-setengah bosan, setengah pasrah jadi tukang foto pribadi kekasihnya.
Cklek!
Notifikasi berbunyi, mengabadikan momen malam itu secara instan. Louis langsung melirik layar ponselnya, lalu tertawa kecil melihat pose Eisein di frame kecil.
"Look at your face. Serius banget, padahal tinggal senyum dikit aja susah ya?" ledek Louis sambil memiringkan kepala, matanya berbinar jenaka menatap pria itu.
Eisein mendengus pelan, lalu mengubah posisinya dan berjalan mendekat. "Its not that I dont wanna smile, baby. Aku lagi mikirin omongan kamu soal rencana liburan bulan ini yang nggak habis-habis dari kemarin," balas Eisein dengan nada santai khasnya.
Louis mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. "Please, dont be like that! Ini kan crucial. Bulan ini kita must have a proper trip, at least seminggu. Aku stres sama kuliahan, Eisein. Aku butuh healing secepatnya."
Eisein terkekeh pelan melihat kebawelan Louis. Ia meraih tangan gadis itu, mengusap punggung tangan itu dengan lembut untuk meredakan gerutuan kecil Louis. "I know, baby, i know. And actually, aku sudah browsing beberapa tempat dari semalem setelah kamu ngomel-ngomel."
Mata Louis langsung membelalak antusias, rasa kesalnya seketika menguap begitu saja. "Really?! Where? Spill it to me right now!" tanyanya penuh semangat, jemarinya mencengkeram lengan Eisein erat-erat.
"Bagaimana kalau kita ke Swiss? Just the two of us. Main salju, staying in a cozy cabin, atau kalau nggak mau dingin, kita ke pantai privat di Maldives?" tawar Eisein dengan suara rendah yang menenangkan, menatap manik mata Louis lekat-lekat.
Louis tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit. "Oh my god, Swiss sounds like an absolute dream!" serunya girang. "I mean, waking up with mountain views and drinking hot chocolate with you? That is literally the best idea ever."
"Tuh kan, makanya jangan panik mulu. I always got your back, sweetheart," ucap Eisein sambil merangkul pinggang Louis, menariknya lebih dekat ke sisi tubuhnya agar terhindar dari angin malam yang mulai menusuk kulit.
Louis menyandarkan kepalanya di bahu Eisein, menikmati kehangatan di tengah udara musim semi yang masih agak dingin. "Thank you, love. Kalau nggak ada kamu, entah gimana nasibku yang gampang stress ini," gumam Louis tulus.
"With pleasure, cantik. Now, lets make a real itinerary, biar wacana liburan ini nggak cuma berakhir jadi angan-angan doang," balas Eisein tersenyum tipis, mengecup puncak kepala Louis sementara malam semakin larut dalam dekap kebersamaan mereka.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM