ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @fserena
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @fserena
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Eksperimen cooking date hari ini resmi berakhir dengan kekacauan kecil: meja makan penuh piring kotor dan sisa keju leleh di mana-mana. Alih-alih membiarkan Shayla membereskannya sendirian, Eisein langsung mengambil alih tugas cuci piring tanpa diminta.
Di seberang wastafel, Shayla berdiri sambil bersandar rileks, ponselnya terangkat untuk mengambil potret BeReal kilat. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lucu sambil mengedipkan satu mata ke arah kamera, mengabadikan momen pria kesayangannya yang sedang serius menyikat panci gosong.
"Duh, cowok siapa sih ini? Rajin banget," puji Shayla dengan nada manja, sengaja menggoda Eisein sambil memainkan ujung rambut pirangnya. "Mas nggak capek apa dari tadi berdiri terus? Aku lihatnya kaya gak enak gitu lho.. Sini, gantian, adek juga mau cuci piring."
Eisein melirik sekilas dari balik bahunya, menghentikan gerakan tangannya sebentar. Wajahnya datar, tapi matanya melembut.
"No need, sayang. Kamu duduk manis aja di situ. Biar Mas yang beresin semua," jawab Eisein dengan suara baritonnya yang tenang. "Nanti tangan cantiknya bau sabun cuci piring, Mas yang tidak selera."
Shayla langsung terkekeh gemas, pipinya bersemu merah mendengar gombalan tipis khas Eisein. Gadis itu mendekat, lalu dengan hati-hati menempelkan ibu jarinya yang bersih ke pipi Eisein yang tanpa sadar kena cipratan busa sabun.
"Mas ini kok pinter banget bikin adek salting? Tapi... thank you ya, Mas, udah nemenin masak hari ini. Meskipun tadi sempat hampir kebakaran gara-gara kompornya terlalu panas hehe," kata Shayla sambil nyengir lebar.
Eisein membiarkan sentuhan itu, lalu tersenyum tipis—pemandangan langka yang hanya dikeluarkan khusus untuk Shayla. Tangannya yang basah dilap sekilas ke kain serbet, lalu dengan lembut mencolek ujung hidung Shayla menggunakan sisa busa sabun.
"Siapa suruh tadi nekat mau masak sendiri tanpa baca resep dulu, hm? Untung Mas sigap, kalau nggak, apartemen ini udah rata sama tanah," balas Eisein lembut, meski nada meledeknya tetap kentara. "Sudah, tadi kamu bilang mau nonton film kan habis ini? Kenapa gak siapin camilan aja sekalian?"
Shayla mengerucutkan bibirnya pura-pura ngambek, tapi senyum bahagianya tak bisa disembunyikan. "Oh, iya! Adek kelupaan hehe. Oke deh!"
Gadis itu melompat kecil penuh semangat, meninggalkan Eisein yang geleng-geleng kepala pelan, merasa hidupnya mendadak jauh lebih berwarna berkat kehadiran sang kekasih.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Sockb
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Sockb
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Angin laut sore berhembus kencang, membawa aroma garam dan kebebasan. Di tepi gulungan ombak yang besar, Eisein berdiri tanpa baju, celana panjang putihnya basah kuyup tersapu buih air laut. Kulitnya berkilat di bawah temaram matahari senja, sementara senyum lebarnya menghiasi wajahnya setelah berhasil menembus ombak tinggi.
Beberapa meter di belakangnya, di area pasir yang kering dan aman dari jangkauan air, Elliot duduk bersila di atas handuk pantai. Pemuda berambut basah dengan topi biru terbalik itu mengenakan kalung manik-manik warna-warni. Sambil memegang ponsel, Elliot membuka kamera depan untuk mengabadikan momen BeReal mereka sore itu—menangkap sosok Eisein yang tampak perkasa di tengah gempuran ombak, berbanding terbalik dengan dirinya yang memilih menepi.
"Eisein! Udah, dong! Ombaknya makin tinggi itu, nanti kamu terbawa arus beneran gimana?" panggil Elliot dengan suara lembutnya, sedikit berteriak agar menyaingi suara deburan ombak.
Eisein menoleh, tertawa renyah sambil mengibaskan rambutnya yang basah. Langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati bibir pantai, menjauhi buih air yang mengejar.
"Relax, El. Ombak segini mah kecil, nggak ada apa-apanya," seru Eisein tegas, suaranya penuh percaya diri. "Kamu dari tadi cuma duduk di situ terus. Sini, gabung ke air! Segar banget, sumpah. Rugi kalau ke pantai tapi cuma ngeliatin pasir."
Elliot menggeleng pelan, menarik lututnya lebih dekat ke dadanya dengan gestur defensif yang manis. Tatapannya menyiratkan keengganan yang kuat.
"No thanks. Saya cukup jadi penonton setia kamu saja dari sini," jawab Elliot lembut. "Kamu tahu sendiri saya kurang suka kalau badan lengket kena air asin. Dingin juga."
Eisein mendengus geli, lalu berjalan mendekati tempat Elliot duduk, meninggalkan jejak kaki basah di atas pasir. Dia menjatuhkan diri dengan santai di sebelah elliot, mengambil ponsel dari tangan temannya itu untuk mengecek hasil foto BeReal mereka.
"Kamu ini ya, punya jiwa petualang tapi penakut sama air laut," goda Eisein, melirik sekilas ke arah Elliot dengan tatapan hangat. "Tapi ya sudahlah, setidaknya kita sama-sama menikmati sore ini."
Elliot tersenyum tipis, "Makasih ya sudah mau nemenin saya ke sini, ternyata refreshing dan lepas dari pekerjaan sebentar itu perlu."
Eisein merangkul bahu Elliot sekilas dengan akrab. "Told ya, Mate. Istirahat buat kita yang hidupnya kerja terus itu memang wajib."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Kayivna
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Kayivna
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Baru saja sepuluh menit lalu mereka keluar dari gerbang algoritma, berjalan sambil membahas materi yang membuat kepala pusing. Mintheori, dengan kacamata bertengger manis di hidungnya, sedang asyik ngoceh panjang lebar soal tugas kodingannya yang hampir eror.
Namun, gangguan itu terhenti total begitu seekor anjing ras Golden Doodle rambut keriting cokelat lebat melintasi bersama pemiliknya, menjulurkan lidah dengan wajah paling polos sedunia.
Seketika itu juga, Eisein—sang kating Fakultas Hukum yang biasanya jaim dan pasang badan tegas—langsung tergeletak di atas ubin merah bata tanpa aba-aba. Dunianya langsung runtuh, menyisakan si anjing gemas di depannya.
"Hey, buddy. How adorable you are." Sapa Eisein dengan suara melengking girang yang belum pernah didengar Mintheori seumur hidupnya. Dia menatap anjing itu berbinar-binar, seakan-akan keberadaan Mintheori menghilang.
Mintheori mengerjap sambil menatap Eisein yang sudah duduk santai di trotoar. Ponselnya terangkat, mengambil foto BeReal dengan ekspresi datar campur pasrah.
"Excuse me," Eisein mendongak menatap si pemilik anjing dengan sopan. "Boleh izin elus anjingnya sebentar? Namanya siapa ya, Kak?"
Pemilik anjing tertawa kecil melihat antusiasme Eisein. "Boleh banget, kak, silakan. Namanya Latte."
"Wow, just like the color of his fur, it suit you so much, buddy," balas Eisein sumringah, langsung mengelus-elus kepala Latte dengan penuh kasih sayang, melupakan fakta bahwa Mintheori sedari tadi berdiri menenteng tas laptopnya sendirian.
Mintheori menghela napas panjang, menatap punggung Eisein dari atas.
"Kak Eis..." panggil Mintheori dengan nada setengah protes, menyilangkan tangan di dada. "Ini kita jadi ke cafe nggak? Atau aku ditinggal ngobrol sama Latte nih?"
Eisein menoleh sekilas, tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sambil tetap menggaruk dagu si anjing. "Eh, ada kamu, Min. Hehe. Sebentar ya, ini Latte bulunya lembut banget, surga dunia tau. Kapan lagi saya ketemu anjing lucu ini habis kelas hukum pidana yang bikin stres?"
Mintheori memutar bola matanya di balik kacamata, lalu memancarkan geli. "Iya deh, iya."
Eisein tertawa renyah, akhirnya berdiri dan menggenggam bahu Mintheori singkat. "Jangan merajuk begitu dong, calon insinyur komputer. Abis ini saya traktir caramel macchiato paling mahal deh. Promise."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pBurzum
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pBurzum
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Selesai jam kantor, Eisein mendapat mandat darurat dari sang ibu: beli buah segar untuk persediaan di rumah. Masalahnya, Eisein yang biasa hidup di mal dan restoran cepat saji tidak punya clue sama sekali tentang dunia perbuahan. Beruntung, Jonathan—senior kantor yang kebetulan searah—sukarela menemani bocah linglung ini mampir ke kios buah terdekat.
Jonathan berdiri agak jauh sambil memegang ponselnya, membuka aplikasi BeReal untuk mengabadikan momen langka ini.
"Bang jon... ini buah apa namanya?" tanya Eisein dengan nada serius, menoleh ke arah Jonathan yang sedang sibuk mengambil foto. "Ibu saya bilang suruh beli buah peach, tapi bentuknya kok gepeng gini? Ini beneran bisa dimakan atau saya salah ambil?"
Jonathan terkekeh pelan dari balik ponselnya, menggelengkan kepala melihat kepolosan junior kantornya itu.
"Itu namanya donut peach, Sen. Makanya jangan keseringan nongkrong di kafe mulu, sekali-sekali temenin emak ke pasar biar tahu variasi ciptaan Tuhan," ledek Jonathan santai. "Itu manis banget rasanya, ambil aja yang banyak. Kalau salah, nanti emak lo yang ngomel, bukan gua."
Eisein menghela napas berat, memasukkan buah persik gepeng itu ke dalam keranjang besi belanjaannya dengan sangat hati-hati, seakan benda itu bisa meledak kapan saja.
"Duh.. honestly, agak pusing, bang. Di rumah tuh maunya buah yang bulat mulus biasa, kalau bentuknya aneh begini nanti saya dikira beli pernak-pernik pajangan sama Emak," keluh Eisein, kembali membolak-balik buah di keranjang dengan tampang tertekan.
Jonathan tertawa lepas, lalu berjalan mendekat untuk menepuk pundak Eisein pelan. "Udah, percaya sama gua, ambil sekilo. Biar gua yang bayar pakai kartu gua sekalian kalau lo takut dimarahin. Anggap aja ini ujian kesusahan hidup pertama lo sebagai anak berbakti."
Eisein mendengus pasrah, meski sudut bibirnya sempat terangkat tipis. "Ya sudah kalau Abang yang bilang begitu. Tapi kalau nanti Emak saya ngamuk, Bang jon yang harus pasang badan jelasin ke beliau, ya."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @svhuyi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @svhuyi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Lima belas menit yang lalu, bel apartemen Biane bunyi beruntun kayak orang ngutang ditagih debt collector. Pas dibuka, alih-alih bawa oleh-oleh atau niat bertamu yang benar, Eisein malah langsung terobos masuk sambil narik kaos hitamnya sendiri, dengan alasan krusial: mau ngecek mental kucing Biane yang katanya kangen sama dia.
Sekarang, Eisein malah rebahan tak berdaya persis di tengah lantai, menyerahkan tubuhnya jadi kasur empuk buat si kucing siam kesayangan Biane yang dengan santainya nongkrong di atas perutnya. Tangannya lemas terentang, matanya terpejam pasrah, seolah-olah dia adalah majikan sejati dan apartemen itu miliknya.
Biane berdiri di sudut ruangan sambil geleng-geleng kepala. Ponselnya terangkat, mengaktifkan fitur BeReal untuk menyebarkan bukti nyata ketidaksopanan temannya itu ke muka umum.
"Sumpah ya, Eisein... kamu tuh ya kalau bertamu makin hari makin gak punya akhlak," ucap Biane dengan nada tenang tapi menusuk, sambil mengarahkan kamera ke arah Eisein yang asyik dielus-elus kucingnya sendiri. "Datang-datang gak diundang, terus tiba-tiba terobos masuk gitu aja. Ini apartemen aku apa tempat penampungan sih?"
Eisein sama sekali gak bergeming dari posisinya. Matanya masih merem, menikmati dengkuran halus si kucing yang nempel di dadanya.
"Its not like that, Biane," balas Eisein santai dengan suara pelan, males gerak. "Saya ini cuma menjalankan misi penyelamatan batin. Kucing kamu ini kelihatan stres karena jarang dapet perhatian dari pemiliknya yang sibuk, makanya saya berinisiatif datang buat jadi tempat sandaran hidup mereka."
Biane mendengus pelan, menahan gemas sekaligus sebal lewat layar ponselnya. "Halah, alasan! Ngaku aja kalau kamy emang numpang tidur kan karena di kosan kamu gak ada AC yang dingin?"
"Oh my lord, fitnah keji macam apa itu?" sahut Eisein, akhirnya membuka sebelah matanya buat melirik Biane sekilas sebelum nutup muka lagi. "Udah, daripada kamu ngomel-ngomel begitu, mendingan kamu ambilin minum buat saya. Saya tamu lho disini."
"Dih, ogah banget! Ambil sendiri sana, aku mau nonton film, bye," ketus Biane, meski jarinya tetap nge-tap tombol capture BeReal buat ngabadikan tampang Eisein yang lagi kepedean.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pDulce
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pDulce
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Suasana mall sore itu cukup ramai, namun Eisein dan Catleeia berada di gelembung dunia mereka sendiri. Mereka baru saja menaiki eskalator dari lantai dasar. Eisein, dengan kaos hitam simpel dan jam tangan perak, berdiri satu tingkat di depan Catleeia, menoleh ke belakang dengan senyum tipis yang menenangkan. Sebuah kantong berisi pastry baru saja ia pindahkan dari tangan kanannya ke kirinya.
Sementara itu, Catleeia, yang terlihat manis dengan rambut dikepang dan kacamata baca berbingkai tipis, berada tepat di belakangnya. Ia baru saja menempelkan ponselnya untuk mengambil foto selfie BeReal mereka. Di dalam frame kecil itu, wajahnya berseri-seri, sedikit genit, sementara Eisein di latar belakang menatap kamera dengan tatapan lembut.
"Sein, nanti kalau filmnya mulai, kamu jangan tinggalin aku ya," rengek Catleeia tiba-tiba, suaranya ceria tapi ada nada was-was. Eisein, seperti biasa, hanya mengangguk pelan dan tersenyum. "Chill, kan aku duduk di sebelahmu."
"Tapi kalau muncul jumpscare? Aku pasti bakal teriak kenceng banget. Awas ya kalau kamu ketawain aku," ancamnya main-main sambil menunjuk punggung Eisein dengan jari telunjuknya. Eisein tertawa kecil. "Iya, nggak akan aku ketawain. Paling cuma cekikikan dikit."
Tiba-tiba, Catleeia menghentikan langkahnya sejenak, menyadari sesuatu. "Eh, tunggu sebentar! Kok malah bahas film horror sih. Tadi aku yang ngide nonton itu, tapi sekarang aku yang panik sendiri." Eisein pun ikut berhenti dan berbalik sepenuhnya, menatap Catleeia dengan sabar. "Kalau kamu nggak siap, kita ganti film aja, Cantik. Dont force it."
Catleeia menatap Eisein, lalu melihat kantong pastry di tangan Eisein. Ia mengambil napas panjang. "Its okay, its okay! Aku udah beli tiketnya, nggak enak kalau dibatalin. Pokoknya nanti janji harus pegang tangan aku erat-erat kalau aku takut, ya?"
Eisein kembali tersenyum, senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. "Sure, Cat. Anything for you." Ia mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Catleeia lembut saat mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju bioskop di lantai atas.
"Lagipula," bisik Eisein pelan, hampir tidak terdengar di tengah keramaian mall, "I wonder how fast your heart will beat later." Catleeia memutar bola matanya dengan gemas, tapi pipinya bersemu merah muda. "Gak usah mulai den kamu ah," Mereka pun tertawa bersama, melanjutkan perjalanan mereka dengan langkah yang lebih ringan.
Mereka berdua tahu, tak peduli seberapa seram filmnya nanti, kebersamaan mereka akan lebih kuat dari rasa takut mana pun. Dan saat lampu bioskop meredup nanti, Eisein akan siap sedia untuk menjadi jangkar Catleeia, memastikan gadis yang ceria itu tidak akan pernah merasa sendirian dalam kegelapan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Yorvu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Yorvu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Udara di puncak gunung memang beda level. Malam itu, rumah kayu Nenek Eisein dan Ael terasa seperti lemari es. Ael, dengan jaket puffer abu-abu yang tebal dan topi berbulu yang menutupi hampir seluruh wajahnya, meringkuk di sudut ruangan, matanya kosong menatap dinding kardus. Ia membenci dingin—dan kakaknya, Eisein, tahu persis hal itu.
Sementara Ael sedang "membeku" secara perlahan, Eisein justru sedang bersenang-senang. Duduk di kursi kayu di dekat tungku perapian (yang sayangnya sedang tidak menyala), Eisein menatap layar ponselnya. Ia baru saja membuka aplikasi BeReal dan sebuah notifikasi muncul. Kamera depan menangkap pantulan wajahnya yang tersenyum simpul, sedikit menahan tawa melihat adiknya. Kamera belakang menargetkan Ael yang sedang terbungkus jaket tebal.
Cklek! BeReal terambil.
"Mes," panggil Ael dengan suara serak, nyaris berbisik, dari tempat persembunyiannya. Bibir tipisnya sedikit cemberut. Eisein pun memutar kursinya agar bisa melihat adiknya lebih jelas.
"Kenapa, dek?" tanya Eisein dengan nada paling lembut yang ia punya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di dekat Ael.
"Nenek bilang dingin itu mitos. Tapi ini beneran atau gua yang halu? Kayaknya gua udah mati rasa dari ujung kaki sampai ujung kepala." Ael menggosokkan kedua tangannya di depan mulutnya, mencoba menciptakan sedikit kehangatan.
Eisein tertawa kecil, sebuah tawa yang hangat dan menenangkan. "Well, gak kaget. Kamu kan anak kota yang biasa AC-nya 24 derajat doang. Di sini suhunya 5 derajat, dek."
"Kok bisa lo tahan sama suhu yang begini? Itu jaket di gua gak berguna anjir." Ael menunjuk jaket puffer Eisein yang sama-sama abu-abu, namun terlihat pas di tubuh Eisein yang tegap, tidak seperti Ael yang tenggelam di dalamnya.
Eisein mencondongkan tubuhnya ke depan dan menempelkan punggung tangannya ke pipi Ael yang dingin. "Abang peluk sini, mau?"
Ael menepis tangan Eisein pelan, lalu memeluk lututnya sendiri. "Males, gak butuh pelukan."
"Udah, sini." Dengan sabar Eisein merangkul bahu Ael dan menarik adiknya yang kaku itu ke dalam pelukannya. Ael pun pasrah, menyandarkan kepalanya di bahu Eisein. Kehangatan dari tubuh Eisein pelan-pelan menjalar ke tubuhnya. "Tadi pas baru sampai kamu gak secerewet ini lho," ledek Eisein dengan nada geli, mengingat momen manis mereka di BeReal sebelumnya.
Ael hanya menatap Eisein dengan pandangan datar. "Ya kan tadi baru sampe, Mes. Tadi juga ada Thania, belum sadar gua kalau sedingin ini."
"Hahaha, iya deh. Nanti abang minta Nenek bikinin cokelat panas yang banyak buat kamu," Eisein mengusap-usap puncak kepala Ael dengan lembut, membuat rambut adiknya yang berwarna cokelat gelap itu sedikit berantakan.
Ael diam saja, menikmati kehangatan yang diberikan Eisein. Perlahan, bahunya yang kaku mulai rileks, dan ia menyandarkan kepalanya lebih nyaman di bahu kakaknya itu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @papwi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @papwi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
California sore itu tidak terlalu terik, namun cukup untuk membuat seseorang kepanasan jika berjalan terlalu lama. Di salah satu sudut jalanan yang sibuk, Eisein dan Willis melangkah dengan santai.
Eisein, dengan kaos hitam simpel yang sedikit digulung di lengan dan celana panjang hitam, baru saja mengigit sebatang cokelat batangan yang ia keluarkan dari kantong kertas cokelat di tangan kirinya. Ia menoleh ke belakang, menatap Willis dengan tatapan yang datar.
Sementara itu Willis, yang berjalan sedikit di belakang Eisein, memiliki aura yang berbeda. Pria yang lebih tua itu mengenakan hoodie abu-abu, jaket hitam, topi baseball hitam bertuliskan "Off-White", dan kacamata hitam yang menyembunyikan matanya. Ia adalah tipe bapak-bapak yang penuh gaya. Willis baru saja mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto BeReal mereka. Kamera depan menangkap wajahnya yang cool, sedangkan kamera belakang menangkap sosok Eisein yang sedang menoleh dan menggigit cokelat dengan pandangan yang seakan berkata, “What do you think you're doing?”
Cklek! BeReal terambil.
Willis tertawa kecil, melihat hasil jepretannya. "Seriously, Eisein? Kamu lagi makan cokelat di pinggir jalan kayak anak kecil? That look on your face is priceless."
Eisein kembali menatap lurus ke depan, tidak memedulikan ledekan Willis. Ia menelan cokelatnya dengan tenang. "Oh, shut up, will ya? Im deadass hungry and need more energy. Ini namanya efisiensi waktu."
Willis mengulum senyum. Mereka terus berjalan di trotoar yang ramai. Di latar belakang, terlihat mobil polisi yang diparkir di pinggir jalan, sebuah sepeda motor yang sedang melaju, dan toko "SNIPES.COM" yang ikonik.
"Kalau begitu, efisiensi waktu macam apa yang buat kita jalan ke restoran sekarang?" goda Willis lagi, menunjuk dengan dagunya ke depan, ke arah restoran yang masih beberapa blok lagi. "You know we are going for dinner, right?"
Eisein menghela napas panjang, pura-pura kesal dengan pertanyaan Willis. "Of course, i know. But my fuckin stomach cant wait any longer, Man. If I faint from hunger, you'll be the one in trouble."
Willis terkekeh, menyukai bagaimana Eisein selalu memiliki jawaban cerdas. "Okay, okay. My bad. Lets just keep walking, and please, dont faint on me."
Eisein mendengus pelan, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Mereka melanjutkan perjalanan mereka di bawah sinar matahari California.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @AngeIity
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @AngeIity
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Restoran bergengsi dengan interior klasik Eropa itu tampak begitu megah malam ini. Di atas meja kayu, sebuah kue ulang tahun kecil berhiaskan lilin yang menyala terang memantulkan cahaya hangat ke wajah Ayyara. Gadis itu duduk anggun dengan mahkota berkilau di kepalanya, namun ekspresinya justru menyiratkan rasa puas—sangat kontras dengan status princess yang sedang ia sandang.
Tiba-tiba, ponsel di tangan Ayyara bergetar, memunculkan notifikasi BeReal yang memaksa kamera depan dan belakang aktif secara bersamaan. Di dalam frame kecil di sudut layar, Eisein tertangkap basah sedang menggigit sepotong kecil kue dengan ekspresi pasrah, kacamata bertengger di hidungnya. Sementara kamera utamanya merekam Ayyara yang tersenyum miring ke arah kamera.
Cklek! Foto itu langsung terunggah otomatis.
Ayyara melirik layar ponselnya, lalu menatap Eisein yang duduk di hadapannya. Gadis itu terkekeh pelan. "Aduh, kak. Look at you. Udah kayak pangeran tersiksa banget disuruh nemenin princess ultah di tempat mahal gini. Are you okay, my sweet brother?" ledeknya dengan nada sengak.
Eisein menghela napas pelan, menelan makanannya, lalu menatap adiknya dengan tatapan teduh namun tegas. Ia sudah terbiasa dengan tabiat Ayyara yang hobi menindasnya setiap kali ulang tahun.
"Well, malau bukan karena hari ini ulang tahun kamu, kakak gak sudi nurutin mau kamu reservasi tempat fancy begini," balas Eisein tenang, meski bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang menyiratkan betapa sayangnya ia pada sang adik.
Ayyara mendengus pelan, dagunya terangkat sok kuasa. "Hey, come on. Sekali-kali traktir adiknya yang paling cantik ini. Besides, kartu kredit Kakak kan tebal banget, jadi apa yang perlu di khawatirin?"
"Its not about money, dek. Tapi attitude kamu itu lho, makin lama makin mirip boss mafia daripada adik kakak," balas Eisein sabar, sambil meraih garpu dan memotong kue di depannya untuk merapikannya.
Meskipun sering menjadi korban keisengan Ayyara, Eisein tidak pernah absen memberikan princess treatment terbaik untuk adiknya. Ia memanggil pelayan dengan gestur sopan untuk membawakan hidangan penutup tambahan khusus kesukaan Ayyara.
"Hehe, itu baru kakak aku!" puji Ayyara langsung sumringah begitu melihat hidangan penutup kesukaannya tiba. "Makasih ya, Kakak tertampan sedunia. You're the best, seriously."
Eisein hanya menggelengkan kepalanya pelan, terbiasa dengan perubahan sikap Ayyara yang langsung manis kalau sudah diberi apa yang ia mau. "Here, make a wish, sebelum kuenya keburu habis kamu comotin terus."
Ayyara tersenyum lebar, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, lalu memejamkan mata sejenak untuk berdoa di hari spesialnya, dengan Eisein yang setia mengawasi di seberang meja, siap mengabulkan apapun yang diminta adiknya itu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @latiinas
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @latiinas
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Angin malam berhembus lembut, membawa serta kelopak-kelopak bunga sakura yang berguguran di sepanjang jalan tepi sungai. Pantulan lampu jembatan dan kerlap-kerlip lampu kota memantul indah di atas permukaan air yang tenang. Di bawah naungan pohon sakura yang sedang bermekaran, Louis tersenyum manis ke arah kamera ponsel yang mendadak berdering—menandakan waktu BeReal telah tiba. Di sudut layar ponsel, Eisein tampak bersandar santai di pagar pembatas, melipat tangan di dada dengan ekspresi cool yang setengah-setengah bosan, setengah pasrah jadi tukang foto pribadi kekasihnya.
Cklek!
Notifikasi berbunyi, mengabadikan momen malam itu secara instan. Louis langsung melirik layar ponselnya, lalu tertawa kecil melihat pose Eisein di frame kecil.
"Look at your face. Serius banget, padahal tinggal senyum dikit aja susah ya?" ledek Louis sambil memiringkan kepala, matanya berbinar jenaka menatap pria itu.
Eisein mendengus pelan, lalu mengubah posisinya dan berjalan mendekat. "Its not that I dont wanna smile, baby. Aku lagi mikirin omongan kamu soal rencana liburan bulan ini yang nggak habis-habis dari kemarin," balas Eisein dengan nada santai khasnya.
Louis mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. "Please, dont be like that! Ini kan crucial. Bulan ini kita must have a proper trip, at least seminggu. Aku stres sama kuliahan, Eisein. Aku butuh healing secepatnya."
Eisein terkekeh pelan melihat kebawelan Louis. Ia meraih tangan gadis itu, mengusap punggung tangan itu dengan lembut untuk meredakan gerutuan kecil Louis. "I know, baby, i know. And actually, aku sudah browsing beberapa tempat dari semalem setelah kamu ngomel-ngomel."
Mata Louis langsung membelalak antusias, rasa kesalnya seketika menguap begitu saja. "Really?! Where? Spill it to me right now!" tanyanya penuh semangat, jemarinya mencengkeram lengan Eisein erat-erat.
"Bagaimana kalau kita ke Swiss? Just the two of us. Main salju, staying in a cozy cabin, atau kalau nggak mau dingin, kita ke pantai privat di Maldives?" tawar Eisein dengan suara rendah yang menenangkan, menatap manik mata Louis lekat-lekat.
Louis tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit. "Oh my god, Swiss sounds like an absolute dream!" serunya girang. "I mean, waking up with mountain views and drinking hot chocolate with you? That is literally the best idea ever."
"Tuh kan, makanya jangan panik mulu. I always got your back, sweetheart," ucap Eisein sambil merangkul pinggang Louis, menariknya lebih dekat ke sisi tubuhnya agar terhindar dari angin malam yang mulai menusuk kulit.
Louis menyandarkan kepalanya di bahu Eisein, menikmati kehangatan di tengah udara musim semi yang masih agak dingin. "Thank you, love. Kalau nggak ada kamu, entah gimana nasibku yang gampang stress ini," gumam Louis tulus.
"With pleasure, cantik. Now, lets make a real itinerary, biar wacana liburan ini nggak cuma berakhir jadi angan-angan doang," balas Eisein tersenyum tipis, mengecup puncak kepala Louis sementara malam semakin larut dalam dekap kebersamaan mereka.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM