ㅤㅤㅤㅤㅤ(@EiserT) 𝘓𝘶𝘥𝘪𝘤 𝘊𝘩𝘳𝘰𝘯𝘪𝘤𝘭𝘦𝘴
1 subscriber
242 photos
24 links
Download Telegram
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
       guided by truth: @fserena

ㅤ Ship you with James CORTIS.
To be honest: I really appreciate how you always try your best to make people loved. You're the most caring, precious, and adorable person I know—knowing you is not a regret, but a longing to stay in the present without any final words that left on both of us. Dont be hard on yourself, Mishayla, you did great and everyone's adore you.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
       guided by truth: @jangwonyth
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Eisein bersandar malas di rak buku, menatap kosong ke arah acak. Kyrena muncul dengan buku bersampul krem, wajahnya berbinar menatap Eisein. "Kak Eis! Vibes-nya dapet banget, kan? Buat feed aesthetic nih. Worth it banget buat OOTD. Bantuin fotoin, ya?"

Eisein menoleh pelan, nyaris tanpa ekspresi. "Dek, we're here to look for architecture books buat tugasmu, ingat? Cepetan."

Kyrena cemberut. "Ih, sebentar aja. Ini tempatnya instagrammable parah, lho. Pliiiis... sekali aja, ya?"

Eisein mendengus frustasi. "No."

Kyrena mengambil buku lagi dan berpose menoleh ke arah Eisein. "Nggak usah pose model, Kak. Candid aja. Pura-pura aku lagi deep thinking. Abis ini aku traktir latte deh, gimana?"

Eisein menaikkan alis. Tawaran itu menggoyahkan dirinya sejenak sebelum akhirnya ia menghela nafas—mengeluarkan ponselnya. "Whatever you say." Eisein dengan malas mengarahkan ponsel ke Kyrena yang sedang berpose dan tersenyum manis. "Dah, cepetan. Satu... dua... tiga."

Kyrena buru-buru mendekat untuk memeriksa hasil foto. "Ih, kak Eis! Blur! Ulang lagi, dong. Lighting-nya kurang dramatis."

Eisein mendelik dan berjalan menjauh. "No way, Dek. Kesepakatannya cuma satu foto. Jangan lupa latte-nya."

Kyrena menghentak sebal lalu mengejar Eisein yang sudah di kasir. "Ish, gak asik banget kamu."

Eisein hanya memberikan senyuman tipis.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
       guided by truth: @respehct

Presentasi untuk klien terbesar tahun ini baru saja berakhir satu jam yang lalu. Ketegangan di ruang rapat masih terasa di udara, tapi sekarang sudah tergantikan oleh aroma kafein dan alkohol yang lembut. Jacinda dan Eisein, dua rekan kerja yang dikenal sebagai "Tim Super Kompeten," melipir ke tempat ini untuk debriefing non-formal.

Eisein, yang baru saja memesan espresso triple shot, menatap layar ponselnya. Dia sedang melakukan sesi potret BeReal untuk mengabadikan moment bersama rekan kerjanya.

"Dah, nih," gumam Eisein, memastikan pose mereka masuk dalam frame.

Jacinda menoleh dari jendela, tertawa renyah. "Ya ampun, Eis. Lo masih sempet-sempetnya BeReal. Gue kira lo udah mati suri. Itu espresso kan bukan buat tidur?"

Eisein mendengus, lalu menyeruput kopinya dengan cepat. "Gak mempan. Saya masih kepikiran muka klien pas saya jelasin bagian Q&A tadi. Untung kamu yang handle bagian data. Kalau saya sendiri, alamat saya kena mental."

Jacinda tersenyum simpul, menikmati sisa cheesecake-nya. "Biasa aja kali. Emang udah tugas kita back-up satu sama lain. Lagian, lo tadi on fire banget pas ngejelasin vision-nya. Gue aja sampe terpukau nih, suer." Dia mengedipkan mata.

Eisein memutar bola matanya, sedikit salah tingkah. "Ah, basi banget. Tapi ya sudahlah, its already over. Besok kita cuma wrap up sama meeting internal aja. Kamu besok mau dateng jam berapa?"

"Hmm, jam sepuluh? Gue mau sleepj in dulu," jawab Jacinda santai.

Eisein menatap Jacinda dengan tatapan sedikit sebal, tapi ada rasa lega di sana. "Do whatever you want, Jacinda. Yang penting data buat report besok udah beres di meja saya pagi-pagi."ㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @sNatsuki

Baru saja tiga putaran mengelilingi trek lari, Eisein sudah berhenti di pinggir lapangan rumput. Dia berdiri tegak, memiringkan kepalanya tajam ke samping sambil memegang leher belakangnya. Bunyi krek pelan terdengar, khas bapak-bapak yang kurang pemanasan tapi masih sok kuat.

Di layar ponsel yang menyala menampilkan jendela BeReal, Josiah berdiri dengan tangan bersidekap, menatap sahabatnya itu dengan ekspresi datar tanpa dosa. "Udah, Sen? Baru juga tiga keliling, muka lu udah kayak mau pingsan. Efek umur ya?"
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Eisein mendengus pelan, masih sibuk meregangkan otot lehernya yang kaku. "Ini bukan masalah umur, Jo. Kamu ini ya, dibilangin jangan suka remehin pemanasan. Enak banget ngomong dari layar HP, badan saya ini rasanya mau copot gara-gara ngikutin gaya lari kamu."

Josiah terkekeh pelan, memasukkan satu tangan ke saku jaketnya dengan gaya santai, "Yaelah, lu-nya aja yang kurang piknik, makanya gampang jompo. Gua mah masih fresh, nih. Liat, ga ada keringet-keringetnya."

Eisein melirik tajam ke arah layar kamera milik Josiah, lalu memutar bola matanya dengan malas. Dia berjalan gontai ke arah bangku taman di dekat sana, menjatuhkan bokongnya dengan helaan napas panjang. "Iya, up to you, Jo. Anak muda mah bebas."

Josiah berjalan mendekat, kini masuk ke dalam jangkauan pandangan langsung sambil membawa dua botol air mineral dingin. Dia melempar salah satunya ke pangkuan Eisein. "Nih, minum dulu biar ga gampang emosi."

Eisein menangkap botol itu, lalu membukanya dengan ogah-ogahan sebelum meneguknya perlahan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @matmpus

Semua ini berawal dari gabut tingkat dewa. Eisein yang tadinya mau tidur jadi batal gara-gara Caldrich tiba-tiba nyelonong masuk kamar sambil nenteng kunci motor dan ngajak "cari angin". Ujung-ujungnya, motor malah diparkir di dekat gerbang, dan mereka malah jalan kaki muterin blok perumahan cuma buat nyari tukang nasi goreng yang entah buka atau nggak.

Di tengah jalan, notifikasi BeReal berbunyi nyaring. Waktu buat "post" bareng-bareng.

Caldrich langsung berhenti di tengah trotoar, memposisikan badannya di bawah lampu jalan biar angle-nya dapet, sementara Eisein menghela napas panjang sambil membuka kamera ponselnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
"Udah, belum? Capek saya, Drich. Ini udah keliling dua blok tapi gak ada tanda-tanda tukang nasgor lewat. Kaki saya mau copot," keluh Eisein, jarinya sibuk merapikan letak kamera BeReal agar mukanya masuk frame.

Caldrich menoleh sekilas ke arah layar ponsel Eisein dengan santai, lalu kembali memasang pose cool sambil menengadah ke arah lampu jalan. "Yaelah, Santai atuh. Baru juga 2 blok, biasanya emang belum lewat kesini. Nikmati angin malamnya aja udah, jarang-jarang kan otak kita gak ngebul mikirin revisian dosen?" balas Caldrich santai, memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie.

"Besok saya harus bangun pagi buat ngurus berkas magang," sahut Eisein dengan nada datar. "Kamu sih, orang mau tidur malah ngajak keluar. Kalau gak nemu abang nasgor awas aja."

Caldrich terkekeh pelan, melangkah lagi menyusuri trotoar sepi. "Emang mental bapak-bapak lu, Sen. Jam sepuluh malem tuh harusnya jiwa muda kita lagi membara, bukan malah ngitungin uban. Tuh, liat depan, kayaknya ada yang mangkal."

Eisein mendengus, mengikuti langkah Caldrich dari belakang sambil merapatkan jaket kulitnya. "Membara karena masuk angin iya."

Caldrich hanya tertawa mengejek, terus berjalan mendahului sementara malam semakin larut membungkus keheningan kompleks kosan mereka.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @ahbyeon
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Siang itu, alih-alih beristirahat di apartemen setelah minggu yang melelahkan, Eisein malah jadi korban kesekian kalinya buat nemenin Ran "nyari angin" sekaligus berburu konten foto di sekitar Navy Pier.

Tepat saat mereka sedang asyik berjalan di dekat area dermaga, ponsel Eisein bergetar keras. Notifikasi BeReal serentak berbunyi.

"Duh, pas banget waktunya pas saya lagi keringetan gini," gerutu Eisein pelan sambil mengangkat ponselnya untuk mengambil foto front-and-back. Di layar utamanya, Ran langsung berpose menoleh ke belakang dengan angle pas di dekat persimpangan jalan kota. Sementara di sudut kiri atas, wajah Eisein terpampang dengan pose mendongak malas ke arah gedung tinggi.

Ran melirik layar ponsel Eisein dan tertawa kecil.

"Ih, bang Es! Muka lo melas banget kayak kucing garong nggak dapet jatah wiskas. Seneng dikit, dong, lagi di Chicago nih!" seru Ran dengan nada riang, tetap mempertahankan posisinya demi hasil foto yang maksimal.

Eisein mendengus, menyesap es kopi di tangannya pelan-pelan.

"Saya bukan kurang senang, Ran. Ini kaki saya sudah mau copot keliling Navy Pier cuma buat kamu foto di setiap sudut jalan yang bentuknya mirip. Kemarin di deket teater, sekarang di zebra cross. Besok mau foto di mana lagi? Tong sampah?" balas Eisein sarkas, tapi jarinya tetap menekan tombol capture BeReal buat nge-upload foto mereka.

Ran terkekeh renyah, lalu berjalan mendekat sambil merapikan tas belanjanya.

"Sekali-kali jadi fotografer pribadi gue gitu lho, Bang. Anggap aja latihan sebelum lo nanti punya pacar yang suka ngerepotin. Udah, buruan habisin kopinya, abis ini kita naik Centennial Wheel yang gede itu, gue mau lihat pemandangan Danau Michigan dari atas," ajak Ran antusias, menunjuk bianglala raksasa yang berputar megah di tepi danau.

Eisein menatap bianglala itu sekilas, lalu menghela napas panjang tanda menyerah.

"Naik bianglala... alright. Pokoknya jangan ngelakuin hal yang bikin saya nanggung malunya. Second-hand embarrassment itu gak enak." Gerutu Eisein setengah bercanda, meski akhirnya dia tetap mengekangkah mengikuti langkah riang Ran menuju antrean wahananya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @ayngeI
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Udara pengap toko thrift sepertinya tidak menyurutkan energi Cerise sedikit pun. Gadis itu baru saja keluar dari area rak jaket olahraga dengan kombinasi outfit yang, jujur saja, membuat Eisein ingin pura-pura tidak mengenalnya detik itu juga.

Topi baret abu-abu miring, jaket tracktop biru muda dengan kerah coklat, celana jeans belel, dan... pose pamer otot ala binaragawan sambil melotot lucu ke arah kamera ponsel.

Di sudut lain, Eisein sedang menyandarkan bahunya ke dinding sofa, memasang wajah datar sambil memegang dagunya.

"Heh, udah pose paling kece nih, jangan bilang kamu nggak mau fotoin?" seru Cerise, mempertahankan pose sok kuat itu. "Buruan Eisein, aku cape nahan pose ini!"

Eisein menghela napas panjang, matanya melirik sekilas ke arah layar ponsel tempat BeReal miliknya menyala. Ekspresinya benar-benar jenuh, tapi ibu jarinya tetap menekan tombol capture dengan pasrah.

"Iya, iya, ini sudah saya foto. Boleh minta tolong ganti gaya? Kamy keliatan kayak mau ngajak tawuran anak SMA sebelah soalnya," balas Eisein.

Cerise langsung menurunkan tangannya, cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Langkah kecilnya membawanya mendekati Eisein, mengintip layar ponsel cowok itu.

"Banyak ngatur kamu. Mana coba lihat fotonya." Gumam Cerise, seringai kecil muncul dari sudut bibirnya. "Buset, cool banget nih aku. Beli ini aja kali ya?"

Eisein memutar bola matanya, lalu memasukkan ponselnya ke saku jaket abu-abunya. "Mana ada cool. Mau gaya kayak gimana juga kalau jaketnya warna-warni begitu, kamu tetep keliatan kayak ondel-ondel."

Mata Cerise membelalak lebar, pipinya menggembung kesal. "Ih! Kamu emang gak ada selera Fashion sama sekali ya? Dasar tua!"

"Im stating fact, live with it," jawab Eisein santai, berjalan mendahului menyusuri lorong tumpukan jaket kulit. "Udah, balikin jaket birunya. Kita cari kopi aja."

"Gak mau yaa! Aku mau beli ini dulu, kopi belakangan." Cerise buru-buru mengejar langkah panjang Eisein sambil terkikik geli, merasa menang karena berhasil membuat Eisein yang sabar itu kewalahan sendiri.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @Matiusx
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Suara bising dari auditorium utama perlahan meredam hingga ke ruang tunggu belakang panggung. Naomi duduk bersandar pada dinding abu-abu, menunduk menatap buket bunga berukuran besar yang memenuhi dekapannya. Perpaduan bunga putih, ungu muda, dan dedaunan segar itu tampak kontras di antara suasana backstage yang remang.

Di seberangnya, Eisein berdiri sambil bersandar santai. Tangan kirinya memegang ponsel dengan aplikasi BeReal yang aktif menyala, sementara tangan kanannya merapikan letak kacamatanya.

"Wait a moment, Naomi. Jangan bergerak dulu, ini pas momennya buat BeReal," kata Eisein dengan suara rendah bernada tenang, mengabadikan ekspresi Naomi yang sedang tersenyum tipis ke arah bunga pemberiannya.

Naomi mendongak, menatap layar kecil di ponsel Eisein sebelum kembali menunduk malu-malu ke arah buket bunga di pangkuannya. "Kamu tiba-tiba banget ngeluarin hp pas aku lagi meluk bunga. Kirain mau langsung ngajak pulang."

"This is called documentation. Siapa tahu besok-besok kamu lupa kalau pernah menang juara satu lomba bergengsi begini," balas Eisein santai, senyum tipis terukir di bibirnya. "Thank you for your hard work. Your performance was truly magnificent."

Naomi merapikan helaian rambut hitamnya, pipinya sedikit merona meski suaranya tetap terdengar lembut dan kalem. "Makasih banyak ya, Eisein. Aku tadinya sempat nervous tahu pas di belakang panggung. Untung kamu bawain bunga ini... it really made my day."

"My pleasure, Naomi. Memang sudah kewajiban saya memberi apresiasi untuk orang yang dari sebulan lalu lembur latihan terus," jawab Eisein, memasukkan ponselnya ke saku setelah foto berhasil terunggah. "Alright, now.. kamu pasti lelah, saya traktir es krim kesukaan kamu, mau?"

"Of course." Naomi mengangguk pelan, berdiri sambil mendekap buket bunganya erat-erat dengan senyuman yang enggan pudar dari wajahnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @fserena
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Eksperimen cooking date hari ini resmi berakhir dengan kekacauan kecil: meja makan penuh piring kotor dan sisa keju leleh di mana-mana. Alih-alih membiarkan Shayla membereskannya sendirian, Eisein langsung mengambil alih tugas cuci piring tanpa diminta.

Di seberang wastafel, Shayla berdiri sambil bersandar rileks, ponselnya terangkat untuk mengambil potret BeReal kilat. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lucu sambil mengedipkan satu mata ke arah kamera, mengabadikan momen pria kesayangannya yang sedang serius menyikat panci gosong.

"Duh, cowok siapa sih ini? Rajin banget," puji Shayla dengan nada manja, sengaja menggoda Eisein sambil memainkan ujung rambut pirangnya. "Mas nggak capek apa dari tadi berdiri terus? Aku lihatnya kaya gak enak gitu lho.. Sini, gantian, adek juga mau cuci piring."

Eisein melirik sekilas dari balik bahunya, menghentikan gerakan tangannya sebentar. Wajahnya datar, tapi matanya melembut.

"No need, sayang. Kamu duduk manis aja di situ. Biar Mas yang beresin semua," jawab Eisein dengan suara baritonnya yang tenang. "Nanti tangan cantiknya bau sabun cuci piring, Mas yang tidak selera."

Shayla langsung terkekeh gemas, pipinya bersemu merah mendengar gombalan tipis khas Eisein. Gadis itu mendekat, lalu dengan hati-hati menempelkan ibu jarinya yang bersih ke pipi Eisein yang tanpa sadar kena cipratan busa sabun.

"Mas ini kok pinter banget bikin adek salting? Tapi... thank you ya, Mas, udah nemenin masak hari ini. Meskipun tadi sempat hampir kebakaran gara-gara kompornya terlalu panas hehe," kata Shayla sambil nyengir lebar.

Eisein membiarkan sentuhan itu, lalu tersenyum tipis—pemandangan langka yang hanya dikeluarkan khusus untuk Shayla. Tangannya yang basah dilap sekilas ke kain serbet, lalu dengan lembut mencolek ujung hidung Shayla menggunakan sisa busa sabun.

"Siapa suruh tadi nekat mau masak sendiri tanpa baca resep dulu, hm? Untung Mas sigap, kalau nggak, apartemen ini udah rata sama tanah," balas Eisein lembut, meski nada meledeknya tetap kentara. "Sudah, tadi kamu bilang mau nonton film kan habis ini? Kenapa gak siapin camilan aja sekalian?"

Shayla mengerucutkan bibirnya pura-pura ngambek, tapi senyum bahagianya tak bisa disembunyikan. "Oh, iya! Adek kelupaan hehe. Oke deh!"

Gadis itu melompat kecil penuh semangat, meninggalkan Eisein yang geleng-geleng kepala pelan, merasa hidupnya mendadak jauh lebih berwarna berkat kehadiran sang kekasih.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ(E. 20, 48) | Ambition crowned in ashes,
                   guided by truth: @Sockb
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Angin laut sore berhembus kencang, membawa aroma garam dan kebebasan. Di tepi gulungan ombak yang besar, Eisein berdiri tanpa baju, celana panjang putihnya basah kuyup tersapu buih air laut. Kulitnya berkilat di bawah temaram matahari senja, sementara senyum lebarnya menghiasi wajahnya setelah berhasil menembus ombak tinggi.

Beberapa meter di belakangnya, di area pasir yang kering dan aman dari jangkauan air, Elliot duduk bersila di atas handuk pantai. Pemuda berambut basah dengan topi biru terbalik itu mengenakan kalung manik-manik warna-warni. Sambil memegang ponsel, Elliot membuka kamera depan untuk mengabadikan momen BeReal mereka sore itu—menangkap sosok Eisein yang tampak perkasa di tengah gempuran ombak, berbanding terbalik dengan dirinya yang memilih menepi.

"Eisein! Udah, dong! Ombaknya makin tinggi itu, nanti kamu terbawa arus beneran gimana?" panggil Elliot dengan suara lembutnya, sedikit berteriak agar menyaingi suara deburan ombak.

Eisein menoleh, tertawa renyah sambil mengibaskan rambutnya yang basah. Langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati bibir pantai, menjauhi buih air yang mengejar.

"Relax, El. Ombak segini mah kecil, nggak ada apa-apanya," seru Eisein tegas, suaranya penuh percaya diri. "Kamu dari tadi cuma duduk di situ terus. Sini, gabung ke air! Segar banget, sumpah. Rugi kalau ke pantai tapi cuma ngeliatin pasir."

Elliot menggeleng pelan, menarik lututnya lebih dekat ke dadanya dengan gestur defensif yang manis. Tatapannya menyiratkan keengganan yang kuat.

"No thanks. Saya cukup jadi penonton setia kamu saja dari sini," jawab Elliot lembut. "Kamu tahu sendiri saya kurang suka kalau badan lengket kena air asin. Dingin juga."

Eisein mendengus geli, lalu berjalan mendekati tempat Elliot duduk, meninggalkan jejak kaki basah di atas pasir. Dia menjatuhkan diri dengan santai di sebelah elliot, mengambil ponsel dari tangan temannya itu untuk mengecek hasil foto BeReal mereka.

"Kamu ini ya, punya jiwa petualang tapi penakut sama air laut," goda Eisein, melirik sekilas ke arah Elliot dengan tatapan hangat. "Tapi ya sudahlah, setidaknya kita sama-sama menikmati sore ini."

Elliot tersenyum tipis, "Makasih ya sudah mau nemenin saya ke sini, ternyata refreshing dan lepas dari pekerjaan sebentar itu perlu."

Eisein merangkul bahu Elliot sekilas dengan akrab. "Told ya, Mate. Istirahat buat kita yang hidupnya kerja terus itu memang wajib."