ㅤㅤㅤㅤㅤ(@EiserT) 𝘓𝘶𝘥𝘪𝘤 𝘊𝘩𝘳𝘰𝘯𝘪𝘤𝘭𝘦𝘴
1 subscriber
242 photos
24 links
Download Telegram
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @svhuyi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Lima belas menit yang lalu, bel apartemen Biane bunyi beruntun kayak orang ngutang ditagih debt collector. Pas dibuka, alih-alih bawa oleh-oleh atau niat bertamu yang benar, Eisein malah langsung terobos masuk sambil narik kaos hitamnya sendiri, dengan alasan krusial: mau ngecek mental kucing Biane yang katanya kangen sama dia.

Sekarang, Eisein malah rebahan tak berdaya persis di tengah lantai, menyerahkan tubuhnya jadi kasur empuk buat si kucing siam kesayangan Biane yang dengan santainya nongkrong di atas perutnya. Tangannya lemas terentang, matanya terpejam pasrah, seolah-olah dia adalah majikan sejati dan apartemen itu miliknya.

Biane berdiri di sudut ruangan sambil geleng-geleng kepala. Ponselnya terangkat, mengaktifkan fitur BeReal untuk menyebarkan bukti nyata ketidaksopanan temannya itu ke muka umum.

"Sumpah ya, Eisein... kamu tuh ya kalau bertamu makin hari makin gak punya akhlak," ucap Biane dengan nada tenang tapi menusuk, sambil mengarahkan kamera ke arah Eisein yang asyik dielus-elus kucingnya sendiri. "Datang-datang gak diundang, terus tiba-tiba terobos masuk gitu aja. Ini apartemen aku apa tempat penampungan sih?"

Eisein sama sekali gak bergeming dari posisinya. Matanya masih merem, menikmati dengkuran halus si kucing yang nempel di dadanya.

"Its not like that, Biane," balas Eisein santai dengan suara pelan, males gerak. "Saya ini cuma menjalankan misi penyelamatan batin. Kucing kamu ini kelihatan stres karena jarang dapet perhatian dari pemiliknya yang sibuk, makanya saya berinisiatif datang buat jadi tempat sandaran hidup mereka."

Biane mendengus pelan, menahan gemas sekaligus sebal lewat layar ponselnya. "Halah, alasan! Ngaku aja kalau kamy emang numpang tidur kan karena di kosan kamu gak ada AC yang dingin?"

"Oh my lord, fitnah keji macam apa itu?" sahut Eisein, akhirnya membuka sebelah matanya buat melirik Biane sekilas sebelum nutup muka lagi. "Udah, daripada kamu ngomel-ngomel begitu, mendingan kamu ambilin minum buat saya. Saya tamu lho disini."

"Dih, ogah banget! Ambil sendiri sana, aku mau nonton film, bye," ketus Biane, meski jarinya tetap nge-tap tombol capture BeReal buat ngabadikan tampang Eisein yang lagi kepedean.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @pDulce
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Suasana mall sore itu cukup ramai, namun Eisein dan Catleeia berada di gelembung dunia mereka sendiri. Mereka baru saja menaiki eskalator dari lantai dasar. Eisein, dengan kaos hitam simpel dan jam tangan perak, berdiri satu tingkat di depan Catleeia, menoleh ke belakang dengan senyum tipis yang menenangkan. Sebuah kantong berisi pastry baru saja ia pindahkan dari tangan kanannya ke kirinya.

Sementara itu, Catleeia, yang terlihat manis dengan rambut dikepang dan kacamata baca berbingkai tipis, berada tepat di belakangnya. Ia baru saja menempelkan ponselnya untuk mengambil foto selfie BeReal mereka. Di dalam frame kecil itu, wajahnya berseri-seri, sedikit genit, sementara Eisein di latar belakang menatap kamera dengan tatapan lembut.

"Sein, nanti kalau filmnya mulai, kamu jangan tinggalin aku ya," rengek Catleeia tiba-tiba, suaranya ceria tapi ada nada was-was. Eisein, seperti biasa, hanya mengangguk pelan dan tersenyum. "Chill, kan aku duduk di sebelahmu."

"Tapi kalau muncul jumpscare? Aku pasti bakal teriak kenceng banget. Awas ya kalau kamu ketawain aku," ancamnya main-main sambil menunjuk punggung Eisein dengan jari telunjuknya. Eisein tertawa kecil. "Iya, nggak akan aku ketawain. Paling cuma cekikikan dikit."

Tiba-tiba, Catleeia menghentikan langkahnya sejenak, menyadari sesuatu. "Eh, tunggu sebentar! Kok malah bahas film horror sih. Tadi aku yang ngide nonton itu, tapi sekarang aku yang panik sendiri." Eisein pun ikut berhenti dan berbalik sepenuhnya, menatap Catleeia dengan sabar. "Kalau kamu nggak siap, kita ganti film aja, Cantik. Dont force it."

Catleeia menatap Eisein, lalu melihat kantong pastry di tangan Eisein. Ia mengambil napas panjang. "Its okay, its okay! Aku udah beli tiketnya, nggak enak kalau dibatalin. Pokoknya nanti janji harus pegang tangan aku erat-erat kalau aku takut, ya?"

Eisein kembali tersenyum, senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. "Sure, Cat. Anything for you." Ia mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Catleeia lembut saat mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju bioskop di lantai atas.

"Lagipula," bisik Eisein pelan, hampir tidak terdengar di tengah keramaian mall, "I wonder how fast your heart will beat later." Catleeia memutar bola matanya dengan gemas, tapi pipinya bersemu merah muda. "Gak usah mulai den kamu ah," Mereka pun tertawa bersama, melanjutkan perjalanan mereka dengan langkah yang lebih ringan.

Mereka berdua tahu, tak peduli seberapa seram filmnya nanti, kebersamaan mereka akan lebih kuat dari rasa takut mana pun. Dan saat lampu bioskop meredup nanti, Eisein akan siap sedia untuk menjadi jangkar Catleeia, memastikan gadis yang ceria itu tidak akan pernah merasa sendirian dalam kegelapan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @Yorvu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Udara di puncak gunung memang beda level. Malam itu, rumah kayu Nenek Eisein dan Ael terasa seperti lemari es. Ael, dengan jaket puffer abu-abu yang tebal dan topi berbulu yang menutupi hampir seluruh wajahnya, meringkuk di sudut ruangan, matanya kosong menatap dinding kardus. Ia membenci dingin—dan kakaknya, Eisein, tahu persis hal itu.

Sementara Ael sedang "membeku" secara perlahan, Eisein justru sedang bersenang-senang. Duduk di kursi kayu di dekat tungku perapian (yang sayangnya sedang tidak menyala), Eisein menatap layar ponselnya. Ia baru saja membuka aplikasi BeReal dan sebuah notifikasi muncul. Kamera depan menangkap pantulan wajahnya yang tersenyum simpul, sedikit menahan tawa melihat adiknya. Kamera belakang menargetkan Ael yang sedang terbungkus jaket tebal.

Cklek! BeReal terambil.

"Mes," panggil Ael dengan suara serak, nyaris berbisik, dari tempat persembunyiannya. Bibir tipisnya sedikit cemberut. Eisein pun memutar kursinya agar bisa melihat adiknya lebih jelas.

"Kenapa, dek?" tanya Eisein dengan nada paling lembut yang ia punya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di dekat Ael.

"Nenek bilang dingin itu mitos. Tapi ini beneran atau gua yang halu? Kayaknya gua udah mati rasa dari ujung kaki sampai ujung kepala." Ael menggosokkan kedua tangannya di depan mulutnya, mencoba menciptakan sedikit kehangatan.

Eisein tertawa kecil, sebuah tawa yang hangat dan menenangkan. "Well, gak kaget. Kamu kan anak kota yang biasa AC-nya 24 derajat doang. Di sini suhunya 5 derajat, dek."

"Kok bisa lo tahan sama suhu yang begini? Itu jaket di gua gak berguna anjir." Ael menunjuk jaket puffer Eisein yang sama-sama abu-abu, namun terlihat pas di tubuh Eisein yang tegap, tidak seperti Ael yang tenggelam di dalamnya.

Eisein mencondongkan tubuhnya ke depan dan menempelkan punggung tangannya ke pipi Ael yang dingin. "Abang peluk sini, mau?"

Ael menepis tangan Eisein pelan, lalu memeluk lututnya sendiri. "Males, gak butuh pelukan."

"Udah, sini." Dengan sabar Eisein merangkul bahu Ael dan menarik adiknya yang kaku itu ke dalam pelukannya. Ael pun pasrah, menyandarkan kepalanya di bahu Eisein. Kehangatan dari tubuh Eisein pelan-pelan menjalar ke tubuhnya. "Tadi pas baru sampai kamu gak secerewet ini lho," ledek Eisein dengan nada geli, mengingat momen manis mereka di BeReal sebelumnya.

Ael hanya menatap Eisein dengan pandangan datar. "Ya kan tadi baru sampe, Mes. Tadi juga ada Thania, belum sadar gua kalau sedingin ini."

"Hahaha, iya deh. Nanti abang minta Nenek bikinin cokelat panas yang banyak buat kamu," Eisein mengusap-usap puncak kepala Ael dengan lembut, membuat rambut adiknya yang berwarna cokelat gelap itu sedikit berantakan.

Ael diam saja, menikmati kehangatan yang diberikan Eisein. Perlahan, bahunya yang kaku mulai rileks, dan ia menyandarkan kepalanya lebih nyaman di bahu kakaknya itu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @papwi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
California sore itu tidak terlalu terik, namun cukup untuk membuat seseorang kepanasan jika berjalan terlalu lama. Di salah satu sudut jalanan yang sibuk, Eisein dan Willis melangkah dengan santai.

Eisein, dengan kaos hitam simpel yang sedikit digulung di lengan dan celana panjang hitam, baru saja mengigit sebatang cokelat batangan yang ia keluarkan dari kantong kertas cokelat di tangan kirinya. Ia menoleh ke belakang, menatap Willis dengan tatapan yang datar.

Sementara itu Willis, yang berjalan sedikit di belakang Eisein, memiliki aura yang berbeda. Pria yang lebih tua itu mengenakan hoodie abu-abu, jaket hitam, topi baseball hitam bertuliskan "Off-White", dan kacamata hitam yang menyembunyikan matanya. Ia adalah tipe bapak-bapak yang penuh gaya. Willis baru saja mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto BeReal mereka. Kamera depan menangkap wajahnya yang cool, sedangkan kamera belakang menangkap sosok Eisein yang sedang menoleh dan menggigit cokelat dengan pandangan yang seakan berkata, “What do you think you're doing?”

Cklek! BeReal terambil.

Willis tertawa kecil, melihat hasil jepretannya. "Seriously, Eisein? Kamu lagi makan cokelat di pinggir jalan kayak anak kecil? That look on your face is priceless."

Eisein kembali menatap lurus ke depan, tidak memedulikan ledekan Willis. Ia menelan cokelatnya dengan tenang. "Oh, shut up, will ya? Im deadass hungry and need more energy. Ini namanya efisiensi waktu."

Willis mengulum senyum. Mereka terus berjalan di trotoar yang ramai. Di latar belakang, terlihat mobil polisi yang diparkir di pinggir jalan, sebuah sepeda motor yang sedang melaju, dan toko "SNIPES.COM" yang ikonik.

"Kalau begitu, efisiensi waktu macam apa yang buat kita jalan ke restoran sekarang?" goda Willis lagi, menunjuk dengan dagunya ke depan, ke arah restoran yang masih beberapa blok lagi. "You know we are going for dinner, right?"

Eisein menghela napas panjang, pura-pura kesal dengan pertanyaan Willis. "Of course, i know. But my fuckin stomach cant wait any longer, Man. If I faint from hunger, you'll be the one in trouble."

Willis terkekeh, menyukai bagaimana Eisein selalu memiliki jawaban cerdas. "Okay, okay. My bad. Lets just keep walking, and please, dont faint on me."

Eisein mendengus pelan, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Mereka melanjutkan perjalanan mereka di bawah sinar matahari California.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @AngeIity
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Restoran bergengsi dengan interior klasik Eropa itu tampak begitu megah malam ini. Di atas meja kayu, sebuah kue ulang tahun kecil berhiaskan lilin yang menyala terang memantulkan cahaya hangat ke wajah Ayyara. Gadis itu duduk anggun dengan mahkota berkilau di kepalanya, namun ekspresinya justru menyiratkan rasa puas—sangat kontras dengan status princess yang sedang ia sandang.

Tiba-tiba, ponsel di tangan Ayyara bergetar, memunculkan notifikasi BeReal yang memaksa kamera depan dan belakang aktif secara bersamaan. Di dalam frame kecil di sudut layar, Eisein tertangkap basah sedang menggigit sepotong kecil kue dengan ekspresi pasrah, kacamata bertengger di hidungnya. Sementara kamera utamanya merekam Ayyara yang tersenyum miring ke arah kamera.

Cklek! Foto itu langsung terunggah otomatis.

Ayyara melirik layar ponselnya, lalu menatap Eisein yang duduk di hadapannya. Gadis itu terkekeh pelan. "Aduh, kak. Look at you. Udah kayak pangeran tersiksa banget disuruh nemenin princess ultah di tempat mahal gini. Are you okay, my sweet brother?" ledeknya dengan nada sengak.

Eisein menghela napas pelan, menelan makanannya, lalu menatap adiknya dengan tatapan teduh namun tegas. Ia sudah terbiasa dengan tabiat Ayyara yang hobi menindasnya setiap kali ulang tahun.

"Well, malau bukan karena hari ini ulang tahun kamu, kakak gak sudi nurutin mau kamu reservasi tempat fancy begini," balas Eisein tenang, meski bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang menyiratkan betapa sayangnya ia pada sang adik.

Ayyara mendengus pelan, dagunya terangkat sok kuasa. "Hey, come on. Sekali-kali traktir adiknya yang paling cantik ini. Besides, kartu kredit Kakak kan tebal banget, jadi apa yang perlu di khawatirin?"

"Its not about money, dek. Tapi attitude kamu itu lho, makin lama makin mirip boss mafia daripada adik kakak," balas Eisein sabar, sambil meraih garpu dan memotong kue di depannya untuk merapikannya.

Meskipun sering menjadi korban keisengan Ayyara, Eisein tidak pernah absen memberikan princess treatment terbaik untuk adiknya. Ia memanggil pelayan dengan gestur sopan untuk membawakan hidangan penutup tambahan khusus kesukaan Ayyara.

"Hehe, itu baru kakak aku!" puji Ayyara langsung sumringah begitu melihat hidangan penutup kesukaannya tiba. "Makasih ya, Kakak tertampan sedunia. You're the best, seriously."

Eisein hanya menggelengkan kepalanya pelan, terbiasa dengan perubahan sikap Ayyara yang langsung manis kalau sudah diberi apa yang ia mau. "Here, make a wish, sebelum kuenya keburu habis kamu comotin terus."

Ayyara tersenyum lebar, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, lalu memejamkan mata sejenak untuk berdoa di hari spesialnya, dengan Eisein yang setia mengawasi di seberang meja, siap mengabulkan apapun yang diminta adiknya itu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @latiinas
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Angin malam berhembus lembut, membawa serta kelopak-kelopak bunga sakura yang berguguran di sepanjang jalan tepi sungai. Pantulan lampu jembatan dan kerlap-kerlip lampu kota memantul indah di atas permukaan air yang tenang. Di bawah naungan pohon sakura yang sedang bermekaran, Louis tersenyum manis ke arah kamera ponsel yang mendadak berdering—menandakan waktu BeReal telah tiba. Di sudut layar ponsel, Eisein tampak bersandar santai di pagar pembatas, melipat tangan di dada dengan ekspresi cool yang setengah-setengah bosan, setengah pasrah jadi tukang foto pribadi kekasihnya.

Cklek!

Notifikasi berbunyi, mengabadikan momen malam itu secara instan. Louis langsung melirik layar ponselnya, lalu tertawa kecil melihat pose Eisein di frame kecil.

"Look at your face. Serius banget, padahal tinggal senyum dikit aja susah ya?" ledek Louis sambil memiringkan kepala, matanya berbinar jenaka menatap pria itu.

Eisein mendengus pelan, lalu mengubah posisinya dan berjalan mendekat. "Its not that I dont wanna smile, baby. Aku lagi mikirin omongan kamu soal rencana liburan bulan ini yang nggak habis-habis dari kemarin," balas Eisein dengan nada santai khasnya.

Louis mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. "Please, dont be like that! Ini kan crucial. Bulan ini kita must have a proper trip, at least seminggu. Aku stres sama kuliahan, Eisein. Aku butuh healing secepatnya."

Eisein terkekeh pelan melihat kebawelan Louis. Ia meraih tangan gadis itu, mengusap punggung tangan itu dengan lembut untuk meredakan gerutuan kecil Louis. "I know, baby, i know. And actually, aku sudah browsing beberapa tempat dari semalem setelah kamu ngomel-ngomel."

Mata Louis langsung membelalak antusias, rasa kesalnya seketika menguap begitu saja. "Really?! Where? Spill it to me right now!" tanyanya penuh semangat, jemarinya mencengkeram lengan Eisein erat-erat.

"Bagaimana kalau kita ke Swiss? Just the two of us. Main salju, staying in a cozy cabin, atau kalau nggak mau dingin, kita ke pantai privat di Maldives?" tawar Eisein dengan suara rendah yang menenangkan, menatap manik mata Louis lekat-lekat.

Louis tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit. "Oh my god, Swiss sounds like an absolute dream!" serunya girang. "I mean, waking up with mountain views and drinking hot chocolate with you? That is literally the best idea ever."

"Tuh kan, makanya jangan panik mulu. I always got your back, sweetheart," ucap Eisein sambil merangkul pinggang Louis, menariknya lebih dekat ke sisi tubuhnya agar terhindar dari angin malam yang mulai menusuk kulit.

Louis menyandarkan kepalanya di bahu Eisein, menikmati kehangatan di tengah udara musim semi yang masih agak dingin. "Thank you, love. Kalau nggak ada kamu, entah gimana nasibku yang gampang stress ini," gumam Louis tulus.

"With pleasure, cantik. Now, lets make a real itinerary, biar wacana liburan ini nggak cuma berakhir jadi angan-angan doang," balas Eisein tersenyum tipis, mengecup puncak kepala Louis sementara malam semakin larut dalam dekap kebersamaan mereka.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
       guided by truth: @sNatsuki
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
       guided by truth: @fserena
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
       guided by truth: @xdelicate
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
       guided by truth: @svhuyi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @fluffv
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ