BEATIFYLE! CLOSE.
4.84K subscribers
4.55K photos
487 videos
8 files
2.77K links
“Adored Whole-Souled.”
Vol II: 📖 E.C (August, Eternal──Love.)
ㅤ☥ㅤ/ @BEATIFYLEORDERSBOT

Love comes when love feels treasured of being seasoned. As a way of dealing with @Beatifylemutualsbot, shall we bring the best @Beatifyletalent Into an ardent heart.
Download Telegram
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
@Nilrei fake date with (Talent Beatifyle by gpt)

SERAPHINA VON PAULINE:
Noah ketemu Seraphina di galeri kecil yang hampir kosong. Mereka jalan pelan dari satu lukisan ke lukisan lain, lebih sering diam daripada bicara. Tapi anehnya, diamnya nggak canggung.
Seraphina sesekali komentar hal sederhana, Noah nanggepin dengan cara yang bikin obrolan jadi lebih dalam tanpa terasa berat.
Habis itu mereka duduk di luar, hujan turun pelan, dan Seraphina cerita tentang hal-hal yang dia simpan terlalu lama. Noah dengerin dengan sabar, tatapannya hangat tapi nggak menuntut.
Waktu hujan berhenti, Noah bilang, “Kalau kamu mau, kita bisa diem bareng lagi lain kali.”
Seraphina tersenyum, dan Noah sadar—ini bukan kencan yang bikin jantung berisik, tapi yang bikin hati pelan-pelan tenang.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
@vespervolt, fake date with (Talent Beatifyle by gpt)

SIRENA MAHARANI:
Daniswara ngajak Sirena makan malam tanpa gimmick—restoran kecil, meja kayu, lampu kuning hangat. Obrolan mereka ngalir rapi, nggak terburu-buru, penuh jeda yang justru nyaman.
Sirena cerita tentang ambisi dan hal-hal yang ingin dia jaga, Daniswara menanggapi dengan cara yang tenang, seolah setiap kata dipikirkan dulu sebelum keluar.
Setelah makan, mereka jalan pelan di trotoar, bahu sejajar, langkah seirama. Nggak ada janji berlebihan, cuma kejujuran kecil yang terasa besar.
Di akhir malam, Daniswara bilang, “Aku suka caramu hadir—nggak ribut, tapi jelas.”
Sirena tersenyum, dan mereka pulang dengan perasaan cukup—bukan karena segalanya sempurna, tapi karena terasa tepat.
1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
@JagiyaP fake date with (Talent Beatifyle by gpt)

MIREBELLE ROSENBURG:
Damiara dijemput Mirebelle di sore hari dengan senyum yang hangat. Mereka pergi ke taman bunga yang belum terlalu ramai, jalan pelan sambil sesekali berhenti lihat bunga favorit masing-masing.
Mirebelle bawain sketchbook kecil, dan mereka saling menggambar hal-hal random—dari bunga sampai karakter lucu. Tawa mereka ringan, natural, nggak dibuat-buat.
Habis itu mereka duduk di bangku taman, minum cokelat panas dari termos kecil, ngobrol tentang mimpi-mimpi yang belum sempat mereka ceritain ke orang lain.
Sebelum pulang, Mirebelle nyenggol tangan Damiara dengan santai, bilang, “Kita ulang lagi ya, tapi lain kali aku yang masak minumnya.”
Damiara pulang dengan hati hangat, sadar kalau kencan yang paling manis bukan yang mewah, tapi yang bikin nyaman dan bisa jadi diri sendiri sepenuhnya.
💋1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
@dougghy, fake date with (Talent Beatifyle by gpt)

RALINE BYLANA:
Aerlysn ngajak Raline ke taman bunga sore-sore. Mereka berjalan di antara lorong bunga yang harum, sesekali berhenti untuk ambil foto atau ngelawak kecil.
Raline tipe yang spontan, suka nyenggol Aerlysn dengan komentar lucu, bikin Aerlysn ketawa sampai perut pegal.
Mereka duduk di bangku kayu sambil makan camilan, ngobrolin hal random—dari film favorit sampai impian absurd masing-masing.
Waktu matahari mulai tenggelam, Raline nyenggol Aerlysn pelan sambil bilang, “Besok ulang lagi ya?”
Aerlysn cuma senyum, dan rasanya hari itu terlalu hangat untuk diakhiri—tapi itu yang bikin kencan jadi sempurna.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
@yKalem, fake date with (Talent Beatifyle by gpt)

LEITH OCEAN:
Khaena ketemu Leith di tepi pantai saat matahari hampir tenggelam. Mereka nggak banyak bicara, cuma duduk di pasir, kaki kena ombak ringan.
Leith kadang nyengir tipis kalau Khaena komentar tentang hal-hal absurd, tapi biasanya dia lebih sering menatap laut, seakan memikirkan sesuatu yang jauh.
Mereka bawa teh hangat, minum perlahan sambil sesekali lempar guyonan kecil. Suasana santai tapi terasa intim, karena nggak perlu kata-kata banyak untuk ngerti satu sama lain.
Saat langit berubah jadi jingga gelap, Leith bilang, “Kalau kita selalu gini, mungkin dunia nggak terlalu ribet.”
Khaena tersenyum tipis, dan malam itu terasa… sempurna dalam kesederhanaannya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
@aReassure, fake date with (Talent Beatifyle by gpt)

ELLASËARY LOVENTHA:
Kayden ketemu Ellasëary di sore hari ketika langit mulai jingga, cahaya matahari menembus daun-daun tipis di taman. Mereka jalan pelan di sepanjang jalur berbatu, tangan hampir bersentuhan beberapa kali, tapi nggak langsung digenggam. Suaranya lembut, candanya ringan, tapi setiap kata yang ia ucap seolah menempel di pikiran Kayden.
Di sebuah sudut taman yang sepi, mereka duduk di bangku kayu. Ellasëary menyandarkan kepala sedikit ke bahu Kayden sambil menunjuk bunga-bunga liar yang tumbuh di sekeliling mereka.
Kayden menatap matanya dan tersenyum, menyadari bahwa kencan paling romantis nggak selalu tentang kejutan besar atau kata-kata manis—kadang cukup tentang kehadiran seseorang yang bikin dunia terasa sempurna.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
@Kaidser, fake date with (Talent Beatifyle)

TSANIA KAMANIYA:
Mereka ketemu sore di taman yang penuh bunga musim gugur, dedaunan jatuh pelan di sekitar kaki mereka. Tsania datang dengan senyum hangat, membawa buku puisi yang katanya ingin dibacakan ke Kalée. Mereka duduk di bangku kayu yang sedikit lapuk, dan Tsania mulai membacakan bait-bait sederhana tapi indah, sambil sesekali menatap Kalée—tatapan yang bikin detik-detik terasa lebih lama.
Kalée merasa nyaman, tertawa kecil ketika Tsania menambahkan komentar ringan tentang bunga yang jatuh di rambutnya. Mereka berjalan pelan menyusuri jalan setapak, saling mengaitkan lengan tanpa kata berlebihan. Saat senja datang, cahaya keemasan membuat dunia seakan berhenti sebentar, dan Tsania menggenggam tangan Kalée lebih erat, hanya untuk memastikan momen itu terasa abadi.
Malam itu mereka pulang tanpa drama, tapi Kalée tahu, *dream date* seperti ini—tenang, hangat, dan penuh perhatian—akan selalu teringat sebagai malam yang paling romantis.
1