ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @ahbyeon
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @ahbyeon
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Siang itu, alih-alih beristirahat di apartemen setelah minggu yang melelahkan, Eisein malah jadi korban kesekian kalinya buat nemenin Ran "nyari angin" sekaligus berburu konten foto di sekitar Navy Pier.
Tepat saat mereka sedang asyik berjalan di dekat area dermaga, ponsel Eisein bergetar keras. Notifikasi BeReal serentak berbunyi.
"Duh, pas banget waktunya pas saya lagi keringetan gini," gerutu Eisein pelan sambil mengangkat ponselnya untuk mengambil foto front-and-back. Di layar utamanya, Ran langsung berpose menoleh ke belakang dengan angle pas di dekat persimpangan jalan kota. Sementara di sudut kiri atas, wajah Eisein terpampang dengan pose mendongak malas ke arah gedung tinggi.
Ran melirik layar ponsel Eisein dan tertawa kecil.
"Ih, bang Es! Muka lo melas banget kayak kucing garong nggak dapet jatah wiskas. Seneng dikit, dong, lagi di Chicago nih!" seru Ran dengan nada riang, tetap mempertahankan posisinya demi hasil foto yang maksimal.
Eisein mendengus, menyesap es kopi di tangannya pelan-pelan.
"Saya bukan kurang senang, Ran. Ini kaki saya sudah mau copot keliling Navy Pier cuma buat kamu foto di setiap sudut jalan yang bentuknya mirip. Kemarin di deket teater, sekarang di zebra cross. Besok mau foto di mana lagi? Tong sampah?" balas Eisein sarkas, tapi jarinya tetap menekan tombol capture BeReal buat nge-upload foto mereka.
Ran terkekeh renyah, lalu berjalan mendekat sambil merapikan tas belanjanya.
"Sekali-kali jadi fotografer pribadi gue gitu lho, Bang. Anggap aja latihan sebelum lo nanti punya pacar yang suka ngerepotin. Udah, buruan habisin kopinya, abis ini kita naik Centennial Wheel yang gede itu, gue mau lihat pemandangan Danau Michigan dari atas," ajak Ran antusias, menunjuk bianglala raksasa yang berputar megah di tepi danau.
Eisein menatap bianglala itu sekilas, lalu menghela napas panjang tanda menyerah.
"Naik bianglala... alright. Pokoknya jangan ngelakuin hal yang bikin saya nanggung malunya. Second-hand embarrassment itu gak enak." Gerutu Eisein setengah bercanda, meski akhirnya dia tetap mengekangkah mengikuti langkah riang Ran menuju antrean wahananya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @ayngeI
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @ayngeI
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Udara pengap toko thrift sepertinya tidak menyurutkan energi Cerise sedikit pun. Gadis itu baru saja keluar dari area rak jaket olahraga dengan kombinasi outfit yang, jujur saja, membuat Eisein ingin pura-pura tidak mengenalnya detik itu juga.
Topi baret abu-abu miring, jaket tracktop biru muda dengan kerah coklat, celana jeans belel, dan... pose pamer otot ala binaragawan sambil melotot lucu ke arah kamera ponsel.
Di sudut lain, Eisein sedang menyandarkan bahunya ke dinding sofa, memasang wajah datar sambil memegang dagunya.
"Heh, udah pose paling kece nih, jangan bilang kamu nggak mau fotoin?" seru Cerise, mempertahankan pose sok kuat itu. "Buruan Eisein, aku cape nahan pose ini!"
Eisein menghela napas panjang, matanya melirik sekilas ke arah layar ponsel tempat BeReal miliknya menyala. Ekspresinya benar-benar jenuh, tapi ibu jarinya tetap menekan tombol capture dengan pasrah.
"Iya, iya, ini sudah saya foto. Boleh minta tolong ganti gaya? Kamy keliatan kayak mau ngajak tawuran anak SMA sebelah soalnya," balas Eisein.
Cerise langsung menurunkan tangannya, cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Langkah kecilnya membawanya mendekati Eisein, mengintip layar ponsel cowok itu.
"Banyak ngatur kamu. Mana coba lihat fotonya." Gumam Cerise, seringai kecil muncul dari sudut bibirnya. "Buset, cool banget nih aku. Beli ini aja kali ya?"
Eisein memutar bola matanya, lalu memasukkan ponselnya ke saku jaket abu-abunya. "Mana ada cool. Mau gaya kayak gimana juga kalau jaketnya warna-warni begitu, kamu tetep keliatan kayak ondel-ondel."
Mata Cerise membelalak lebar, pipinya menggembung kesal. "Ih! Kamu emang gak ada selera Fashion sama sekali ya? Dasar tua!"
"Im stating fact, live with it," jawab Eisein santai, berjalan mendahului menyusuri lorong tumpukan jaket kulit. "Udah, balikin jaket birunya. Kita cari kopi aja."
"Gak mau yaa! Aku mau beli ini dulu, kopi belakangan." Cerise buru-buru mengejar langkah panjang Eisein sambil terkikik geli, merasa menang karena berhasil membuat Eisein yang sabar itu kewalahan sendiri.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Matiusx
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Matiusx
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Suara bising dari auditorium utama perlahan meredam hingga ke ruang tunggu belakang panggung. Naomi duduk bersandar pada dinding abu-abu, menunduk menatap buket bunga berukuran besar yang memenuhi dekapannya. Perpaduan bunga putih, ungu muda, dan dedaunan segar itu tampak kontras di antara suasana backstage yang remang.
Di seberangnya, Eisein berdiri sambil bersandar santai. Tangan kirinya memegang ponsel dengan aplikasi BeReal yang aktif menyala, sementara tangan kanannya merapikan letak kacamatanya.
"Wait a moment, Naomi. Jangan bergerak dulu, ini pas momennya buat BeReal," kata Eisein dengan suara rendah bernada tenang, mengabadikan ekspresi Naomi yang sedang tersenyum tipis ke arah bunga pemberiannya.
Naomi mendongak, menatap layar kecil di ponsel Eisein sebelum kembali menunduk malu-malu ke arah buket bunga di pangkuannya. "Kamu tiba-tiba banget ngeluarin hp pas aku lagi meluk bunga. Kirain mau langsung ngajak pulang."
"This is called documentation. Siapa tahu besok-besok kamu lupa kalau pernah menang juara satu lomba bergengsi begini," balas Eisein santai, senyum tipis terukir di bibirnya. "Thank you for your hard work. Your performance was truly magnificent."
Naomi merapikan helaian rambut hitamnya, pipinya sedikit merona meski suaranya tetap terdengar lembut dan kalem. "Makasih banyak ya, Eisein. Aku tadinya sempat nervous tahu pas di belakang panggung. Untung kamu bawain bunga ini... it really made my day."
"My pleasure, Naomi. Memang sudah kewajiban saya memberi apresiasi untuk orang yang dari sebulan lalu lembur latihan terus," jawab Eisein, memasukkan ponselnya ke saku setelah foto berhasil terunggah. "Alright, now.. kamu pasti lelah, saya traktir es krim kesukaan kamu, mau?"
"Of course." Naomi mengangguk pelan, berdiri sambil mendekap buket bunganya erat-erat dengan senyuman yang enggan pudar dari wajahnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @fserena
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @fserena
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Eksperimen cooking date hari ini resmi berakhir dengan kekacauan kecil: meja makan penuh piring kotor dan sisa keju leleh di mana-mana. Alih-alih membiarkan Shayla membereskannya sendirian, Eisein langsung mengambil alih tugas cuci piring tanpa diminta.
Di seberang wastafel, Shayla berdiri sambil bersandar rileks, ponselnya terangkat untuk mengambil potret BeReal kilat. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lucu sambil mengedipkan satu mata ke arah kamera, mengabadikan momen pria kesayangannya yang sedang serius menyikat panci gosong.
"Duh, cowok siapa sih ini? Rajin banget," puji Shayla dengan nada manja, sengaja menggoda Eisein sambil memainkan ujung rambut pirangnya. "Mas nggak capek apa dari tadi berdiri terus? Aku lihatnya kaya gak enak gitu lho.. Sini, gantian, adek juga mau cuci piring."
Eisein melirik sekilas dari balik bahunya, menghentikan gerakan tangannya sebentar. Wajahnya datar, tapi matanya melembut.
"No need, sayang. Kamu duduk manis aja di situ. Biar Mas yang beresin semua," jawab Eisein dengan suara baritonnya yang tenang. "Nanti tangan cantiknya bau sabun cuci piring, Mas yang tidak selera."
Shayla langsung terkekeh gemas, pipinya bersemu merah mendengar gombalan tipis khas Eisein. Gadis itu mendekat, lalu dengan hati-hati menempelkan ibu jarinya yang bersih ke pipi Eisein yang tanpa sadar kena cipratan busa sabun.
"Mas ini kok pinter banget bikin adek salting? Tapi... thank you ya, Mas, udah nemenin masak hari ini. Meskipun tadi sempat hampir kebakaran gara-gara kompornya terlalu panas hehe," kata Shayla sambil nyengir lebar.
Eisein membiarkan sentuhan itu, lalu tersenyum tipis—pemandangan langka yang hanya dikeluarkan khusus untuk Shayla. Tangannya yang basah dilap sekilas ke kain serbet, lalu dengan lembut mencolek ujung hidung Shayla menggunakan sisa busa sabun.
"Siapa suruh tadi nekat mau masak sendiri tanpa baca resep dulu, hm? Untung Mas sigap, kalau nggak, apartemen ini udah rata sama tanah," balas Eisein lembut, meski nada meledeknya tetap kentara. "Sudah, tadi kamu bilang mau nonton film kan habis ini? Kenapa gak siapin camilan aja sekalian?"
Shayla mengerucutkan bibirnya pura-pura ngambek, tapi senyum bahagianya tak bisa disembunyikan. "Oh, iya! Adek kelupaan hehe. Oke deh!"
Gadis itu melompat kecil penuh semangat, meninggalkan Eisein yang geleng-geleng kepala pelan, merasa hidupnya mendadak jauh lebih berwarna berkat kehadiran sang kekasih.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Sockb
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Sockb
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Angin laut sore berhembus kencang, membawa aroma garam dan kebebasan. Di tepi gulungan ombak yang besar, Eisein berdiri tanpa baju, celana panjang putihnya basah kuyup tersapu buih air laut. Kulitnya berkilat di bawah temaram matahari senja, sementara senyum lebarnya menghiasi wajahnya setelah berhasil menembus ombak tinggi.
Beberapa meter di belakangnya, di area pasir yang kering dan aman dari jangkauan air, Elliot duduk bersila di atas handuk pantai. Pemuda berambut basah dengan topi biru terbalik itu mengenakan kalung manik-manik warna-warni. Sambil memegang ponsel, Elliot membuka kamera depan untuk mengabadikan momen BeReal mereka sore itu—menangkap sosok Eisein yang tampak perkasa di tengah gempuran ombak, berbanding terbalik dengan dirinya yang memilih menepi.
"Eisein! Udah, dong! Ombaknya makin tinggi itu, nanti kamu terbawa arus beneran gimana?" panggil Elliot dengan suara lembutnya, sedikit berteriak agar menyaingi suara deburan ombak.
Eisein menoleh, tertawa renyah sambil mengibaskan rambutnya yang basah. Langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati bibir pantai, menjauhi buih air yang mengejar.
"Relax, El. Ombak segini mah kecil, nggak ada apa-apanya," seru Eisein tegas, suaranya penuh percaya diri. "Kamu dari tadi cuma duduk di situ terus. Sini, gabung ke air! Segar banget, sumpah. Rugi kalau ke pantai tapi cuma ngeliatin pasir."
Elliot menggeleng pelan, menarik lututnya lebih dekat ke dadanya dengan gestur defensif yang manis. Tatapannya menyiratkan keengganan yang kuat.
"No thanks. Saya cukup jadi penonton setia kamu saja dari sini," jawab Elliot lembut. "Kamu tahu sendiri saya kurang suka kalau badan lengket kena air asin. Dingin juga."
Eisein mendengus geli, lalu berjalan mendekati tempat Elliot duduk, meninggalkan jejak kaki basah di atas pasir. Dia menjatuhkan diri dengan santai di sebelah elliot, mengambil ponsel dari tangan temannya itu untuk mengecek hasil foto BeReal mereka.
"Kamu ini ya, punya jiwa petualang tapi penakut sama air laut," goda Eisein, melirik sekilas ke arah Elliot dengan tatapan hangat. "Tapi ya sudahlah, setidaknya kita sama-sama menikmati sore ini."
Elliot tersenyum tipis, "Makasih ya sudah mau nemenin saya ke sini, ternyata refreshing dan lepas dari pekerjaan sebentar itu perlu."
Eisein merangkul bahu Elliot sekilas dengan akrab. "Told ya, Mate. Istirahat buat kita yang hidupnya kerja terus itu memang wajib."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Kayivna
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Kayivna
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Baru saja sepuluh menit lalu mereka keluar dari gerbang algoritma, berjalan sambil membahas materi yang membuat kepala pusing. Mintheori, dengan kacamata bertengger manis di hidungnya, sedang asyik ngoceh panjang lebar soal tugas kodingannya yang hampir eror.
Namun, gangguan itu terhenti total begitu seekor anjing ras Golden Doodle rambut keriting cokelat lebat melintasi bersama pemiliknya, menjulurkan lidah dengan wajah paling polos sedunia.
Seketika itu juga, Eisein—sang kating Fakultas Hukum yang biasanya jaim dan pasang badan tegas—langsung tergeletak di atas ubin merah bata tanpa aba-aba. Dunianya langsung runtuh, menyisakan si anjing gemas di depannya.
"Hey, buddy. How adorable you are." Sapa Eisein dengan suara melengking girang yang belum pernah didengar Mintheori seumur hidupnya. Dia menatap anjing itu berbinar-binar, seakan-akan keberadaan Mintheori menghilang.
Mintheori mengerjap sambil menatap Eisein yang sudah duduk santai di trotoar. Ponselnya terangkat, mengambil foto BeReal dengan ekspresi datar campur pasrah.
"Excuse me," Eisein mendongak menatap si pemilik anjing dengan sopan. "Boleh izin elus anjingnya sebentar? Namanya siapa ya, Kak?"
Pemilik anjing tertawa kecil melihat antusiasme Eisein. "Boleh banget, kak, silakan. Namanya Latte."
"Wow, just like the color of his fur, it suit you so much, buddy," balas Eisein sumringah, langsung mengelus-elus kepala Latte dengan penuh kasih sayang, melupakan fakta bahwa Mintheori sedari tadi berdiri menenteng tas laptopnya sendirian.
Mintheori menghela napas panjang, menatap punggung Eisein dari atas.
"Kak Eis..." panggil Mintheori dengan nada setengah protes, menyilangkan tangan di dada. "Ini kita jadi ke cafe nggak? Atau aku ditinggal ngobrol sama Latte nih?"
Eisein menoleh sekilas, tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sambil tetap menggaruk dagu si anjing. "Eh, ada kamu, Min. Hehe. Sebentar ya, ini Latte bulunya lembut banget, surga dunia tau. Kapan lagi saya ketemu anjing lucu ini habis kelas hukum pidana yang bikin stres?"
Mintheori memutar bola matanya di balik kacamata, lalu memancarkan geli. "Iya deh, iya."
Eisein tertawa renyah, akhirnya berdiri dan menggenggam bahu Mintheori singkat. "Jangan merajuk begitu dong, calon insinyur komputer. Abis ini saya traktir caramel macchiato paling mahal deh. Promise."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pBurzum
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pBurzum
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Selesai jam kantor, Eisein mendapat mandat darurat dari sang ibu: beli buah segar untuk persediaan di rumah. Masalahnya, Eisein yang biasa hidup di mal dan restoran cepat saji tidak punya clue sama sekali tentang dunia perbuahan. Beruntung, Jonathan—senior kantor yang kebetulan searah—sukarela menemani bocah linglung ini mampir ke kios buah terdekat.
Jonathan berdiri agak jauh sambil memegang ponselnya, membuka aplikasi BeReal untuk mengabadikan momen langka ini.
"Bang jon... ini buah apa namanya?" tanya Eisein dengan nada serius, menoleh ke arah Jonathan yang sedang sibuk mengambil foto. "Ibu saya bilang suruh beli buah peach, tapi bentuknya kok gepeng gini? Ini beneran bisa dimakan atau saya salah ambil?"
Jonathan terkekeh pelan dari balik ponselnya, menggelengkan kepala melihat kepolosan junior kantornya itu.
"Itu namanya donut peach, Sen. Makanya jangan keseringan nongkrong di kafe mulu, sekali-sekali temenin emak ke pasar biar tahu variasi ciptaan Tuhan," ledek Jonathan santai. "Itu manis banget rasanya, ambil aja yang banyak. Kalau salah, nanti emak lo yang ngomel, bukan gua."
Eisein menghela napas berat, memasukkan buah persik gepeng itu ke dalam keranjang besi belanjaannya dengan sangat hati-hati, seakan benda itu bisa meledak kapan saja.
"Duh.. honestly, agak pusing, bang. Di rumah tuh maunya buah yang bulat mulus biasa, kalau bentuknya aneh begini nanti saya dikira beli pernak-pernik pajangan sama Emak," keluh Eisein, kembali membolak-balik buah di keranjang dengan tampang tertekan.
Jonathan tertawa lepas, lalu berjalan mendekat untuk menepuk pundak Eisein pelan. "Udah, percaya sama gua, ambil sekilo. Biar gua yang bayar pakai kartu gua sekalian kalau lo takut dimarahin. Anggap aja ini ujian kesusahan hidup pertama lo sebagai anak berbakti."
Eisein mendengus pasrah, meski sudut bibirnya sempat terangkat tipis. "Ya sudah kalau Abang yang bilang begitu. Tapi kalau nanti Emak saya ngamuk, Bang jon yang harus pasang badan jelasin ke beliau, ya."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @svhuyi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @svhuyi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Lima belas menit yang lalu, bel apartemen Biane bunyi beruntun kayak orang ngutang ditagih debt collector. Pas dibuka, alih-alih bawa oleh-oleh atau niat bertamu yang benar, Eisein malah langsung terobos masuk sambil narik kaos hitamnya sendiri, dengan alasan krusial: mau ngecek mental kucing Biane yang katanya kangen sama dia.
Sekarang, Eisein malah rebahan tak berdaya persis di tengah lantai, menyerahkan tubuhnya jadi kasur empuk buat si kucing siam kesayangan Biane yang dengan santainya nongkrong di atas perutnya. Tangannya lemas terentang, matanya terpejam pasrah, seolah-olah dia adalah majikan sejati dan apartemen itu miliknya.
Biane berdiri di sudut ruangan sambil geleng-geleng kepala. Ponselnya terangkat, mengaktifkan fitur BeReal untuk menyebarkan bukti nyata ketidaksopanan temannya itu ke muka umum.
"Sumpah ya, Eisein... kamu tuh ya kalau bertamu makin hari makin gak punya akhlak," ucap Biane dengan nada tenang tapi menusuk, sambil mengarahkan kamera ke arah Eisein yang asyik dielus-elus kucingnya sendiri. "Datang-datang gak diundang, terus tiba-tiba terobos masuk gitu aja. Ini apartemen aku apa tempat penampungan sih?"
Eisein sama sekali gak bergeming dari posisinya. Matanya masih merem, menikmati dengkuran halus si kucing yang nempel di dadanya.
"Its not like that, Biane," balas Eisein santai dengan suara pelan, males gerak. "Saya ini cuma menjalankan misi penyelamatan batin. Kucing kamu ini kelihatan stres karena jarang dapet perhatian dari pemiliknya yang sibuk, makanya saya berinisiatif datang buat jadi tempat sandaran hidup mereka."
Biane mendengus pelan, menahan gemas sekaligus sebal lewat layar ponselnya. "Halah, alasan! Ngaku aja kalau kamy emang numpang tidur kan karena di kosan kamu gak ada AC yang dingin?"
"Oh my lord, fitnah keji macam apa itu?" sahut Eisein, akhirnya membuka sebelah matanya buat melirik Biane sekilas sebelum nutup muka lagi. "Udah, daripada kamu ngomel-ngomel begitu, mendingan kamu ambilin minum buat saya. Saya tamu lho disini."
"Dih, ogah banget! Ambil sendiri sana, aku mau nonton film, bye," ketus Biane, meski jarinya tetap nge-tap tombol capture BeReal buat ngabadikan tampang Eisein yang lagi kepedean.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pDulce
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @pDulce
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Suasana mall sore itu cukup ramai, namun Eisein dan Catleeia berada di gelembung dunia mereka sendiri. Mereka baru saja menaiki eskalator dari lantai dasar. Eisein, dengan kaos hitam simpel dan jam tangan perak, berdiri satu tingkat di depan Catleeia, menoleh ke belakang dengan senyum tipis yang menenangkan. Sebuah kantong berisi pastry baru saja ia pindahkan dari tangan kanannya ke kirinya.
Sementara itu, Catleeia, yang terlihat manis dengan rambut dikepang dan kacamata baca berbingkai tipis, berada tepat di belakangnya. Ia baru saja menempelkan ponselnya untuk mengambil foto selfie BeReal mereka. Di dalam frame kecil itu, wajahnya berseri-seri, sedikit genit, sementara Eisein di latar belakang menatap kamera dengan tatapan lembut.
"Sein, nanti kalau filmnya mulai, kamu jangan tinggalin aku ya," rengek Catleeia tiba-tiba, suaranya ceria tapi ada nada was-was. Eisein, seperti biasa, hanya mengangguk pelan dan tersenyum. "Chill, kan aku duduk di sebelahmu."
"Tapi kalau muncul jumpscare? Aku pasti bakal teriak kenceng banget. Awas ya kalau kamu ketawain aku," ancamnya main-main sambil menunjuk punggung Eisein dengan jari telunjuknya. Eisein tertawa kecil. "Iya, nggak akan aku ketawain. Paling cuma cekikikan dikit."
Tiba-tiba, Catleeia menghentikan langkahnya sejenak, menyadari sesuatu. "Eh, tunggu sebentar! Kok malah bahas film horror sih. Tadi aku yang ngide nonton itu, tapi sekarang aku yang panik sendiri." Eisein pun ikut berhenti dan berbalik sepenuhnya, menatap Catleeia dengan sabar. "Kalau kamu nggak siap, kita ganti film aja, Cantik. Dont force it."
Catleeia menatap Eisein, lalu melihat kantong pastry di tangan Eisein. Ia mengambil napas panjang. "Its okay, its okay! Aku udah beli tiketnya, nggak enak kalau dibatalin. Pokoknya nanti janji harus pegang tangan aku erat-erat kalau aku takut, ya?"
Eisein kembali tersenyum, senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. "Sure, Cat. Anything for you." Ia mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Catleeia lembut saat mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju bioskop di lantai atas.
"Lagipula," bisik Eisein pelan, hampir tidak terdengar di tengah keramaian mall, "I wonder how fast your heart will beat later." Catleeia memutar bola matanya dengan gemas, tapi pipinya bersemu merah muda. "Gak usah mulai den kamu ah," Mereka pun tertawa bersama, melanjutkan perjalanan mereka dengan langkah yang lebih ringan.
Mereka berdua tahu, tak peduli seberapa seram filmnya nanti, kebersamaan mereka akan lebih kuat dari rasa takut mana pun. Dan saat lampu bioskop meredup nanti, Eisein akan siap sedia untuk menjadi jangkar Catleeia, memastikan gadis yang ceria itu tidak akan pernah merasa sendirian dalam kegelapan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Yorvu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @Yorvu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Udara di puncak gunung memang beda level. Malam itu, rumah kayu Nenek Eisein dan Ael terasa seperti lemari es. Ael, dengan jaket puffer abu-abu yang tebal dan topi berbulu yang menutupi hampir seluruh wajahnya, meringkuk di sudut ruangan, matanya kosong menatap dinding kardus. Ia membenci dingin—dan kakaknya, Eisein, tahu persis hal itu.
Sementara Ael sedang "membeku" secara perlahan, Eisein justru sedang bersenang-senang. Duduk di kursi kayu di dekat tungku perapian (yang sayangnya sedang tidak menyala), Eisein menatap layar ponselnya. Ia baru saja membuka aplikasi BeReal dan sebuah notifikasi muncul. Kamera depan menangkap pantulan wajahnya yang tersenyum simpul, sedikit menahan tawa melihat adiknya. Kamera belakang menargetkan Ael yang sedang terbungkus jaket tebal.
Cklek! BeReal terambil.
"Mes," panggil Ael dengan suara serak, nyaris berbisik, dari tempat persembunyiannya. Bibir tipisnya sedikit cemberut. Eisein pun memutar kursinya agar bisa melihat adiknya lebih jelas.
"Kenapa, dek?" tanya Eisein dengan nada paling lembut yang ia punya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di dekat Ael.
"Nenek bilang dingin itu mitos. Tapi ini beneran atau gua yang halu? Kayaknya gua udah mati rasa dari ujung kaki sampai ujung kepala." Ael menggosokkan kedua tangannya di depan mulutnya, mencoba menciptakan sedikit kehangatan.
Eisein tertawa kecil, sebuah tawa yang hangat dan menenangkan. "Well, gak kaget. Kamu kan anak kota yang biasa AC-nya 24 derajat doang. Di sini suhunya 5 derajat, dek."
"Kok bisa lo tahan sama suhu yang begini? Itu jaket di gua gak berguna anjir." Ael menunjuk jaket puffer Eisein yang sama-sama abu-abu, namun terlihat pas di tubuh Eisein yang tegap, tidak seperti Ael yang tenggelam di dalamnya.
Eisein mencondongkan tubuhnya ke depan dan menempelkan punggung tangannya ke pipi Ael yang dingin. "Abang peluk sini, mau?"
Ael menepis tangan Eisein pelan, lalu memeluk lututnya sendiri. "Males, gak butuh pelukan."
"Udah, sini." Dengan sabar Eisein merangkul bahu Ael dan menarik adiknya yang kaku itu ke dalam pelukannya. Ael pun pasrah, menyandarkan kepalanya di bahu Eisein. Kehangatan dari tubuh Eisein pelan-pelan menjalar ke tubuhnya. "Tadi pas baru sampai kamu gak secerewet ini lho," ledek Eisein dengan nada geli, mengingat momen manis mereka di BeReal sebelumnya.
Ael hanya menatap Eisein dengan pandangan datar. "Ya kan tadi baru sampe, Mes. Tadi juga ada Thania, belum sadar gua kalau sedingin ini."
"Hahaha, iya deh. Nanti abang minta Nenek bikinin cokelat panas yang banyak buat kamu," Eisein mengusap-usap puncak kepala Ael dengan lembut, membuat rambut adiknya yang berwarna cokelat gelap itu sedikit berantakan.
Ael diam saja, menikmati kehangatan yang diberikan Eisein. Perlahan, bahunya yang kaku mulai rileks, dan ia menyandarkan kepalanya lebih nyaman di bahu kakaknya itu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @papwi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
guided by truth: @papwi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
California sore itu tidak terlalu terik, namun cukup untuk membuat seseorang kepanasan jika berjalan terlalu lama. Di salah satu sudut jalanan yang sibuk, Eisein dan Willis melangkah dengan santai.
Eisein, dengan kaos hitam simpel yang sedikit digulung di lengan dan celana panjang hitam, baru saja mengigit sebatang cokelat batangan yang ia keluarkan dari kantong kertas cokelat di tangan kirinya. Ia menoleh ke belakang, menatap Willis dengan tatapan yang datar.
Sementara itu Willis, yang berjalan sedikit di belakang Eisein, memiliki aura yang berbeda. Pria yang lebih tua itu mengenakan hoodie abu-abu, jaket hitam, topi baseball hitam bertuliskan "Off-White", dan kacamata hitam yang menyembunyikan matanya. Ia adalah tipe bapak-bapak yang penuh gaya. Willis baru saja mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto BeReal mereka. Kamera depan menangkap wajahnya yang cool, sedangkan kamera belakang menangkap sosok Eisein yang sedang menoleh dan menggigit cokelat dengan pandangan yang seakan berkata, “What do you think you're doing?”
Cklek! BeReal terambil.
Willis tertawa kecil, melihat hasil jepretannya. "Seriously, Eisein? Kamu lagi makan cokelat di pinggir jalan kayak anak kecil? That look on your face is priceless."
Eisein kembali menatap lurus ke depan, tidak memedulikan ledekan Willis. Ia menelan cokelatnya dengan tenang. "Oh, shut up, will ya? Im deadass hungry and need more energy. Ini namanya efisiensi waktu."
Willis mengulum senyum. Mereka terus berjalan di trotoar yang ramai. Di latar belakang, terlihat mobil polisi yang diparkir di pinggir jalan, sebuah sepeda motor yang sedang melaju, dan toko "SNIPES.COM" yang ikonik.
"Kalau begitu, efisiensi waktu macam apa yang buat kita jalan ke restoran sekarang?" goda Willis lagi, menunjuk dengan dagunya ke depan, ke arah restoran yang masih beberapa blok lagi. "You know we are going for dinner, right?"
Eisein menghela napas panjang, pura-pura kesal dengan pertanyaan Willis. "Of course, i know. But my fuckin stomach cant wait any longer, Man. If I faint from hunger, you'll be the one in trouble."
Willis terkekeh, menyukai bagaimana Eisein selalu memiliki jawaban cerdas. "Okay, okay. My bad. Lets just keep walking, and please, dont faint on me."
Eisein mendengus pelan, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Mereka melanjutkan perjalanan mereka di bawah sinar matahari California.